Opini Anta Maa Taquulu (Ucapan Dapat Membongkar Siapa Kita Sebenarnya)

Anta Maa Taquulu (Ucapan Dapat Membongkar Siapa Kita Sebenarnya)

sisiusaha (07/8)

creative people.. Hati hatilah berbicara, karena setiap bahasa yang keluar dari lisan mencerminkan siapa sesungguhnya diri kita. Jauh sebelum penelitian di lakukan di barat, Islam telah mengingatkan akan hal ini. Dalam bahasa Arab di katakan Anta Maa Taquulu yang artinya Kamu adalah apa yang kamu ucapkan (bahasa yang dipakai bisa membongkar siapa diri kita sebenarnya)

Saat kita berbicara, menyampaikan ucapan, sebenarnya kita sedang mempertunjukkan siapa diri kita dan bagaimana kepribadian kita yang sebenarnya. Banyak bukti yang telah menunjukkan kalau kepribadian kita terukur dan tergambar secara jelas melalui ucapan dan bahasa yang digunakan.

Sesungguhnya nilai dan kualitas diri mudah diketahui dari bahasa yang keluar dari mulut. Bagi orang beriman dan berilmu maka yang keluar harusnya adalah kalimat hikmah, sopan, santun, mulia, sejuk, damai tanpa kehilangan ketegasan dan keberaniannya dalam menjunjung hak dan kebenaran "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar." (QS al-Ahzab: 70-71).

Sebaliknya, kalau lemah iman atau tidak beriman dan kurang ilmu maka yang keluar adalah hujatan, sampah, kotoran, binatang, dan sebagainya. Dan, itu menunjukkan nilai dirinya. Saat kata-kata kotor berhamburan dari mulut kita, tidakkah kita malu bahwa semua itu kelak akan diperlihatkan kembali oleh Allah SWT pada hari pengadilan-Nya.

"Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela," (QS al-Humazah, 104). "Allah tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) dengan terus terang," (QS an-Nisa, 4). Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya Allah murka kepada orang yang berperangai jahat dan berlidah kotor." (HR Titmidzi).

Sebuah kelompok peneliti barat yang dikomandoi Camiel Beukebomm dari VU University, Amsterdam, yang dipublikasikan oleh BBC Future, berjudul The hidden ways your language betrays your character, bertanya kepada 40 orang relawan tentang tanggapan mereka terkait berbagai foto yang menggambarkan situasi sosial tertentu. Peneliti menemukan bahwa orang ekstrovert cenderung memilih bahasa yang abstrak dan kadang melebar kemana-mana. Namun, orang introvert berbicara dengan bahasa yang konkret. Dalam kata lain, orang introvert jauh lebih spesifik dalam berbicara.

Penelitian lain memperlihatkan bahwa orang introvert cenderung berbicara soal subyek yang spesifik, hasil penelitian itu masuk akal secara psikologi. Mayoritas orang ekstrovert menikmati hidup simpel, lebih doyan minum alkohol, bercinta dengan banyak orang, dan lebih berani mengambil risiko dibanding yang introvert.

Setiap kali membuka mulutnya, orang ekstrovert juga lebih berpotensi menjerumuskan dirinya dalam risiko karena pernyataannya yang tidak akurat dan spontan.

Hubungan antara kepribadian dan bahasa yang digunakan, juga terlihat dari bahasa tulis. Ketika Jacob Hirsh dan Jordan Peterson dari Universitas Toronto meminta para murid untuk menulis target hidup mereka, orang ekstrovert ternyata lebih banyak menulis target tentang kesuksesan hubungan pribadi. Ini masuk akal, karena orang ekstrovert "lebih aktif secara sosial".

Namun, ini tidak hanya soal ekstrovert atau introvert. Bahasa juga menunjukkan aspek lain dari kepribadian seseorang, termasuk apakah mereka berpikiran terbuka (orang yang liberal cenderung menggunakan bahasa yang terkait dengan indra), cepat stress (yang cenderung memilih kata-kata emosional) dan betapa rajinnya seseorang (orang yang lebih rajin memilih kata yang berkaitan dengan capaian dan terkait profesi).

zaman sekarang ini, di mana orang mudah mencuit, menggunakan media sosial, kepribadian ikut juga terungkap dari sana. Dengan menganalisa hampir 700 blog, peneliti dari Universitas Texas menemukan bahwa bahasa yang digunakan blogger sejalan dengan kepribadian yang mereka tulis di profilnya. Contohnya mereka yang menyebut sebagai blogger yang 'sopan', memang jarang menggunakan kata-kata umpatan di blog-nya.

Sementara itu, di Twitter, penelitian memperlihatkan bagaimana orang ekstrovert memilih untuk lebih mencuitkan emosi dan kondisi yang positif. Sementara orang yang gampang stress atau emosional lebih sering mencuit dengan sudut pandang orang pertama dan menggunakan kata "aku" atau "saya".

Dan menariknya lagi, kaitan antara bahasa dan kepribadian ini sangat konsisten. Relawan penelitian bahkan bisa menebak dengan tepat kepribadian orang asing, betapa emosional atau sopannya dia hanya dengan membaca cuitannya.

Meskipun begitu, kita juga tidak berhak menghakimi siapa seseorang yang kita temui hanya melalui bahasa yang digunakannya. Namun penelitian yang menunjukkan siapa kita sebenarnya dari bahasa yang kita gunakan saat berbicara, menulis, mencuit, pastinya agak mengganggu. Khususnya bagi mereka yang ingin melindungi privasinya jauh-jauh dari publik.

pemahaman ini bisa kita manfaatkan untuk mengubah cara pandang orang terhadap kita. Misalnya, saat wawancara pekerjaan atau kencan pertama, kita bisa mengubah pilihan kata yang kita gunakan agar dapat menampilkan persona yang diharapkan lawan bicara, sehingga kita diuntungkan.

Yang terpenting adalah membiasakan diri dekat kepada Allah SWT, sehingga di dalam hati memiliki kekuatan iman dan dapat menghiasi hidup dengan ucapan indah yang selalu menyejukkan untuk didengar.

Dan sebaiknya saya segera mengakhiri menulis, sebelum Anda dengan mudah menebak siapa saya yang sebenarnya. (M Abduh Baraba)

Rekomendasi

Baca Juga