Trivia Membeli 'Gengsi Dan Status Sosial' Untuk Lebaran

Membeli 'Gengsi Dan Status Sosial' Untuk Lebaran


sisiusaha (28/5)

creative people.. Saat saat menjelang lebaran merupakan masa panen bagi bisnis, dari mulai bisnis fashion sampai dengan kue kering. Dapat dipastikan pada saat lebaran hampir disetiap orang berkeinginan untuk memiliki dan mengenakan sesuatu yang baru serta yang terbaik. Untuk itu mereka rela mengeluarkan anggaran belanja besar untuk membeli "gengsi dan status sosial" untuk lebaran.

Ajang pertunjukan gengsi dan status sosial seseorang pada saat lebaran ini tidak hanya melalui baju lebaran serta semua atribut berlebaran termasuk sandal, sepatu, tas, parfum sampai dengan mukena dan peralatan sholat Ied lainnya. Namun juga toples kue lebaran yang terpampang merek bergengsi ketika ditawarkan kepada para tamu yang berkunjung.

Walaupun hal ini dapat menurunkan nilai kesucian hati pasa saat lebaran yang dikarenakan adanya rasa pamer dan kesombongan, namun tetap saja banyak orang yang sengaja dan secara sistematis mempersiapkannya.

Setelah berpuasa selama bulan ramadhan, dimana semua sikap terjaga dengan baik, akankan memalui pamer dan kesombongan yang dibalut dengan life style mengawali 1 syawal saat berlebaran fitri. Bukankah hakikat merayakan hari lebaran 1 syawal adalah dengan kesucian serta kerendahan hati, dimana saat itu seharusnya memulai menjalankan sikap mulia yang sudah diasah selama bepuasa.

Tak ada yang salah dalam merayakan iedul fitri dengan bermewah-mewahan asalkan tidak berlebihan serta tidak juga ada maksud untuk pamer apalagi menyombongkan diri. Semua harus sesuai dengan kemampuan dan keseharian yang selalu dijalaninya masing-masing orang. Akan tetapi menjadi berbeda saat lebaran terkesan memaksakan harus dengan sesuatu yang bergengsi dengan tujuan adanya pengakuan tingkat sosial.

Masing-masing orang memiliki standar yang berbeda, bagi orang kaya sudah sangat terbiasa mengenakan busana bermerek atau menikmati makanan bercita rasa tinggi yang harganya selangit. Pada kalangan ini tentunya tidak ditemukan perbedaan yang mencolok antara kehidupan keseharian dengan saat berlebaran.

Namun bagi kalangan lainnya yang terkesan memaksakan berlebaran dengan standar tinggi, tentunya akan menjadi persoalan sendiri, bukan karena tidak berhak merasakan standar life style tinggi, namun dapat mempengaruhi kesucian hati dan niat saat berlebaran. Hal ini dikarenakan bukan sebuah kebiasaan kesehariannya, sehingga mudah muncul rasa pamer dan manipulatif kesombongan secara samar dalam hatinya.

Rasa pamer dan kesombongan inilah yang berbahaya dan harus dihindari pada saat berlebaran. Untuk itu sebaiknya kembali bertanya kepada diri dan hati kita masing-masing, apakah akan merayakan lebaran dengan seuatu yang baru dan bagus sesuai dengan kemampuan dan berdasar dengan keseharian ataukah berlebaran untuk mengejar status sosial "semu" dengan memaksakan diri.? (M Abduh Baraba)

Rekomendasi

Baca Juga