Trivia Setyo Widiantoko, Perajin Sadel Ukir Bertato Asal Malang Go International

Setyo Widiantoko, Perajin Sadel Ukir Bertato Asal Malang Go International

sisiusaha (09/3)

creative people.. Ada sebuah ungkapan "jangan menilai buku dari covernya", hal ini sepertinya cocok ketika ditujukan kepada Setyo Widiantoko, perajin sadel ukir bertato asal kota Malang yang karyanya telah go Internasional. Pria yang terkesan sangar dengan tatonya asal Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, ini jago membuat sadel dari bahan kulit dengan ukiran yang indah. Bahkan, karyanya diminati modifikator sepeda motor (builder) dari dalam maupun luar negeri.

Setyo Widiantoko terlihat santai namun cekatan ketika mengukir sadel dari bahan kulit, dari hasil ukirannya, jadilah sebuah karya sadel ukir dengan ikon motor Harley Davidson. Sadel berbahan kulit dengan ukiran khas yang dibuatnya itu muncul dari kecintaan Setyo terhadap dunia motor modifikasi.

Sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP), Setyo mengaku memang menyukai seni lukis dan pahat. Bagi dia, hasil kerajinan tangan pasti lebih indah daripada karya yang dibuat menggunakan mesin. Saat itu, dia masih iseng-iseng membuat karya lukis. Inspirasinya pun makin berkembang saat Setyo benar-benar terjun di dunia motor modifikasi.

Sekitar 2002 silam, motor buatan Jerman miliknya dia modifikasi agar tampilannya terlihat nyentrik. Dia membuat sadel motornya dengan ukiran tengkorak warna kuning cerah. dari situlah ternyata banyak teman-teman yang suka. Akhirnya meminta untuk dibuatkan. Pernyataan dari teman-temannya itulah yang menjadi modal awal dirinya terjun pada seni yang digeluti saat ini ucap Setyo yang lahir pada 2 Januari 1978.

Saat itu, dia masih belum begitu mendalaminya, karena harus mencari bahan dan konsep yang tepat. Mulailah Setyo browsing (mencari-cari) di internet untuk mengetahui konsep yang diminati banyak kalangan. ”Di Malang, setahu saya belum ada yang seperti ini (membuat sadel kulit ukir). Jadi, ini merupakan peluang bagi saya,” ujarnya. Setyo lalu memanfaatkan peluang tersebut hingga hasil karyanya laku di pasaran internasional.

Dia menyatakan, sudah ada sekitar 400 hasil karya Setyo yang dikagumi pencinta motor modifikasi. Apalagi, saat dirinya membuat Batik Tooled Leather pada 2015. ”Batik itu konsep saya sendiri. Saya terinspirasi dari banyaknya batik di Malang yang sudah dikenal secara internasional,” tandasnya.

Untuk motif Harley Davidson, dia kerjakan sesuai pemesan asal Australia. Tidak hanya itu, konsep-konsep lain juga diminati banyak orang asing. Dia menyebutkan, Malaysia dan Australia merupakan pasar yang sering memesan hasil karyanya. Selain itu, Setyo juga sudah menjadi langganan builder (modifikator motor) nasional, yaitu dari Jakarta, Medan, Surabaya, Bali, dan sejumlah daerah lainnya.

Banyak yang menganggap ilustrasi dan pencampuran warna yang dia buat itu berbeda dengan para perajin lain di luar negeri. Untuk masalah harga, sebenarnya hasil karyanya relatif murah. Untuk membuat sadel ukir yang mudah, dia membanderolnya dengan harga sekitar Rp 900 ribu per karya. Sedangkan untuk pembuatan ukiran yang sulit bisa mencapai Rp 1,5 juta per sadel.

Dalam seminggu, Setyo bisa merampungkan sekitar 2–3 sadel ukir. Bahkan, untuk motif yang dia anggap mudah, hanya butuh setengah hari untuk membuatnya. ”Saya mengerjakannya sendiri. Santai saja karena ini hobi,” ungkapnya. Untuk bahan, Setyo mencari kulit dengan kualitas ekspor. Setelah dia membuat sketsa, mulailah mengukir. Proses selanjutnya, dia mencetak dengan pelat besi. Lalu dia tempelkan sadel kulit tersebut dan diwarnai. Kemudian hasil tersebut dijahit dengan benang dan dibuat mengilat. ”Saya pakai warna alami dengan bahan kulit kualitas ekspor dari Malang,” lanjutnya.

Menurutnya, salah satu pabrik kulit di Malang sebagai yang terbaik. Kulit sapi dari pabrik tersebut dinilainya empuk dan mempermudah hasil pengerjaan sadel ukir. Karena untuk kualitas kulit dari luar kota, kata Setyo, terlalu kaku karena menggunakan kulit sapi lokal. ”Ya jelas kalau kulit yang empuk dari kulit lembu. Ya, Malang rajanya,” lanjut dia. Sedangkan untuk pewarnaan, Setyo lebih memilih pewarna alami dari akar bakau, karat paku, batu putih, dan kolaborasi dengan vernis. (MAB/RED)

sumber&foto: radarmalang

Rekomendasi

Baca Juga