Trivia Kreativitas, Membuat Wanita Ini Sukses Bisnis Tas Unik Kombinasi Batik dan Kulit

Kreativitas, Membuat Wanita Ini Sukses Bisnis Tas Unik Kombinasi Batik dan Kulit

sisiusaha (03/8)

creative people.. Kreativitas sesungguhnya merupakan modal dasar bagi seorang pengusaha pemula, seperti yang dilakukan oleh Susi, pemilik Java Ume, yang memiliki ide mengkombinasikan batik dan kulit di dalam satu tas sekaligus.

Susi menyebut awal mulanya tetarik berbisnis ini karena melihat potensi batik yang banyak diincar pembeli. Batik yang digunakan adalah batik tulis dari Yogyakarta, Madura, dan Cirebon.

Selain berbahan batik, dia juga membuat tas berbahan kain tenun yang berasal dari Bali, Lombok, dan Jepara. Sementara itu, kulit yang digunakan merupakan kulit sapi dan domba yang didapat dari supplier di Jakarta.

"Awalnya saya sama teman lagi iseng, batik lagi mulai di pakai orang-orang, kita coba tas kulit sudah banyak, pake batik untuk tas juga banyak. Akhirnya kita mulai kombinasikan mulai dari cari bahannya dan pengrajinnya akhirnya dapat di Jakarta," kata Susi di pameran Indocraft 2016, JCC, Senayan, Jakarta Pusat, tahun 2016 lalu.

Ia mulai merintis usahanya dengan satu temannya dengan modal Rp 20 juta pada tahun 2015 lalu. Saat itu produknya didaftarkan di Kementerian Hukum dan HAM untuk mendapatkan paten HKI (Hak Kekayaan Intelektual). Tujuannya, agar produknya dapat masuk menjadi supplier di Debenhams departement store Kemang Village.

"Modal awalnya nggak banyak sekitar Rp 20 jutaan, kita mulai masuk Debenham, waktu itu kita pikir kita seriusi mulai register brand-nya ke HKI karena untuk masuk Debenham harus izin perdagangan berlabel Indonesia waktu itu bulan Februari 2016," ujar Susi.

Namun, karena Kemang Village tutup, produknya masih menjadi waiting list di Debenham cabang lain. Meski begitu, Susi tetap berusaha memasarkan produknya ke hotel bintang lima seperti Hotel Fairmont dan Hotel Grand Melia.

"Akhirnya kita coba lagi ke tempat lain, akhirnya coba di Hotel Fairmont Senayan Jakarta dan Grand Melia Kuningan kita coba segmen menengah ke atas karena yang punya butik itu cuma sedikit," imbuhnya.

Di Fairmont dan Grand Melia produknya baru masuk pada Oktober lalu. Dia bahkan mendapat permintaan untuk membuat clutch bag atau tas berukuran kecil karena segmentasinya adalah traveller.

"Pihak hotel meminta kami membuat clutch bag karena kalau terlalu besar itu susah bawa pulangnya ya sudah kita coba yang kecil, karena mereka kan traveling," imbuhnya.

Untuk mengkombinasikan antara kulit dan batik atau pun tenun, sebelumnya dibentuk dulu pola dan bagaimana pembagian porsi antara batik dengan kulitnya. Setelah itu baru ditentukan penjahitan kulitnya untuk disatukan dengan batik atau tenunnya.

"Sebenarnya sama saja seperti buat polanya gimana bagian batiknya di mana, lalu di bagian dalamnya kalau mau keras dilem, bahan di dalam ada kain suede, dijahit dijadikan satu, itu seninya pembuat tasnya itu mesti banyak diskusi dengan pengrajin supaya nggak salah," kata Susi.

Ia menargetkan satu hari satu orang pengrajin dapat memproduksi 1 tas dengan kualitas yang baik. Sebenarnya jika ditekan produksinya bisa 3 dalam sehari tetapi ia lebih mementingkan kualitasnya.

"Saya targetkan satu pengrajin satu hari bisa jadi 1 kalau misalnya maksimal 3. Makanya yang saya produksi untuk kualitas butik karena harus rapi banget," imbuhnya.

Saat ini ia memiliki karyawan kurang dari 10 orang. Akan tetapi, dia sedang menjajaki bisnis di Italia dan Rusia agar dapat ekspor ke negara tersebut saat ini sedang berproses mencari distributor.

"Kita lagi mau coba ke luar, partner saya ada di Italia, ada teman juga lagi mau kerjasama di Rusia. Sekarang sedang mencari distributor di Rusia masih proses," imbuhnya. Range harga yang dipatok sekitar Rp 700.000 - Rp 3 juta. Dalam satu tahun terakhir ini omzetnya mencapai Rp 100 juta. (RED)

Rekomendasi

Baca Juga