Trivia Sejarah Durian Ucok Medan, Yang Pelanggannya Pejabat hingga Artis

Sejarah Durian Ucok Medan, Yang Pelanggannya Pejabat hingga Artis

sisiusaha (18/10)

creative people.. Belum ke Medan kalau tidak mampir ke Ucok Durian, itulah Ungkapan merek warung durian milik Zainal Abidin atau karib disapa Ucok yang sudah melegenda sekarang ini di kota Medan, Sumatera Utara.

Kedai Ucok memang bisa dibilang cukup berumur, sudah puluhan tahun. Meski demikian, namanya baru tenar dalam hitungan 10 tahun belakangan. Namun dulu Ucok juga merangkak dari bawah, memulai berjualan durian dari kaki lima. Jangan dilihat kondisi sekarang.

"Sekarang banyak yang datang ke sini. Ada pejabat, artis, ya macam-macam," ujar Ucok di kedainya. Kalau dirunut sejarahnya, kata Ucok, ia sudah berhadapan dengan durian sejak 34 tahun lalu. Namun, dia baru punya usaha sendiri sejak sekitar 25 tahun lalu.

Sukses jelas tidak datang begitu saja. Laiknya bisnis lain, kata Ucok, ada jatuh bangun dalam dia berjualan durian ini. "Usaha macam ini dulu kalau mau tambah modal dengan pinjam uang dari bank pasti tidak bisa. Mana ada bank yang percaya warung durian bisa besar dan menguntungkan," ungkap Ucok sembari tertawa.

Ucok teringat kembali saat-saat awal memulai warung duriannya. Mencari nafkah dari buah dengan kulit tebal berduri itu dilakoninya sejak ia putus sekolah. Teman-teman seusianya kala itu masih belajar di bangku sekolah menengah pertama (SMP), Ucok sudah berjualan durian.

"Pada 1980an awal, saya bantu-bantu para penjual durian di sepanjang Jalan Iskandar Muda, Medan," kata Ucok. Saat itu, lanjut Ucok, pedagang adalah petani yang menjual hasil panennya dan pedagang biasa yang membeli durian dari kebun-kebun milik petani di Sumatera. "Mereka tidak jualan tiap hari. Jadi kalau ada musimnya saja," ujarnya.

Di sana, tugas Ucok adalah mengangkut durian. Agar penghasilannya bertambah, ia tak hanya membantu satu orang tetapi sekaligus banyak pedagang. "Satu hari bisa dapat Rp 2.500 sampai Rp 10.000. Saat itu, uang segitu sudah besar dan bisa ditabung. Saya pikir lumayan juga ya asyik jual durian untungnya pasti banyak, bisa lima kali lipat yang saya dapat," tutur Ucok tentang awal kepikiran berjualan durian sendiri.

Sejak itu, kesempatan jadi kuli angkut dimanfaatkan Ucok untuk sekalian belajar. Pedagang-pedagang durian itu kerap mengajak Ucok keliling kampung untuk mencari daerah mana yang sedang musim. Sampai akhirnya, pada 1990an, Ucok mantap buka usaha.

Saat ini, warung durian Ucok memasok 6.000 buah durian setiap hari. Dari jumlah itu, penjualan dia sebut bagus kalau laku 3.000-an durian per hari. Resep suksenya, durian yang dirasa pembeli tak enak bisa ditukar. Tidak ada tambahan harga. "Kalau tidak enak atau tak sesuai selera bilang ya. Bisa ditukar. Sekarang kami tidak lagi bicara beli kucing dalam karung. Makan durian harus sesuai selera," tegas Ucok sambil meladeni pembeli.

Adapun nasib durian-durian yang terlanjur dibuka tetapi tak sesuai selera pembeli? Rupanya Ucok punya cara sendiri. Durian yang tak sesuai selera pembeli dia pasok ke usaha rumahan pembuat aneka camilan berbahan dasar buah durian. "Saya jual lagi pada pengusaha es krim, pancake, lempok, dan macam-macam (camilan lain) dengan harga miring," ungkap Ucok.

Selain itu, nilai lebih dari warung milik Ucok adalah buka 24 jam. Tak disangka, itu jadi dayatarik tersendiri. Kini, per hari Ucok bisa menjual minimal 1.000 buah durian. Harga yang ditawarkan variatif, mulai dari Rp 20.000 sampai Rp 50.000, tergantung ukuran dan rasa. (RED)

 

 

Rekomendasi

Baca Juga