Trivia Tips Agar Usaha Anda Dilirik Angel Investor

Tips Agar Usaha Anda Dilirik Angel Investor

sisiusaha (14/7)

creative people.. Tidaklah penting apakah start up (usaha baru) maupun sedang dalam proses pengambangan, semua bentuk usaha memang memerlukan permodalan. Banyak cara dalam mendapatkan permodalan, bisa dengan pinjam kepada orang tua, keluarga, teman, perbankan (bagi yang bankable) atau melalui penawaran terbuka kepada angle investor.

Beberapa tahun belakangan ini, bisnis start up semakin menjamur di Indonesia. Khususnya di Ibu Kota. Peningkatan ini tidak lepas dari peranan angel investor yang bersedia menyuntikkan modal bagi usaha baru itu. Salah satu angel investor di Indonesia adalah Angel Investment Network Indonesia (ANGIN).

Angel investor biasanya menyasar pendanaan start up yang dinilai terlalu kecil bagi pemodal ventura (venture capitalist/VC). Angel investor biasanya ditemui di antara keluarga dan teman entrepreneur. Modal mereka bisa jadi berbentuk suntikan dana satu kali dalam bentuk dana awal (seed money) atau dukungan kontinu untuk mengoperasikan perusahaan dalam kondisi sulit.

Namun, bisa saja start up mendapatkan pendanaan dari VC jika tujuan ekspansi pendanaan adalah untuk masuk ke pasar ekuitas. Suntikan dana VC biasanya akan dibarter dengan saham ketika usaha itu sudah besar. Nah, jika saat ini Anda punya ide bisnis yang besar, tapi terkendala dana untuk mewujudkannya, bagaimana caranya agar bisnis Anda dilirik oleh angel investor?

Menciptakan tim impian

Bangunlah tim superstar, produk luar biasa dan cara monetisasi bisnis yang baik. Hal itulah adalah kunci utama jika ingin start up Anda dilirik oleh investor. Yang paling penting adalah bagaimana membuat investor dan VC percaya pada tim manajemen Anda untuk menumbuhkan bisnis. Jadi, pilihlah partner kerja dan tim kunci lain yang memiliki dasar pengetahuan serta keterampilan mendalam di bidangnya. Bila Anda adalah orang yang terampil di bisnis, pilihlah rekan kerja yang lihai di sisi teknis. Sehingga perusahaan Anda akan berjalan seimbang.

Pelajari dan ketahui seluk beluk sang investor

Ini penting agar sebagai pengusaha, Anda tidak salah menyasar investor. Maka lakukanlah pekerjaan rumah Anda. Pelajari angel investor atau VC yang akan Anda tuju sebab mereka pasti akan mempelajari start up Anda. Lalu, bicaralah pada angel investor atau VC jika perusahaan Anda sudah siap. Sebab jika tidak, maka hanya pendanaan kecil yang akan Anda dapatkan.

Buktikan jika bisnis Anda berharga

Jangan hanya berbicara dengan satu investor, tapi galilah setiap kesempatan dan peluang yang ada untuk mengenal banyak investor. Tapi, pemain baru harus mulai mencari investor yang benar-benar sesuai dengan industri yang mereka kembangkan. Sebab, jika terlalu banyak VC yang ditargetkan, maka akan banyak pertemuan dengan mereka yang juga membebani ongkos si pemain baru. Selain itu, setiap usaha start up perlu mempermak ide dan model bisnis sebelum mempresentasikannya di depan angel investor dan VC. Ini penting agar sang investor yakin bila Anda selalu melakukan inovasi untuk perkembangan perusahaan. Sehingga ia tak ragu menyuntikan modal besar.

Bergabunglah dengan program inkubator atau akselerator

Dengan bergabung di program tersebut, Anda akan belajar lebih dalam mengenai bisnis start up. Biasanya inkubator dan akselerator mengajari cara start up mendapatkan pendanaan dari investor, dengan mentor dari start up lain yang sudah sukses. Meski memiliki struktur yang berbeda, kedua program tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni mempercepat perkembangan start up.

Program inkubator biasanya memiliki jangka waktu yang lebih lama dibandingkan akselerator, yaitu enam bulan atau lebih. Hal ini disebabkan karena program inkubasi tidak hanya menerima tim atau start up yang telah memiliki produk, tapi juga menerima ide yang masih mentah. Sehingga perlu proses validasi ide, produk, hingga proses validasi ke pasar.

Sedangkan akselerator biasanya berlangsung lebih cepat, yakni sekitar tiga bulan. Program akselerator akan membantu start up memaksimalkan produk mereka untuk kemudian siap masuk ke pasaran. Di Indonesia sendiri sudah ada sejumlah program inkubator dan akselerator yang siap membantu perkembangan start up tanah air. Misalnya saja Indigo Incubator.

Indigo Incubator merupakan program inkubator startup teknologi dari Telkom yang dimulai sejak 2013. Indigo Incubator menyelenggarakan dua batch program setiap tahunnya. Setiap batch di program ini berlangsung selama enam bulan. Start up yang terpilih akan diberikan pendanaan tahap awal dan mentoring serta mengikuti inkubasi di Bandung Digital Valley atau Jogja Digital Valley.

Selain itu juga ada Ideabox, yang merupakan program akselerasi hasil kerja sama Indosat dengan Mountain SEA Ventures, perusahaan VC asal Swiss. Program akselerasi ini dimulai sejak tahun 2013. Pada tahun ini Ideabox membuka program untuk angkatan ketiga. Ideabox fokus mencari start up tahap awal. Start up yang terpilih nantinya akan mengikuti program akselerasi selama 120 hari. Selain mendapat pendanaan tahap awal, start up juga bisa memperluasnetwork dan mendapat mentoring.

Fokus pada usaha Anda

Banyak start up khawatir pada waktu, yakni bagaimana menjaga agar ide mereka tetap segar. Nah, bagi Anda yang sedang mencari angel investor, sebaiknya selalu fokus dalam membangun kemungkinan terbaik bagi perusahaan, produk, atau layanan ke konsumen. Jika fokus, perusahaan Anda pun akan berkembang dan memperbesar potensi agar menerima pendanaan dari angel investor.

Tidak mengapa jika Anda gagal. Ulangi terus sampai berhasil. Beberapa penolakan yang sering didapatkan start up pemula misalnya: Anda masih terlalu awal, belum tepat, atau Anda belum menemukan investor yang tepat. Belajarlah dari kesalahan Anda dan teruslah berusaha.

Di Indonesia, salah satu start up yang dinilai berhasil mendapatkan pendanaan dari VC besar adalah layanan Go-Jek yang digagas oleh Nadiem Makarim. Layanan ini belakangan sangat fenomenal sebab menggabungkan sarana transportasi ojek secara online melalui aplikasi smartphone. Menurut Nadiem, ada beberapa resep bagi perusahaan start up mendapatkan pendanaan. Selain membangun tim manajemen yang tangguh, start up juga harus mempertimbangkan hal ini.

  • Manfaatkan Momentum. Memanfaatkan momentum di sini artinya memanfaatkan faktor “ada di tempat dan waktu yang tepat”. Jadi, aplikasi Go-Jek diluncurkan saat demand sudah tercipta dan dilancarkan di kota besar yang membutuhkan transportasi cepat untuk mengatasi kemacetan. Lahirnya Go-Jek juga memanfaatkan fenomena taksi Uber dan GrabTaxi, start up ride sharing yang lebih dulu ada.
  • Membangun Logistik. Sebaiknya startup terus mengembangkan inovasi produknya sesuai dengan kebutuhan pasar yang disasarnya. Belakangan layanan ini berkembang menjadi aneka layanan, tidak sekadar ojek saja. Misal layanan pesan antar makanan hingga layanan pengataran dokumen dan pijat. Untuk itu, Go-Jek juga membangun logistik sebagai kunci utama bisnis e-commerce dan bisnis makanan yang dikembangkannya.
  • Berani. Selain itu menurut Nadiem, entrepreneur teknologi generasi baru di Indonesia harus punya keberanian untuk mendapatkan banyak uang dari investor serta menggunakannya dengan cepat untuk pengembangan usaha.

creative people.. Segera pastikan langkah usaha Anda, selalu positif dan percaya diri dengan ide Anda, selanjutnya mulailah dengan langkah produktif dan kreatif yang berkesinambungan. (RED)

Rekomendasi

Baca Juga