Trivia Cerita Lucu 17 Agustus-an

Cerita Lucu 17 Agustus-an

sisiusaha (17/8)

creative people.. Merdeka..!!! Kata itu yang sering muncul setiap memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia. Selain itu agenda rutinnya adalah bikin gapura kemerdekaan di hampir setiap pintu masuk suatu kampung, lomba agustusan, karnaval, pentas seni, makan nasi tumpeng bersama warga, dan tentunya upacara bendera 17 Agustus.

Namun dalam berbagai acara tadi ternyata ada cerita-cerita lucu seputar 17 Agustus yang tanpa sengaja muncul dalam obrolan ringan yang telah kami rangkum sebagai berikut:

Kisah Lucu Di Balik 17 Agustus 1945

Kita harus bersyukur merdeka Tahun ’45. Kalimat Semangat ’45 terdengar “Gagah”. Coba tahun ’69. Semangat ’69 terkesan “Menggagahi”. Kita bersyukur lagi, merdeka tanggal 17 Agustus, semua serba merah putih. Coba 14 Februari, pasti serba merah jambu. Beruntunglah Google belum lahir di tahun 1945, coba kalo dah ada, tentunya Belanda akan dengan mudah mencari “Cara Membatalkan Kemerdekaan RI” di Google search.

Pengalaman Perang

Saat 17 Agustus-an seorang kakek bercerita tentang pengalamannya waktu ikut perang pada jaman doeloe.

Kakek: "Dulu Kakek ikut perang. Waktu kakek dan teman-teman mo nyerang musuh pake pesawat, ternyata di tengah perjalanan pesawat kakek ditembaki musuh sehingga pesawat itu hancur. Semua yang ada dipesawat itu meninggal termasuk Pilotnya."

Cucu: "Lhoh kok, kakek sekarang masih hidup?"

Kakek: (dengan percaya diri) "Waktu itu Kakek ketinggalan pesawat!"

Menyanyikan Lagu 17 Agustus

Hari Peringatan Kemerdekaan Indonesia sudah semakin mendekat. Pemimpin paduan suara yang akan menyanyikan lagu Hari Merdeka (17 Agustus Tahun ’45) mulai kesal dengan kekeliruan yang dilakukan salah satu anggota paduan suara, Om Bagong.

Pemimpin Padus: "Ok, sekali lagi. satu, tiga."

Om Bagong: "Tujuh belas Agustus tahun empat limya."

Pemimpin Padus: "Stop, stop, stop. Om Bagong, coba ingat ya, bukan ‘limya’, tapi ‘li-ma’. Ok! Ok, sekali lagi."

Om Bagong: "Tujuh belas Agustus tahun empat li-m.a"

Pemimpin Padus: "Mantap, Om. Lanjutkan."

Om Bagong: "Itulah hari kemerdekaan kitya."

Tukang Nyontek

Pak Guru: "Pak, si Gareng anak Bapak kerjaannya nyontek."

Pak Semar: "Gak mungkin pak Guru, wong anakku pinter kok."

Pak Guru: "Buktinya hasil ulangan sejarah ini pak."

Pak Semar: "Coba pak Guru buktikan."

Pak Guru: "Ini hasil ulangan Gareng dan Petruk, anak yang disebelahnya. Coba Bapak perhatikan. Pertanyaan pertama, siapa nama Presiden RI pertama? Si Petruk menjawab Bung Karno, anak Bapak juga Bung Karno."

Pak Semar: "Semua orang juga tau kalo presiden pertama kita itu bung karno. Jadi gak mungkin dong hanya karena jawaban yang sama, terus anak saya nyontek."

Pak Guru: "Oke. kita lanjutkan Pak Semar. Pertanyaan kedua, kapan indonesia merdeka? Si Petruk jawab 17 Agustus 1945 dan anak Bapak juga menjawab sama. Ini Pasti karena Gareng nyontek Petruk pak, saya yakin itu."

Pak Semar: "Wah Pak Guru ini gak objektif ia, wong kenyataannya emang begitu kok anak saya dituduh nyontek! Saya gak terima!"

Pak Guru: "Sabar Pak Semar, mari kita cek lagi pada pertanyaan ketiga, kapan terjadinya Perang Paderi Coba bapak perhatikan jawaban mereka berdua. Si Petruk Jawab, ‘Mana Gue Tau?’ Dan anak Bapak Jawabannya ‘Apalagi Gua?'"

Pak Semar: "??!!.."

Lomba Panjat Pinang

Untuk memperingati 17 agustus, sebuah desa mengadakan lomba panjat pinang. Ada satu tim yang kekurangan pemain pria sehingga mengajak seorang banci yang kebetulan menonton perlombaan tersebut. Si banci diberikan posisi yang paling atas karena dia yang paling ringan. Di tengah pertandingan, si banci terlihat mandeg di tiang, tidak mengambil hadiah seperti tim lainnya. Seorang peserta yang kesal kemudian berteriak:

Peserta Lain: "Hei banci! Ngapain loe lama banget disana? Cepetan ambil hadiahnya!"

Banci: "Ihhhh, Buat eikeee hadiah ga penting cyiiinn, Yang penting gesekannya. Oh ah uh."

Dihimpun dari berbagai sumber (RED)

 

Rekomendasi

Baca Juga