Trivia Mengenal Penyakit Rubella, Penyebab, Gejala dan Pengobatan

Mengenal Penyakit Rubella, Penyebab, Gejala dan Pengobatan

sisiusaha (05/8)

creative people.. Mulai tanggal 1 Agustus ini, Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan melaksanakan program imunisasi nasional vaksinasi gratis campak dan Rubella. Namun masih banyak yang belum memahami apa itu penyakit rubella, untuk itu ada baiknya kita mengenal terlebih dulu penyakit rubella, penyebab, gejala dan pengobatannya.

Vaksinasi akan diberikan di sekolah-sekolah tingkat SD dan SMP di enam provinsi di pulau Jawa. Sementara di luar Pulau Jawa akan dilaksanakan mulai tahun depan. Menurut data Kementerian Kesehatan, sasaran dari program imunisasi ini 75 persen di antaranya berusia 7-15 tahun. Sisanya berusia enam tahun ke bawah.

Masyarakat khususnya para orang tua banyak yang belum mengetahui efektivitas vaksinasi campak dan rubella harus diberikan secara berulang. Imunisasi campak dan rubella dapat memberikan kekebalan yang sangat tinggi, hingga lebih dari 90 persen. Namun vaksinasi harus dilakukan berulang.

Rubella atau campak Jerman adalah infeksi virus yang ditandai dengan ruam merah pada kulit. Rubella umumnya menyerang anak-anak dan remaja. Di Indonesia sendiri, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) melaporkan bahwa terdapat lebih dari 400 kasus rubella yang tercatat pada tahun 2011.

Penyakit ini disebabkan oleh virus rubella dan dapat menyebar dengan sangat mudah. Penularan utamanya dapat melalui butiran liur di udara yang dikeluarkan penderita melalui batuk atau bersin. Berbagi makanan dan minuman dalam piring atau gelas yang sama dengan penderita juga dapat menularkan rubella. Sama halnya jika Anda menyentuh mata, hidung, atau mulut Anda setelah memegang benda yang terkontaminasi virus rubella.

Walau sama-sama menyebabkan ruam kemerahan pada kulit, rubella berbeda dengan campak. Penyakit ini biasanya lebih ringan dibandingkan dengan campak. Tetapi jika menyerang wanita yang sedang hamil, terutama sebelum usia kehamilan lima bulan, rubella berpotensi tinggi untuk menyebabkan sindrom rubella kongenital atau bahkan kematian bayi dalam kandungan. WHO memperkirakan tiap tahun terdapat sekitar 100.000 bayi di dunia yang terlahir dengan sindrom ini.

Sindrom rubella kongenital dapat menyebabkan cacat lahir pada bayi, seperti tuli, katarak, penyakit jantung kongenital, kerusakan otak, organ hati, serta paru-paru. Diabetes tipe 1, hipertiroidisme, hipotiroidisme, serta pembengkakan otak juga dapat berkembang pada anak yang terlahir dengan sindrom ini.

Gejala Rubella
Penderita rubella pada anak-anak cenderung mengalami gejala-gejala yang lebih ringan daripada penderita dewasa. Tetapi ada juga penderita rubella yang tidak mengalami gejala apa pun dan tetap dapat menularkan rubella. Penyakit ini umumnya membutuhkan waktu sekitar 14-21 hari sejak terjadi pajanan sampai menimbulkan gejala. Gejala-gejala umum rubella meliputi:

  1. Demam.
  2. Sakit kepala.
  3. Hidung tersumbat atau beringus.
  4. Tidak nafsu makan.
  5. Iritasi ringan pada mata.
  6. Pembengkakan kelenjar limfa pada telinga dan leher.
  7. Ruam berbentuk bintik-bintik kemerahan yang awalnya muncul di wajah lalu menyebar ke badan, tangan, dan kaki. Ruam ini umumnya berlangsung selama 1-3 hari.
  8. Nyeri pada sendi, terutama pada penderita remaja wanita.

Begitu terinfeksi, virus akan menyebar ke seluruh tubuh dalam waktu 5 hari hingga 1 minggu. Masa penularan tertinggi penderita rubella biasanya pada 1-5 hari setelah ruam muncul. Jika mengalami gejala-gejala di atas, segera periksakan diri ke dokter.

Diagnosis Rubella
Ruam kemerahan akibat rubella memiliki karakteristik yang mirip dengan ruam-ruam lain. Guna memastikan diagnosis, dokter biasanya mengambil sampel air liur atau darah untuk diperiksa di laboratorium.
Tes tersebut digunakan untuk mendeteksi keberadaan antibodi rubella. Apabila terdapat antibodi IgM, berarti Anda sedang mengidap rubella. Sedangkan keberadaan antibodi IgG menandakan bahwa Anda pernah mengidap rubella atau sudah menerima vaksinasi.

Pemeriksaan rubella juga bisa dimasukkan dalam serangkaian tes prenatal untuk ibu hamil, khususnya untuk yang berisiko tinggi. Pemeriksaan ini dilakukan melalui tes darah.

Jika ibu hamil didiagnosis mengidap rubella, pemeriksaan lanjutan yang mungkin dianjurkan adalah USG dan amniosentesis. Amniosentesis adalah prosedur pengambilan dan analisis sampel cairan ketuban untuk mendeteksi kelainan pada janin.

Penanganan Rubella
Rubella tidak membutuhkan penanganan medis khusus. Pengobatan dapat dilakukan di rumah dengan langkah-langkah sederhana. Tujuannya adalah untuk meringankan gejala, namun bukan untuk mempercepat penyembuhan rubella. Berikut ini sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan.

  1. Beristirahatlah sebanyak mungkin.
  2. Minum banyak air putih untuk mencegah dehidrasi.
  3. Mengurangi nyeri dan demam. Penderita dapat mengonsumsi paracetamol atau ibuprofen untuk menurunkan demam dan meredakan nyeri pada sendi.
  4. Minum air hangat bercampur madu dan lemon untuk meredakan sakit tenggorokan dan hidung beringus.

Pencegahan Rubella
Pencegahan rubella yang paling efektif adalah dengan vaksinasi, terutama bagi wanita yang berencana untuk hamil. Sekitar 90 persen orang yang menerima vaksin ini akan terhindar dari rubella. Sejak adanya program vaksinasi, jumlah kasus rubella yang tercatat secara global berkurang secara signifikan.

Di Indonesia, pencegahan rubella tergabung dalam vaksin kombinasi MMR yang juga mencegah campak dan gondong. Vaksin ini termasuk dalam daftar imunisasi wajib bagi anak di Indonesia dan diberikan sebanyak 2 kali dengan pembagian sebagai berikut:

Tahap pertama waktu anak berusia 15-18 bulan dengan jarak 6 bulan dari imunisasi campak. Tahap kedua dilulang pada saat anak berusia 6 tahun. Wanita yang merencanakan kehamilan juga dianjurkan memeriksakan diri melalui tes darah. Jika hasil tes menunjukkan bahwa seorang wanita belum memiliki kekebalan terhadap rubella, dokter akan menganjurkannya untuk menerima vaksin MMR.

Setelah itu, dia harus menunggu minimal 4 minggu untuk hamil. Harap diingat bahwa vaksinasi ini tidak boleh dijalani saat sedang hamil. Selain vaksin, mencegah penularan dan penyebaran rubella juga penting.

Cara-caranya adalah hindari kontak dengan penderita sebisa mungkin, khususnya untuk ibu hamil yang belum menerima vaksin MMR dan orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah. Pindahkan penderita ke ruangan terpisah yang jauh dari anggota keluarga. Menjaga kebersihan diri, misalnya selalu mencuci tangan sebelum makan, setelah bepergian, atau jika terjadi kontak dengan penderita. (RED)


sumber: alodokter.com

Rekomendasi

Baca Juga


jadwal-sholat