Trivia Vania Santoso Ubah Sampah Menjadi Wah

Vania Santoso Ubah Sampah Menjadi Wah

sisiusaha (13/5)

creative people.. Pada tahun 2005 lembaga World Health Organization (WHO) merilis daftar negara terbersih dan terkotor di dunia. Indonesia termasuk dalam daftar negara terkotor di dunia dalam daftar tersebut. Berdasar akan hal ini Vania Santoso (23), memiliki keprihatinan yang tinggi terhadap masalah yang terjadi.

Walaupun usianya masih tergolong muda, Vania memiliki kepedulian yang tinggi tentang isu-isu lingkungan.  Beberapa penghargaan yang diterimanya adalah bukti bahwa perubahan positif dapat diwujudkan dengan kerja keras.

Berawal dari kepeduliannya pada lingkungan sejak ia duduk di Sekolah Dasar, finalis GSEA asal Indonesia Vania Santoso mengembangkan produk sampah menjadi barang yang memiliki nilai ekonomis sekaligus estetika, Stylish Art in Ecopreneurship (STARTIC).

Vania terlebih dulu mendirikan gerakan peduli lingkungan AV Peduli yang kini menjadi penyokongnya dalam memperoleh sampah kering.“Kami sudah punya bank sampah yang tetap,” kata Vania.

Lulusan Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Airlangga ini pernah membuat tas dari sampah plastik namun dirasanya kurang memiliki nilai jual bila dilihat dari kemasan. Berbagai perombakan ia lakukan untuk mendapatkan produk bahan daur ulang dengan model yang memiliki daya saing. Menggunakan bahan-bahan sampah pun rupanya kurang dilirik pasar lokal yang masih memilih produk bermerk daripada buatan tangan. “Bagaimana biar orang bangga dengan produk daur ulang,” kata dia.

Salah satu produk andalan STARTIC adalah tas serupa kulit yang terbuat dari kertas sak semen yang diberi pewarna dan pelapis alami agar terlihat mengkilap. Ia memastikan bahan-bahan lain yang digunakan dalam bisnisnya itu alami dengan bekerja sama dengan laboratorium di almamaternya.

Vania rupanya tidak melulu berorientasi profit dalam memasarkan produknya. Selain fesyen yang ramah lingkungan, ia menjadikan produk buatannya sebagai alat perkenalan masyarakat awam terhadap isu lingkungan. “Mengenalkan fesyen beretika,” kata dia.

Pada waktu isu lingkungan belum semarak seperti sekarang, sehingga ia pun menghadapi banyak tantangan dalam pelaksanaannya. Salah satu contoh adalah seringnya ia ditolak ketika mengajukan sponsorship. Vania dan kakaknya tak patah arang. Mereka mengunggah proyek Useful Waste for A Better Future ke website. Hal itulah yang akhirnya membuat Vania pada tahun 2007 diminta untuk mewakili Indonesia dalam ajang internasional Volvo Adventure yang diselenggarakan oleh lembaga lingkungan PBB UNEP di Swedia.

Kemenangan yang didapatnya dari ajang tersebut semakin membuatnya dikenal oleh media. Hadiah uang yang diterima oleh Vania dikembangkan untuk program AV Peduli. Dari yang awalnya pupuk kompos diolah menjadi pupuk cair. Produk limbah didaur ulang menjadi barang-barang fashion yang bernilai ekonomi.

Seiring waktu, Vania ditugasi UNEP menjadi  Duta Lingkungan untuk Asia Pasifik. AV Peduli sendiri telah mempunyai anggota sebanyak 500-an, tersebar di berbagai daerah di Indonesia. (RED)

Rekomendasi

Baca Juga