Opini Mengenal Generasi Z, Kelebihan dan Kekurangan

Mengenal Generasi Z, Kelebihan dan Kekurangan

sisiusaha (09/8)

creative people.. Mungkin pernah mendengar generasi Z, sepertinya juga akrab dengan mereka. Namun apa sebenarnya generasi Z itu, mengenal lebih jauh dan memahami apa kelebihan dan kekurangannya akan lebih bijak saat menilainya.

Dalam teori generasi terdapat lima macam. Pertama Generasi Baby Boomer, lahir 1946-1964. Kedua, generasi X, lahir 1965-1980. Ketiga, Generasi Y atau sering juga disebut generasi milenium, lahir 1981-1994. Keempat, Generasi Z, lahir 1995-2010, dan kelima Generasi Alpha, lahir 2011-2025.

Generasi Z merupakan generasi internet karena terlahir dari generasi X dan generasi Y. Generasi Z tumbuh di era digital dan bebas mengakses segala informasi dari internet.

Saat di Indonesia Internet masuk pada 1990 dan baru pada 1994, Indonet hadir sebagai penyelenggara jasa internet komersial pertama di negeri Nusantara ini. Jadi, mari kita anggap Generasi Z Indonesia adalah mereka yang lahir pada pertengahan 1990-an sampai medio 2000 an.

Dapat dikatakan, generasi Z memiliki kemampuan lebih dalam mengakses informasi lebih cepat walaupun usia mereka masih kecil. Mereka sejak kecil sudah mengenal komputer, laptop, handphone, iPad, PDA, MP3 player, BBM, internet, dan aneka perangkat elektronik lainnya. Hal ini yang memberi pengaruh secara langsung ataupun tidak langsung terhadap perilaku mereka.

Pada dekade terakhir, Generasi Z terus diteliti. Dari preferensi politik, ekonomi, hingga gaya hidup. Sebab, di dunia ini, belum pernah ada generasi yang sejak lahir sudah akrab dengan teknologi seperti mereka.

Menurut Hellen Katherina dari Nielsen Indonesia, Generasi Z adalah masa depan. "Karena itu penting bagi para pelaku industri untuk memahami perilaku dan kebiasaan mereka," ungkapnya.

Sejauh ini, Generasi Z dikenal sebagai karakter yang lebih tidak fokus dari milenial, tapi lebih serba-bisa, lebih individual, lebih global, berpikiran lebih terbuka, lebih cepat terjun ke dunia kerja, lebih wirausahawan, dan tentu saja lebih ramah teknologi.

Kedekatan generasi ini dengan teknologi sekaligus membuktikan masa depan sektor tersebut akan semakin cerah di tangan mereka. Dari segi ekonomi, menurut survei Nielsen, Generasi Z sudah memengaruhi perputaran ekonomi dunia sebagai 62 persen konsumen pembeli produk elektronik. Ini dipengaruhi oleh kehidupan mereka yang sudah serba terkoneksi dengan internet.

Menyadari potensi tersebut, Connor Blakley, pemuda 17 tahun dari Amerika Serikat, mendapuk dirinya sebagai konsultan khusus Generasi Z, yang secara profesional siap membantu perusahaan-perusahaan untuk mengenali para konsumen terbesarnya ini. "Generasi Z adalah generasi paling berpengaruh, unik, dan beragam dari yang pernah ada," kata Blakley dalam wawancaranya dengan Forbes.

Dilansir dari New York Post, David Stillman, salah satu penulis "Gen Z @ Work: How the Next Generation is Transforming the Workplace", mengatakan, populasi generasi Z saat ini sudah mencapai lebih 72,8 juta orang.

"Generasi Z berusaha untuk maju sendiri, mungkin bisa membawa semua orang dalam permainan (mengikuti). Tapi, generasi boomer mungkin merasa terancam oleh para pekerja muda ini, yang mengumpulkan pengetahuan dan mungkin tidak mudah berbagi informasi. Ini adalah keunggulan kompetitif yang akan dirasakan," kata Stillman.

Stillman menuturkan banyak dari generasi Z memiliki energi lebih untuk menghasilkan pendapatan tambahan. Perbedaannya, mereka tidak akan melihat hobi sebagai pendapatan tambahan. Mereka akan melakukan keduanya, hobi dan pekerjaan secara bersamaan.

Generasi Z sering disebut sebagai “penduduk asli" dunia digital, tak heran jika mereka beranggapan bahwa teknologi dapat melakukan apa pun. Oleh karena itu, kecanggihan teknologi memicu mereka untuk bekerja di perusahaan.

"Mereka berusaha untuk mengatur jalannya sendiri. Tidak seperti generasi pendahulunya, guru berdiri di depan kelas, generasi ini lebih suka jika pembimbing mereka berjalan di samping bersamanya untuk membuat keputusan yang baik," katanya.

Tidak ada gading yang tak retak, begitu menurut M Abduh Baraba, CEO sisiusaha network. "Disamping sederat kelebihan generasi Z, ada pula kekurangannya. Generasi ini bersikap egosentris dan individualis. Mereka menginginkan hal-hal yang instan, kurang menghargai proses, cepat marah dan tidak sabaran," ungkapnya.

"Kecerdasan intelektual mereka berkembang dan bisa jadi tergolong tinggi, namun, EQ mereka belum tentu tinggi juga. Mereka tidak lagi peduli dengan keadaan di sekitar mereka," lanjutnya.

Generasi Z hanya akan merasakan kesenangan melalui permainan digital melalui games online, atau permainan dari gadget mereka lainnya. Permainan seperti lompat tali, petak umpet dan permainan lainnya tidak dirasakan oleh generasi Z.

Generasi ini menyukai hal yang aplikatif dan menyenangkan. Pembelajaran menggunakan model sangat membantu mereka mengembangkan dirinya. Generasi ini tidak bisa hidup tanpa gadget. Maka dari itu, orang tua perlu memberikan pendidikan moral dan religi guna membentengi dirinya. (RED)

Rekomendasi

Baca Juga