Opini Mengenal Genosida dan Yang Terjadi Pada Muslim Rohingya di Myanmar

Mengenal Genosida dan Yang Terjadi Pada Muslim Rohingya di Myanmar

sisiusaha (02/9)

creative people.. Genosida atau genosid adalah sebuah pembantaian besar-besaran secara sistematis terhadap satu suku bangsa atau kelompok dengan maksud memusnahkan (membuat punah) bangsa tersebut. Kata ini pertama kali digunakan oleh seorang ahli hukum Polandia, Raphael Lemkin, pada tahun 1944 dalam bukunya Axis Rule in Occupied Europe yang diterbitkan di Amerika Serikat.

Kata ini diambil dari bahasa Yunani γένος genos ('ras', 'bangsa' atau 'rakyat') dan bahasa Latin caedere ('pembunuhan'). Genosida merupakan satu dari empat pelanggaran HAM berat yang berada dalam yurisdiksi International Criminal Court. Pelanggaran HAM berat lainnya ialah kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan perang, dan kejahatan Agresi.

Menurut Statuta Roma dan Undang-Undang no. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM, genosida ialah Perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnis, kelompok agama dengan cara membunuh anggota kelompok; mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggota kelompok; menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang menciptakan kemusnahan secara fisik sebagian atau seluruhnya; melakukan tindakan mencegah kelahiran dalam kelompok; memindahkan secara paksa anak-anak dalam kelompok ke kelompok lain. (Wikipedia)

Yang terjadi pada Muslim Rohingnya di Myanmar dapat dikategorikan sebagai Genosida. Konflik antara etnis Rohingya dan mayoritas penduduk Myanmar yang mayoritas beragama Budha seolah tak berkesudahan. Ratusan ribu warga Rohingya terlunta-lunta dan secara masif terjadi gelombang pengungsian.

Penduduk Myanmar mayoritas beragama Buddha. Minoritas Muslim di Myanmar sebagian besar terdiri dari orang-orang Rohingya dan keturunan imigran Muslim dari India (termasuk yang sekarang Bangladesh) dan Cina (nenek moyang Tiongkok Muslim di Myanmar berasal dari provinsi Yunnan), serta keturunan Arab sebelumnya dan pemukim Persia.

Muslim India dibawa ke Myanmar oleh Inggris untuk membantu mereka dalam pekerjaan administratif dan bisnis. Setelah kemerdekaan, banyak orang Muslim mempertahankan posisi mereka sebelumnya dan mencapai keunggulan dalam bisnis dan politik.

Penindasan orang Buddha terhadap Muslim muncul dari alasan agama, dan terjadi pada masa pemerintahan Raja Bayinnaung, 1550-1589 M. Setelah menaklukkan Bago pada tahun 1559, Raja Buddha melarang praktik halal, khususnya, membunuh hewan makanan dengan menyebut nama Allah.

Dia adalah orang tidak toleran terhadap agama, memaksa beberapa rakyatnya untuk mendengarkan khotbah Buddha dan mungkin mengubah keyakinan secara paksa. Dia juga melarang Idul Adha. Makanan halal juga dilarang oleh Raja Alaungpaya pada abad ke-18.

Ketika Jenderal Ne Win meraih kekuasaan pada gelombang nasionalisme pada tahun 1962, status umat Islam berubah menjadi buruk. Muslim diusir oleh tentara dan dengan cepat terpinggirkan.

 

Penindasan terhadap Muslim Rohingya masih terjadi sampai sekarang, baru saja pemerintah Myanmar mengerahkan pasukannya ke Provinsi Rakhine. Puluhan orang tewas saat pasukan pemerintah menyerbu kampung-kampung.

Di Myanmar, etnis Rohingya tak diakui sebagai warga negara. Mereka kesulitan memperoleh akses kesehatan, pendidikan dan perumahan yang layak. Kekerasan juga terus terjadi.

Dari sisi geografis, penduduk Rohingya adalah sekelompok penganut Muslim yang jumlahnya sekitar satu juta orang dan tinggal di negara bagian Rakhine. Wilayah Rakhine juga ditempati oleh masyarakat yang mayoritas memeluk agama Budha. Rakhine dikenal sebagai wilayah yang kaya akan sumber daya alam. Tetapi hal itu menjadi timpang ketika pada kenyataannya tingkat kemiskinan di sana ternyata tinggi.

"Komunitas warga Rakhine merasa didiskriminasi secara budaya, juga tereksploitasi secara ekonomi dan disingkirkan secara politis oleh pemerintah pusat, yang didominasi etnis Burma. Dalam konteks spesial ini, Rohingya dianggap warga Rakhine sebagai saingan tambahan dan ancaman bagi identitas mereka sendiri. Inilah penyebab utama ketegangan di negara bagian itu, dan telah mengakibatkan sejumlah konflik senjata antar kedua kelompok," kata Siegfried O Wolf saat diwawancarai oleh media Jerman Deutsche Welle (DW).

Mayoritas warga Rakhine menilai Rohingya sebagai saingan dalam hal mencari pekerjaan maupun untuk kesempatan untuk berwirausaha. Dari permasalahan politik, warga Rakhine merasa jika kaum Rohingya telah mengkhianati mereka lantaran tidak memberikan suara bagi partai politik mayoritas penduduk setempat. "Jadi bisa dibilang, rasa tidak suka warga Buddha terhadap Rohingya bukan saja masalah agama, melainkan didorong masalah politis dan ekonomis," kata Wolf.

Hal ini diperburuk oleh sikap pemerintah Myanmar yang bukannya mendorong rekonsiliasi, tetapi malah mendukung kelompok fundamentalis Budha. Umat Budha di dunia sendiri mengutuk kekerasan yang dilakukan kelompok garis keras di Myanmar. Tahun 2014 lalu, Dalai Lama meminta Umat Budha menghentikan kekerasan di Myanmar dan Sri Lanka.

"Saya menyerukan kepada umat Buddha di Myanmar, Sri Lanka, membayangkan wajah Buddha sebelum mereka berbuat kejahatan. Buddha mengajarkan cinta dan kasih sayang. Jika Buddha ada di sana, dia akan melindungi muslim dari serangan umat Buddha," pesan Dalai Lama.

Di dalam negeri Myanmar, nyaris tak ada yang membela Muslim Rohingya. Dunia mengutuk pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi yang diam seribu bahasa soal penindasan di Rohingya. (RED)

 

dihimpun dari berbagai sumber

Rekomendasi

Baca Juga