Trivia Ojek Difabel Di Jogja 'Satu-Satunya Di Dunia'

Ojek Difabel Di Jogja 'Satu-Satunya Di Dunia'

sisiusaha (30/8)

creative people.. Ketika kaum difabel kesulitan mendapat pelayanan transportasi umum, di Jogja terdapat ojek difabel. Sebuah layanan ojek yang dirintis ini untuk menyediakan sarana transportasi yang nyaman untuk para difabel. Uniknya lagi karena para pengendaranya pun orang-orang yang punya kebutuhan khusus.

"Susah cari angkot, susah banget," kata Muryati seorang penjahit yang sudah berkursi roda sejak kecil. Muryati selalu kesulitan mendapat bus atau angkot yang berhenti untuk mengangkutnya. Ada tiga bus, Muryati melambai, tapi semua lewat begitu saja. "Mereka alasannya tidak ada krunya, jadi penumpang biasanya naik saja. Tapi kalau difabel seperti kita jelas kesulitan. Bosan, sedih, kecewa jadi satu." Kata Muryati.

Berangkat dari kebutuhan ini, Triyono seorang pengusaha berusia 35 tahun, merintis layanan ojek untuk para difabel. Triyono sendiri diserang polio ketika kecil dan kemudian harus menggunakan dua tongkat untuk berjalan. Dia mengerti betul bagaimana susahnya kaum difabel di jalan raya. "Hanya segelintir bus yang mau berhenti. Belum lagi ketika kita turun, belum sempat kaki menginjak, bus sudah jalan. Sudah banyak yang jatuh, saya juga pernah jatuh. Dari mana segi nyamannya untuk kita?" katanya.

Difa City Tour dan Transport dirintis Triyono sejak Desember tahun lalu dan kini telah mengoperasikan 15 motor yang dimodifikasi dengan tambahan bangku di samping. Layanannya tidak hanya terbatas untuk mengantar jemput para difabel, tetapi juga bisa mengantar orang-orang biasa dan turis untuk berkeliling Yogyakarta.

Muryati dan sebagian besar kaum difabel di Jogja mengaku tertolong karena dia tak perlu turun dari kursi roda untuk melakukan perjalanan. Ada motor yang bisa langsung mengangkut kursi roda miliknya. "Awalnya takut, karena biasanya saya naik ojek bisa pegangan pengendara. Kalau ini, saya di samping dan kadang melaju kencang, tapi lama-lama terbiasa juga." Ungkap Muryati.

Layanan ini bertambah istimewa karena para pengendara juga orang-orang yang berkebutuhan khusus. Sugiyono misalnya, punya keterbatasan sehingga telapak tangan kanannya tidak bisa menggenggam. Ada juga Suwardono yang agak pincang ketika berjalan tetapi bisa lancar mengendarai motor dengan surat izin mengemudi khusus.

"Kita unik, semua melibatkan difabel. Kita satu-satunya (ojek) di dunia yang betul-betul mengakomodasi para difabel," kata Triyono. Alasan inilah yang akhirnya membuat aktivis tuna netra seperti Pardiono memilih Difa dibanding ojek biasa. Ada rasa senasib sepenanggungan antara pengendara dan penumpang. "Bagaimana sulitnya mencari uang bagi orang disabilitas. Jadi saja ingin memberdayakan mereka juga. Apa gunanya saya menjadi aktivis penyandang disabilitas kalau saya tidak menggunakan jasa mereka? Kan non sense, ngapusi itu namanya," lanjut Triyono.

Para pengendara yang juga difabel membuat tiap motor jadi spesial juga, karena disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Ada motor misalnya, yang gasnya harus dipindah ke kiri karena tangan kanan pengendara tak bisa difungsikan. Dengan merekrut orang-orang dengan disabilitas untuk mengelolanya, Difa memberikan lapangan pekerjaan alternatif yang sebelumnya hanya bisa bekerja di sektor-sektor terbatas seperti menjahit, memijat atau membuat kerajinan. (RED)

Rekomendasi

Baca Juga