Opini funtasik

funtasik

sisiusaha (23/8)

creative people.. Secara umum orang tak banyak yang mengetahui bahwa Pemerintahan Tasikmalaya terbagi menjadi dua, Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Tasikmalaya. Namun yang pasti Tasikmalaya dikenal sebagai daerah cantik yang diibaratkan 'Mutiara Dari Priangan Pimur' ini ternyata banyak menyimpan potensi, mulai dari sebutan kota santri sampai dengan keindahan alam serta beragam keseruan yang ada, yang akhirnya dapat katakan sebagai 'funtasik' Tasikmalaya yang Funtastik.

Sejarah berdirinya Kota Tasikmalaya sebagai daerah otonomi tidak terlepas dari sejarah berdirinya kabupaten Tasikmalaya sebagai daerah kabupaten induknya. Sebelumnya, kota ini merupakan ibukota dari kabupaten Tasikmalaya, kemudian meningkat statusnya menjadi kota administratif tahun 1976, pada waktu A. Bunyamin menjabat sebagai Bupati Tasikmalaya, dan kemudian menjadi pemerintahan kota yang mandiri pada masa Pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya dipimpin oleh bupatinya saat itu H. Suljana W.H.

Saat ini, kata "Tasikmalaya" dipergunakan untuk dua nama hierarki pemerintahan daerah. Pertama, Kabupaten Tasikmalaya yaitu daerah otonom yang dipimpin oleh seorang bupati dengan luas wilayah sekitar 2.508,91 km2. Sebelum bernama Tasikmalaya, kabupaten ini bernama Sukapura yang didirikan oleh Sultan Agung dari Mataram pada 9 Muharam Tahun Alif, bersama-sama dengan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Parakanmuncang (van der Chjis, 1880: 80-81).

Berjalannya waktu, dimasa Kabupaten Tasikmalaya dipimpin oleh H. Tatang Farhanul Hakim, kantor pemerintahan pindah ke Singaparna, sekitar 15 kilometer dari kota Tasikmalaya. Singaparna sendiri adalah sebuah Kota Kecamatan, yang sedang ingin berkembang dan mempersiapkan menjadi sebuah Kota Kabupaten yang memiliki fasilitas umumnya sebuah Ibu Kota Kabupaten.

Di Kota Tasikmalaya saat ini sudah banyak berdiri fasilitas umum yang modern, setidaknya ada 4 pusat perbelanjaan besar (salah satunya berupa jaringan perbelanjaan Internasional Lotte), Beberapa Hotel berbintang dengan 2 Chain hotel skala nasional dan beberapa hotel berbintang lokal. Sedangkan di Singaparna belum ada pusat perbelanjaan, yang ada hanya toko-toko kecil dan pasar tradisional. Begitu pula denga hotel, hanya ada dua hotel kelas melati di Singaparna.

Sarana transportasi di Kota Tasik terbilang cukup memadai, untuk transportasi lokal dari becak sampai taksi tersedia, sedangkan untuk transportasi antar kota juga lengkap, dari mulai Bis, Travel, Kereta Api hingga yang baru dibuka adalah penerbangan Tasikmalaya- Jakarta PP (satu kali dalam sehari).

Sementara kebutuhan transportasi masyarakat di Singaparna masih bergantung dengan fasilitas transportasi yang ada di Kota Tasikmalaya, kalaupun ada untuk transportasi antar kota dari Singaparna, hanya ada Bus reguler menuju Bandung dan Jakarta, itupun juga memiliki jadwal dengan interval yang agak lama.

Namun potensi yang ada di wilayah Tasikmalaya ini terbilang menjanjikan, dari mulai budaya, ekonomi hingga keindahan alamnya. Dari semua potensi yang ada memang belum banyak dikelola secara profesional. Sebut saja Gunung Galunggung, sebuah nama Gunung yang begitu populer ini ternyata dalam kawasan wisatanya tidak menyediakan fasilitas yang representative. Yang ada hanya kolam berendam air panas yang kurang terawat, warung-warung makan kecil, dan sama sekali tidak tersedia penginapan, Villa apalagi Resort selayaknya tempat wisata. Begitu juga dengan kawasan pantai yang ada di wilayah Kabupaten Tasikmalaya, hanya terdapat beberapa losmen kecil dan warung makan seadanya. Sementara akses jalan menuju kedua kawasan wisata itu terbilang cukup memadai.

Hal ini sangat disayangkan, potensi yang besar ini belum dikelola dengan maksimal. Entah apa yang menjadi kendala dalam membangun kawasan wisata ini. Banyak pelancong dari luar daerah yang kecewa, jauh-jauh melakukan perjalanan menuju kawasan wisata ini, namun mereka tidak di sambut dengan fasilitas wisata yang memadai.

 


Sebenarnya kawasan wisata ini dapat dijadikan sumber pendapatan daerah yang lebih baik, dengan adanya BUMDES, masing-masing desa seharusnya sudah dapat melangkah membentuk usaha, bekerja sama dengan menggandeng investor membangun kawasan wisata di wilayah masing-masing. Tidak perlu dengan bangunan mewah yang menelan banyak investasi, tapi justru mengedepankan ekowisata dengan membangun "resort" tradisonal yang lebih menyatu dengan alam sekitar.

Saat ini justru konsep ecotourism maupun natural tourism semakin laku dijual, banyak orang yang tinggal diperkotaan penat dengan kondisi metropolis dan modernisasinya, membutuhkan suasana yang berbeda yang dapat dirasakan ketika berlibur. Mereka rela mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk ini.

Peluang ini seharusnya dimanfaatkan, diolah sedemikian rupa dan dijadikan sebuah usaha oleh desa-desa di wilayah Tasikmalaya (khususnya di Kabupaten) untuk peningkatan pertumbuhan perekonomian secara lokal dan mandiri. Wilayah yang begitu luas dengan beragam keindahan alamnya adalah modal besar yang dimiliki.

Menjadikan agar orang luar daerah semakin penasaran dengan Tasikmalaya, semakin banyak yang berkunjung dan tentunya akan semakin meningkat pendapatan ekonomi masyarakatnya. Dengan mengelola secara profesional semua potensi yang dimiliki harusnya dapat menguatkan "branding" dan mengubah kekecewaan pelancong luar daerah menjadi sebuah keseruan, kepuasan dan kenangan indah akan Tasikmalaya, selanjutnya sebut saja "funtasik" Tasikmalaya yang funtastik. (M Abduh Baraba)

Rekomendasi

Baca Juga