Trivia Lika-liku Pendiri First Travel Jadi Miliader Hingga Distop OJK

Lika-liku Pendiri First Travel Jadi Miliader Hingga Distop OJK

sisiusaha (22/7)

creative people.. Satuan Petugas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memutuskan untuk menghentikan kegiatan penghimpunan dana masyarakat dan pengelolaan investasi tanpa izin yang dilakukan PT First Anugerah Karya Wisata (First Travel) dan sepuluh entitas lainnya.

First Travel harus menghentikan penawaran perjalanan umroh yang saat ini ditawarkan Rp.14,3 juta. Kendati demikian, First Travel tetap dizinkan memberangkatkan peserta untuk umroh. Peserta pun dapat meminta pengembalian dana yang wajib dilaksanakan First Travel dalam waktu 30 hari hingga 90 hari kerja.

Rencana Pemberangkatan Umroh setelah musim haji, yakni pada November dan Desember 2017 masing-masing 5.000 sampai 7.000 jemaah disampaikan pada OJK di September 2017. Sedangkan pemberangkan umroh setelah Januari 2018 disampaikan paling lambat Oktober 2017.

Tahun 2017 seperti menjadi klimak bagi First Travel. Di usianya yang hampir menginjak delapan tahun pada Juli ini, sang punggawa Andika, baru saja mendapat ujian berat karena usahanya bermasalah dengan OJK sampai harus di hentikan operasionalnya.

Membawa perusahaan menggapai puncak kesuksesan dalam kurun waktu tujuh tahun dianggap banyak orang mustahil, bahkan terlalu singkat. Namun tidak bagi pasangan suami istri Andika dan Anniesa. Keduanya mengaku, ini merupakan proses panjang, penuh liku dan menguras air mata.

Anniesa mengaku, ide membuka agen perjalanan umroh berawal dari cibiran hingga kecemburuan tetangga saat dia berjualan pulsa dan burger di pinggir jalan. Andika pun mengawali karir sebagai penjaga mini market karyawan bank honorer dan lainnya. "Dari usaha jualan pulsa dan burger, modal awal saya gadai motor suami. Tapi ternyata kurang mencukupi dan selalu disiriki oleh rekan seprofesi, akhirnya kami banting setir buka usaha travel wisata domestik dan internasional hingga merambah umroh di 2009," ucapnya.

Membuka bisnis biro perjalanan bukan perkara mudah. Pasangan ini harus mengantongi izin usaha, mendirikan CV First Karya Utama pada 1 Juli 2009 dengan biaya sangat besar. Untuk merealisasikannya, Anniesa nekad menggadai rumah Almarhum sang Ayah. "Rumah Armarhum Ayah saya digadai dapat uang Rp 50 juta buat modal. Itu cuma habis buat biaya operasional sampai akhirnya nggak bisa bayar bunga bank dan rumah itu disita. Tapi saya nggak mau tutup kantor, sehingga saya jadikan garasi rumah sebagai kantor," kenang Anniesa.

Andika dan Anniesa tak tahu lagi sudah berapa kali mereka harus merasakan sakit hati karena penipuan termasuk dari karyawannya. Bangkrut, hidup nomaden berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain, jarang makan adalah pemandangan biasa bagi keluarga mereka di mata tetangga. Kesedihan selalu meraungi jiwa dan batin mereka, seolah tak mau pergi dalam kurun waktu tiga tahun (2009-2011). Saat itu, usia Andika baru menginjak 22 tahun dan harus memikul beban berat di pundak.

"Sangat berat menjalani usaha. Kita menghadapi berbagai macam penipuan, kebangkrutan, hidup susah, nggak punya uang, utang sampai ratusan juta rupiah, rumah disita, pindah kontrakan satu ke kontrakan lain untuk menyambung hidup, makan nggak tentu. Dan itu berlangsung selama tiga tahun, nggak pernah ngalamin yang enak," sambung Andika.

Penderitaan bertubi-tubi memupus harapan Andika dan Anniesa melanjutkan bisnis tersebut. Bahkan sempat terlintas dalam benak mereka untuk mengakhiri hidup karena tak sanggup menanggung kepedihan itu. Bersyukur, keputusasaan tak lama bersemayam di hatinya. Anak dan keluarga membukakan mata mereka agar terus berjuang menyongsong masa depan.

Bangkit dari keterpurukan, Andika dan Anniesa mulai bergerilya. Pada 2011, keduanya agresif menyebar dan menawarkan jasa perjalanan umroh ke berbagai instansi, perorangan di seluruh Indonesia. Tuhan pun membukakan jalan, penawaran mereka direspons oleh sejumlah karyawan PT Pertamina (Persero) pada 2012. Dan pelayanan memuaskan First Travel menyebar dari mulut ke mulut hingga dipercaya oleh jamaah lainnya, seperti karyawan Bank Indonesia dan merembet ke korporat besar lain.

Kini, bendera First Travel telah berkibar. Andika dan Anniesa mampu meretas bisnis agen perjalanan umroh hingga bertumbuh pesat dalam kurun waktu tujuh tahun. First Travel saat ini melayani perjalanan umroh reguler dan five star serta haji. Andika mengatakan, First Travel memiliki program promo bagi orang-orang yang mempunyai keterbatasan materi. Artinya ada harga khusus untuk menyasar segmen ini tanpa mengambil keuntungan sepeser pun.

"Paket harga sama saja, ada VIP dan reguler. Tapi kami punya program promo non profit oriented. Jika harga normal dipatok US$ 2.200 atau Rp 28 juta per orang, maka harga promo ini cuma Rp 15 juta-Rp 16 juta," paparnya.

Sejak 2012, biro perjalanan ini telah memberangkatkan jamaah hingga 800 orang. Jumlahnya semakin meningkat signifikan menjadi 3.600 orang pada tahun 2013 dan dipercaya memberangkatkan hingga 14.700 jamaah di 2014. Andika menargetkan 35.000 orang jamaah diberangkatkan ke Tanah Suci pada tahun ini. Akhir tahun 2014, First Travel meraih rekor MURI sebagai Manasik Akbar Umrah Terbesar yang pernah ada di Indonesia (dihadiri oleh 35.000 jamaah di Gelora Bung Karno Senayan).

"Nggak ada tips usaha, semua mengalir saja. Tapi dari program sama dengan travel lain, kami hanya berusaha memaksudkan pelayanan, memberi yang terbaik, melayani sepenuh hati, menganggap jamaah adalah keluarga yang harus dilayani dengan hati mulai dari tim di kantor sampai di Saudi Arabia," ujar Andika.

Dengan target pemberangkatan jamaah sebesar itu, Andika yakin dapat mengantongi pendapatan kotor dari agen perjalanan umroh sebesar US$ 40 juta atau Rp 504 miliar (kurs Rp 9.600) pada 2015. Angka itu diperkirakan meningkat dua kali lipat dari capaian omzet tahun 2014 sebesar US$ 20 juta.

Ambisi lain dari peraih penghargaan Business & Company Winner Award 2014 untuk kategori "The Most Trusted Tour & Travel" itu adalah membuka paling sedikit 50 kantor cabang di seluruh Indonesia, untuk menambah satu kantor cabang saat ini. Sebab Andika optimistis, animo jamaah Indonesia untuk umroh sangat tinggi mengingat seseorang harus menunggu bertahun-tahun apabila ingin melaksanakan ibadah Haji.

Untuk itulah Andika membutuhkan modal yang lebih besar dan mencoba melakukan terobosan dengan menggalang dana masyarakat, namun ternyata nasib berkata lain, hingga akhirnya pada tahun 2017 tercium oleh OJK bahwa First Travel melakukan pelanggaran izin usaha kegiatan penghimpunan dana masyarakat dan pengelolaan investasi tanpa izin. (RED)


sumber: Ayopreneur.com dan lainnya

Rekomendasi

Baca Juga