News Musisi Kota Tasikmalaya Membutuhkan Wadah untuk Berkumpul  

Musisi Kota Tasikmalaya Membutuhkan Wadah untuk Berkumpul  

Sisiusaha (11/4)

Musik, sebagai salah satu sektor industri kreatif memegang peranan penting di berbagai kalangan, dan tak terkecuali generasi milenial. Musik, meski sering dianggap sektor yang kurang serius, namun telah berhasil mengenalkan sekaligus mempromosikan Indonesia di luar negeri.

Contohnya ada Superman Is Dead, band asal Bali yang pernah melakukan tur keliling Amerika Serikat. Ada juga White Shoes and the Couples Company yang manggung mengitari beberapa kota di Eropa. Kemudian The Sigit, band asal Bandung, yang sudah beberapa kali diundang bermain di Australia dan Amerika Serikat. Serta Pee Wee Gaskins yang sempat membawa nama Indonesia di festival musik di Jepang.

Dari gambaran di atas, tentunya banyak generasi milenial yang ingin ikut serta dalam kontestasi permusikan Indonesia. Tak terkecuali musisi dari Kota Tasikmalaya. Ocha, seorang pemain keyboard yang memiliki band beraliran folk-pop ini menginginkan bandnya bisa membawa nama Tasikmalaya ke seluruh Indonesia, dan bahkan dunia.

Namun, mahasiswa Ilmu Politik di Universitas Siliwangi ini merasa ada kendala menjadi musisi di Kota Tasikmalaya. “Yang pasti kami (musisi Kota Tasikmalaya) belum punya wadah untuk berkumpul, bertukar ide, dan memperluas jaringan. Kemudian juga tidak ada dukungan riil kepada kami para musisi dari Pemerintah Kota. Padahal, industri musik kalau dibawa serius akan berdampak positif,” jelas Ocha.

Keluhan Ocha tersebut, menurutnya, juga dirasai oleh musisi lain di Kota Tasikmalaya. “Banyak teman-teman yang membentuk band sekarang. Apalagi semenjak kemajuan musik folk di Indonesia. Tapi, mereka pada tersebar saja, bergerak sendiri masing-masing. Padahal kan kalau diorganisir kami bisa bersatu padu bermusik membawa nama kota Tasikmalaya,” tutur Ocha.

Lelaki penggemar The Beatles tersebut berpendapat, setidaknya Pemerintah Kota Tasikmalaya bisa meniru apa yang dilakukan Pemerintah Kota Bandung, contohnya dengan pembuatan Taman Musik. Ocha mengaku, geliat industri di Kota Tasikmalaya cukup tinggi, sehingga harus diakomodir oleh Pemerintah.

“Menurut saya sih keseriusan Pemerintah Kota Tasikmalaya di sektor musik masih diangka 30%, sedangkan di Bandung mungkin sudah melebihi 70%,” kata Ocha. Meski demikian, jika mendapat kesempatan untuk pindah ke Bandung, Ocha akan menolaknya saat ini. Ia mengatakan, sebagai warga asli Kota Tasikmalaya dirinya ingin lebih dulu memajukan industri musik di Tasikmalaya. (WeBe)

 

Berita Terkait: 

Pemerintah Kota Tasikmalaya Harus Serius Perhatikan Industri Kreatif

Rekomendasi

Baca Juga