Opini Budaya Ewuh Pakewuh VS Asertif

Budaya Ewuh Pakewuh VS Asertif

sisiusaha (09/2)

creative people.. Budaya ewuh pakewuh yang berarti sungkan dalam batas normal masih dapat ditoleransi dalam meningkatkan tali silahturami, namun budaya ini juga bisa jadi bumerang bagi orang yang melakukannya. Persoalan yang sering terjadi manakala seseorang harus menyampaikan pendapat akan terbelenggu dengan "ewuh pakewuh".

Ewuh pakewuh berasal dari bahasa sangsekerta, ewuh yang berarti repot sedangkan pakewuh memiliki arti tidak enak perasaan. Ewuh pakewuh dalam budaya jawa, sering dituding sebagai penghambat atau kendala tidak jalannya proses perbedaan pendapat dan pandangan di masyarakat. Budaya ewuh pakewuh berhasil menghegemoni masyarakat Jawa. Dalam keseharian selalu ditemukan ungkapan rasa pakewuh yang menjadi simbol dari keeratan hubungan satu dengan yang lain.

Gramsci seorang filsuf Italia memiliki pandangan, semakin luas dan semakin mengakar kehidupan budaya individu, semakin dekatlah pendapat-pendapatnya dengan kebenaran, (dan dengan demikian) pendapat-pendapatnya itu dapat diterima oleh siapapun. Semakin banyak individu yang memiliki kehidupan budaya yang luas dan mengakar, semakin dekatlah pendapat-pendapat masyarakatnya dalam pengertian bahwa pendapat-pendapat itu mengandung kebenaran dalam bentuknya yang belum matang dan belum sempurna yang masih dapat dikembangkan hingga ia benar-benar matang dan benar-benar sempurna.

Artinya, kebenaran sebuah budaya tidak pernah boleh disajikan dalam bentuk dogmatis dan absolut, seolah-olah kebenaran itu matang dan sempurna. Kebenaran karena dapat menyebar, harus disesuaikan dengan kondisi sejarah dan kebudayaan kelompok sosial dimana kita ingin menyebarkannya. Sifat ewuh pakewuh sangat membuktikan hegemoninya pada masyarakat jawa karena keyakinan orang-orang oleh sebuah hubungan yang harus dijaga dengan perilaku ewuh pakewuh.

Hal ini akan memperjelas karena kita tahu budaya Jawa walaupun sudah mengalami perubahan yang signifikan namun nilai-nilainya masih ditanam dan senantiasa ada tercermin pada perilaku masyarakat Jawa itu sendiri. Bisa dikatakan hegemoni ewuh pakewuh sangat kuat. Bukti lain dari hegemoni budaya ini adalah adanya hal turun-temurun. Dari orang tua mereka, mereka diajarkan untuk mengetahui orang-orang yang memiliki hubungan dan baik untuk melakukan tindakan ewuh pekewuh.

Pada satu sisi budaya ewuh pakewuh membentuk sebuah pribadi yang halus dan memiliki tingkatan yang tinggi dalam aspek menjaga perasaan orang (yang memiliki kedudukan lebih tinggi), namun sisi lain ewuh pakewuh juga membatasi kebebasan dalam mengungkapkan pendapat dan kebenaran. Sering terjadi pada seorang dengan posisi yang lebih rendah tidak berani menyampaikan pendapatnya kepada seseorang yang meiliki posisi yang lebih tinggi, sehingga hal ini dapat membelenggu pengembangan kreatifitas dan pola pikir.

Sebaliknya dikenal sebuah perilaku Asertif atau Asertivitas, yaitu suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain. asertif adalah sebuah sikap yang mengandung pengertian untuk mengatakan dan bertindak sesuai dengan hati nurani dan benar adanya.

Orang yang bertingkah laku asertif, memiliki kenberanian sungguh-sungguh untuk mengatakan kebenaran yang ada sekalipun ia siap untuk tidak disenangi orang lain. Ia berani mengatakan apa yang benar kepada orang lain tanpa perlu merasa ada hutang budi atas kebaikan orang lain tersebut. Bahkan ia sangat selektif menerima pemberian orang lain, jika pemberian tersebut nantinya akan menganggu idealismenya untuk menegakkan kebenaran.

Memiliki sikap ewuh pakewuh cukup sebatas hal kewajaran, tidak harus menjadikan ewuh pakewuh sebagai penghalang bagi pengembangan diri apalagi sampai harus membatasi hak-hak pribadi. Budaya ewuh pakewuh sebaiknya dikombinasi dengan sikap asertif sehingga menjadi keseimbangan komunikasi sosial yang memiliki kualitas tanpa harus merendahkan diri sendiri. ( M Abduh Baraba)

 

Rekomendasi

Baca Juga