Opini Industri Kuliner Bandung

Industri Kuliner Bandung

Sisiusaha (8/6)

Selama ini kita mengenal Kota Bandung sebagai kota dengan segudang kreativitas. Maka tidak heran jika Bandung mendapat gelar Kota Kreatif di Indonesia. Image Bandung sebagai Kota Kreatif memang sudah lebih dulu melekat jauh sebelum gelar Kota Kreatif diberikan oleh Badan Ekonomi Kreatif (BEK).

Berkembangnya industri kreatif di Bandung merupakan salah satu alasan munculnya image tersebut. Industri fashion yang merupakan salah satu sektor dari industri kreatif adalah salah satu andalan Bandung untuk meningkatkan perekonomian masyarakatnya. Kreativitas masyarakat Bandung di bidang mode menjadi penyebab berkembang pesatnya industri fashion di kota yang mendapat julukan “Paris Van Java” ini.

Namun Industri Fashion bukanlah satu-satunya sektor di industri kreatif yang mempunyai potensi besar. Selain teknologi dan desain, industri kuliner juga menghasilkan produk yang berkualitas.

Banyaknya tempat wisata kuliner di Bandung memang menjadi salah satu daya tarik wisatawan datang ke Kota ini. Beberapa diantaranya adalah, Rumah Sosis, Pino Pizza, Kampung Daun, Yoghurt Cisangkuy, Roemah Nenek Resto Café, Raja Rasa, The Peak, Atmosphere Resort Café, The Valley Bistro Café, Sapu Lidi, dan Maja House. Tempat-tempat wisata kuliner ini sudah banyak dikenal dan menjadi magnet bagi para wisatawan.

Tidak ketinggalan, Bandung juga memiliki brand kuliner yang menghadirkan inovasi terbaru seperti Kartika Sari, Amanda, dan Prima Rasa dengan produk unggulannya berupa pisang Bolen (roti panggang yang berisi pisang), bolu kukus, brownies kukus, brownies panggang yang selalu menjadi incaran para wisatawan yang ingin mencari buah tangan di kota kembang ini.

Selain makanan modern, Bandung juga memiliki banyak jenis makanan tradisional. Seperti peuyeum, makanan yang merupakan hasil fermentasi dari singkong ini mempunyai rasa unik, percampuran rasa asam dan manis membuatnya banyak diburu oleh para wisatawan. Berikutnya adalah batagor alias baso tahu goreng. Makanan ini berbentuk tahu yang dibalut tepung dan diisi dengan adonan tepung dan ikan.

Ada juga cireng (aci digoreng) dan cilok (aci dicolok). Kedua makanan ini berbahan dasar sagu (aci) yang diolah sedemikian rupa sehinggah menghasilkan cemilan yang menggugah selera. Selain itu ada lotek, baso tahu, chuangki dan masih banyak lagi jenis makanan tradisional khas Bandung yang tidak kalah dari makanan modern.

Dalam rangka pengembangan industri kuliner, Pemerintah Kota Bandung juga ikut memperkenalkan makanan tradisional melalui program culinary night.Selain sebagai wadah silaturahmi antar warga Bandung, acara yang diprakasai oleh Walikota Bandung Ridwan Kamil ini bertujuan untuk memperkenalkan kuliner tradisional Bandung kepada masyarakat sekaligus wisatawan yang hadir. Acara culinary night diadakan seminggu sekali di setiap kecamatan secara bergiliran. Dengan adanya culinary night di Bandung, diharapkan dapat menarik minat masyarakat untuk ikut andil dalam memberdayakan kuliner tradisional. (AS)

Rekomendasi

Baca Juga