Opini Gelembung Valuasi Perusahaan Start-Up

Gelembung Valuasi Perusahaan Start-Up

sisiusaha (14/12)

Tak ada yang menyangkal kalau sebuah perusahaan penerbangan seperti Garuda Indonesia adalah perusahaan penerbangan terbesar di Indonesia. Valuasi Garuda Indonesia pada tahun ini sebesar Rp.6,16 Triliun. Sementara Gojek, sebuah perusahaan start-up lokal yang menguasai sektor transportasi berbasis digital terbesar memiliki valuasi sebesar Rp.75 Triliun. Lalu pertanyaan utamanya adalah valuasi perusahaan gojek bisa jauh melampaui Garuda Indonesia? Gila kan, dan itulah kenyataannya, gelembung valuasi perusahaan start-up.

Perbandingan berikutnya adalah kapitalisasi dan valuasi market Indofood yang hanya Rp. 60 Triliun dengan start-up Tokopedia yang Rp.100 Triliun, padahal Indofood merupakan perusahaan raksasa makanan yang telah berusia puluhan tahun dan memiliki laba pada tahun lalu sebesar Rp.4 Triliun, dibanding Tokopedia yang berusia 9 Tahun.

Dikutip dari Strategi + Bisnis dalam akun twitter @Strategi_Bisnis, dikatakan dalam analisa keuangan dikenal konsep rasio net profit dengan valuasi. Sebagai acuannya digunakan data dari alibaba (sebuah ecommerce company), valuasi Alibaba saat ini sekitar Rp.6000 Triliun, sebuah angka yang masif. Tapi net profitnya hanya sebesar Rp. 80 Triliun, artinya rasio net profit alibaba adalah 75 kali, dari angka valuasi 6000 Triliun dibagi angka profit setahun Rp. 80 Triliun. Rasio 75 kali ini juga yang harus dikejar Tokopedia dan Gojek. Artinya jika valuasi Tokopedia Rp. 100 Triliun, maka jika dibagi 75 minimal adalah memiliki net profit Rp.1,3 Triliun. Sementara Gojek minimal harus memiliki net profit Rp. 1 Triliun agar valuasi itu justified.

Apakah angka profit itu suatu saat dapat diraih? Dan bagaimana mereka bisa meraih profit dengan nilai tersebut? Hitungan simplenya adalah sebagai berikut, pertama adalah Tokopedia, jumlah merchan di Tokopedia saat ini adalah 2,5 juta pelapak, asumsi 20% yang aktif dan menghasilkan, sehingga ketemu angka 500.000 merchant. Rp. 1,3 Triliun dibagi 500.000 = Rp. 2,6 juta. Artinya Tokopedia hanya perlu generate net profit Rp.210.000,- per bulan dari setiap merchant yang aktif.

Kedua Gojek, Gojek harus bisa memiliki net profit Rp. 1 Triliun untuk dapat justifikasi valuasinya yang sebesar Rp. 75 Triliun. Caranya sebagai berikut, Saat ini jumlah driver Gojek sekitar 1 juta, Rp 1 Triliun dibagi 1 juta driver hanya sebesar Rp. 1 juta dan dibagi 12 bulan = Rp. 83.000,-. Artinya untuk mendapat net profit 1 Triliun, Gojek hanya perlu generate net profit Rp. 83 ribu rupiah per bulan dari setiap drivernya.

Target angka diatas, rasanya mudah didapat oleh Tokopedia maupun Gojek, namun apa yang terjadi saat ini? Tokopedia dan Gojek ternyata masih merugi hingga ratusan milyar rupiah per tahun. Apakah ini yang disebut sebagai Gelembung (bubble) Valuasi Perusahaan Start-Up? Pada akhirnya semua itu artinya adalah Airbus A330 dapat kalah dengan value Yamaha Mio yang kilometernya sudah tinggi dan cicilannya belum lunas oleh driver si abang gojeknya. (MAB)

 

sumber: Strategi + Bisnis

Gambar: Marketeers

 

Artikel Terkait: 

Gojek Tembus Pasar Singapura

GoJek: Memanage bisnis atau bisnis memanage?

Rekomendasi

Baca Juga