Opini Persepsi dan Imajinasi

Persepsi dan Imajinasi

sisiusaha (9/11)

Persepsi adalah proses untuk mengorganisasi dan menginterpretasi informasi (hasil pengamatan), atau kemampuan kita untuk membaca makna dari objek dan  peristiwa. Dalam uraian ini, perihal persepsi ditujukan untuk memahami karya seni, grafis dan desain. 

Bentuk pertama persepsi imaji adalah bahwa imaji-imaji visual itu dianggap memiliki kemiripan, dan beranalogi dengan apa yang kita lihat di alam (Images are analogous to visually perceived scenes in the world). Lukisan tentang laut misalnya beranalogi dengan laut yang sebenarnya. Yang kedua, imaji-imaji itu dapat memberikan dampak psikologis, seperti ingatan, memory maupun tindakan. Lukisan tentang "orang tua" misalnya, dapat mengingatkan kenangan kepada orang tua itu yang sudah meninggal. Yang ketiga adalah peristiwa persepsi (perceptual), dan operasi-operasi mental lainnya. Banyak jenis peristiwa persepsi itu jika kita melihat sebuah gambar atau lukisan, misalnya persepsi ilusi, persepsi ide, persepsi gestalt dan sebagainya. Semua persepsi ini memberi pengaruh terhadap pemaknaan imaji yang dilihat. Pengaruh terhadap tindakan misalnya, apabila seorang anak sering melihat adegan seks, dia juga cendrung untuk melakukan hal yang sama. Secara psikologis, sebenarnya sebagian besar tindakan anak bukan karena pengaruh gambar porno atau video, tetapi lebih besar karena pergaulan dan lingkungan dan budaya.

Bagi orang yang belajar seni rupa tentu paham apa yang disebut persepsi ilusi, persepsi gestalt, halusinasi dan sebagainya. Bagi yang belajar iklan (DKV) tentu paham pula yang disebut dengan Just Notable Difference (JND), pesan terselubung (subliminal), figur dan latar dan sebagainya. Yang unik adalah persepsi ide, sebuah imaji/gambar ditanggapi bukanlah sekedar responsif (linear) tetapi juga menimbulkan ide-ide baru (divergen) atau kata-kata baru bagi pengamatnya. Seorang gadis cantik telanjang tetapi gila, ditanggapi dengan rasa kasihan, sebaliknya jika dilakukan oleh gadis normal bisa menyulut puluhan kata-kata yang aneh-aneh yang mungkin lebih vulgar lagi.

Dalam teori persepsi, baik cara Feldman maupun Lester, adalah respon manusia yang disebut "top down processing", dimana  karya seni visual ditanggapi berdasarkan pengetahuan sebelumnya. Sedangkan "bottom up processing" adalah pengolahan dan tanggapan terhadap imaji tidak berdasarkan pengetahuan, tetapi murni dari apa yang dilihat.Tetapi yang kedua ini tidak bisa terpisah dan berdiri sendiri, Berlangsungnya "bottom up processing" selalu saja diiringi pengetahuan, walaupun pengetahuan itu bukan tentang seni. Artinya baik "bottom up" maupun "top down" itu selalu berpasangan. Kritik populer atau persepsi orang awan, seperti yang diuraikan Feldman, sebenarnya berlangsung dalam proses persepsi seperti ini. Orang awam juga memiliki pengetahuan, tetapi bukan pengetahuan tentang seni.

Persepsi merupakan tahap kognitif dimana manusia menyadari sensasi yang disebabkan oleh stimulus dan interpretasi informasi dari pengalaman atau pengetahuannya (Groover, 2007). Proses persepsi terdiri dari dua tahap, yaitu deteksi dan rekognisi. Deteksi terjadi pada saat manusia menyadari adanya stimulus (bottom up processing), rekognisi terjadi ketika manusia menginterpretasikan arti dari stimulus tersebut serta mengidentifikasinya dengan pengalaman/pengetahuan sebelumnya (top down processing). Stimulus yang diterima oleh indera tubuh manusia kemudian diteruskan menjadi persepsi.

Hal ini akan memperjelas bahwa penilaian (evaluasi) sebuah gambar atau karya seni umumnya streotipe kognitif, yaitu hanya berdasarkan kognisi atau pengetahuan yang dimiliki seseorang. Seorang ahli biologi dan seorang ahli sastra, atau seorang dokter misalnya, dihadapkan kepada objek yang sama, persepsinya akan berbeda, hal ini dipengaruhi oleh persepsi "top down processing", yaitu apa yang sering dilihatnya berkali-kali (pengetahuan, data ingatan yang dimilikinya). Hal ini juga dapat menjelaskan perilaku dunia periklanan. Yaitu bagaimana mereka menanamkan ingatan tertentu dalam kepala manusia. Agar terbentuk ingatan tertentu (memori) sebagai modal bagi proses pengamatan " bottom up processing".

Strategi yang dipakai dunia periklanan terlihat dalam prinsip persepsi ini, misalnya di TV setiap 15 menit ditampilkan iklan yang sama agar masuk dalam "memori" pemirsa. Berdasarkan teori persepsi ini dapat dijelaskan, bahwa besarnya kecurigaan seorang istri terhadap suaminya akan berselingkuh, bisa akibat seringnya dia menonton "sinetron Indonesia" tentang perselingkuhan di TV.

 

Dengan sedikit memahami sebuah persepsi dan imaji, semua di kembalikan kepada kita semua, seberaba besar tingkat intelektualitas, kedewasaan serta pemahaman kita terhadap sesuatu hal yang kita lihat, dengar serta rasa. (MAB)

Rekomendasi

Baca Juga