Trivia W.S. Rendra: Potret Pembangunan Dalam Puisi

W.S. Rendra: Potret Pembangunan Dalam Puisi

sisiusaha (03/2)

creative people.. Jauh sebelum saat ini, kegalauan kepada ketidakadilan oleh penguasa sudah terjadi, mencari cara bersuara menjadi kesibukan dalam ketidakpastian. Begitu juga W.S. Rendra, Almarhum penyair tanah air kawakan ini lantang dengan puisi-puisi kritikan, salah satu karyanya adalah Potret Pembangunan Dalam Puisi.

Kumpulan puisi kritikannya tersebut telah dibukukan oleh Penerbit PT. Dunia Pustaka Jaya, Jakarta pada tahun 1993 (cetakan 1) dan salah satu judul puisi yang menggelitik adalah Aku Tulis Pamplet Ini.


Aku tulis pamplet ini
karena lembaga pendapat umum ditutupi jaring labah-labah.
Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk dan ungkapan diri ditekan menjadi peng-iya-an.

Apa yang terpegang hari ini bisa luput esok pagi.
Ketidakpastian merajalela.
Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki, menjadi marabahaya, menjadi isi kebon binatang.

Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi, maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam.
Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.
Tidak mengandung perdebatan.
Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan.

Aku tulis pamplet ini karena pamplet bukan tabu bagi penyair.
Aku inginkan merpati pos.
Aku ingin memainkan bendara-bendara semaphore di tanganku.
Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.

Aku tidak melihat alasan kenapa harus diam tertekan dan termangu.
Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar.
Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.

Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran?
Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan.
Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.

Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api.
Rembulan memberi mimpi pada dendam.
Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah yang teronggok bagai sampah.
Kegamangan.
Kecurigaan.
Ketakutan.
Kelesuan.

Aku tulis pamplet ini karena kawan dan lawan adalah saudara.
Di dalam alam masih ada cahaya.
Matahari yang tenggelam diganti rembulan.
Lalu besok pagi pasti terbit kembali.
Dan di dalam air lumpur kehidupan, aku melihat bagai terkaca: ternyata kita, toh, manusia!

 

Pejambon, 27 April 1978

Rekomendasi

Baca Juga


jadwal-sholat