Opini Semangat Memajukan Desa, Sudah Menerapkan Hal Ini?

Semangat Memajukan Desa, Sudah Menerapkan Hal Ini?

sisiusaha (14/1)

creative people.. Sejalan dengan semangat memajukan desa secara mandiri dan berkelanjutan yang dicanangkan pemerintah pusat tentunya harus di sambut oleh kepala desa/lurah dan kecamatan sebagai kepanjangan tangan birokrasi pemerintah secara bersama-sama.

Membangun desa diawali dengan perubahan kualitas yang lebih baik dalam pelayanan masyarakat, meliputi berbagai aspek yang menyangkut operasional pelayanan kepada masyarakat di instansi penyedia pelayanan.

Membenahi aspek sarana dan prasarana pelayanan yaitu berbagai perangkat penunjang pelaksanaan penyedian pelayanan kepada masyarakat baik berbentuk perangkat lunak maupun perangkat keras hingga ke berbagai hal yang menyangkut kenyamanan dan keamanan dalam melakukan transaksi pelayanan.

Meningkatkan SDM pelaksana penyedia pelayanan yang langsung berhubungan dengan masyarakat pengguna pelayanan yang disediakan, termasuk keterampilan, kesopanan dan etika pelayanannya serta mengedepankan keterbukaan dalam pengelolaan anggaran meliputi proses dan mekanisme perencanaan, pengadaan, penggunaan dan pelaporan angaran.

Dalam penerapannya pemimpin pemerintah dalam skala kecil ini harus dapat melakukan perencanaan strategik yaitu proses yang berorientasi pada hasil yang ingin dicapai selama kurun waktu tertentu (misal 1, 2 atau 3 tahunan) secara sistimatis dan berkesinambungan dengan memperhitungkan potensi, peluang, dan kendala yang ada atau yang mungkin timbul.

Proses ini menghasilkan suatu rencana strategik instansi penyedia pelayanan, yang sekurang-kurangnya memuat visi, misi, tujuan, sasaran, strategi, kebijakan, dan program serta ukuran keberhasilan dan kegagalan dalam pelaksanaannya. Membiasakan pola kerja seperti ini akan memberikan dampak bagi manajemen mutu pelayanan, yaitu pendayagunaan sumber daya, sistem, proses dan informasi dalam rangka mencapai kualitas yang terukur.

Yang tak kalah pentingnya adalah membuat standar dan memberlakukan tata kelola mekanisme yang dikembangkan oleh suatu unit pelayanan dalam menyelenggarakan pelayanan sehari-hari seperti standar operating prosedure (SOP) pengelolaan dokumen, pengelolaan informasi, etika pelayanan, mekanisme umpan balik, mobilisasi sumber daya serta publikasi dan promosi.

Membuat parameter kemanfaatan dalam berbagai aspek yang menyangkut kepuasan dan kemanfaatan dari berbagai bentuk pelayanan yang di selenggarakan baik dari sisi petugas, organisasi penyedia pelayanan maupun masyarakat luas.

Parameter Kemanfaatan dalam hal ini terbagi dalam sub parameter yang terdiri dari:

1.Kepuasan pelayanan publik yaitu berbagai bentuk ungkapan, tindakan, dan aktifitas yang mencerminkan bahwa pelayanan yang diberikan mampu memenuhi atau melampaui kebutuhan dan keinginan masyarakat.

2.Kepuasan organisasi yaitu berbagai aspek yang terkait dengan upaya organisasi dalam mengelola pelayanan seperti sistem penilaian pegawai, efisiensi dan efektivitas, produktivitas, komitmen organisasi untuk melakukan perbaikan pelayanan dan persepsi publik terhadap organisasi.

3.Kemanfaatan publik yaitu berbagai bentuk dan kondisi yang mencerminkan bahwa tujuan penyediaan pelayanan publik telah terpenuhi oleh masyarakat langsung yang sedang membutuhkan serta masyarakat luas juga dapat merasakan manfaat dari pelayanan yang diselenggarakan.

Setelah malukan beberapa hal tersebut diatas, selanjutnya adalah meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakatnya dengan mendorong pengembangan perekonomian secara mandiri melaui potensi yang ada dengan menerapkan One Village One Product (OVOP). Ovop sendiri merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah produk unggulan daerah dalam rangkan meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat melalui wadah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), koperasi atau UKM.

Ovop di Indonesia umumnya adalah UKM yang konsisten menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dan terus mendapat bimbingan serta aneka bantuan dari pemerintah. Hal ini berkaitan demgan produk yang dihasilkan mewakili identitas daerah bahkan negara. Dimana produk-produknya mencerminkan keunikan suatu daerah atau desa.

Dengan keunggulan yang dimiliki, maka produk tersebut dapat meningkatkan pendapatan bagi daerahnya, melalui kunjungan turis, membuka lapangan pekerjaan, dan meningkatkan ketrampilan SDM. Di Indonesia terdapat lebih dari 100.000 desa yang memiliki keunikan atau ciri khas. Dimana mayoritas atau sekitar 65% penduduknya masih tergolong miskin dan berpendapatan rendah. Mayoritas desa-desa tersebut eksis disektor pertanian atau agrikultur. Dengan kultur tersebut, sangat potensial dikembangkan Ovop.

Telah banyak cerita sukses daerah yang awalnya minus berubah menjadi lebih baik dengan penerapan Ovop ini, bahkan cara ini sangat populer dan mendunia seperti terjadi di Asia (Indonesia, Malaysia, China, Laos, Philipina, Myanmar, Kamboja, Singapura, Thailand, Vietnam, Mongolia, Korea, Taiwan, Bangladesh, Timor Leste, Srilangka, Moldova). Afrika (Afrika Selatan, Mozambiq, Tunisia, Malawi, Madagaskar, Liberia, Kenya, Ethiopia, Ghana, Kingdom of Leshoto). Amerika (Costarica, Ekuador, Mexico, Bolivia, Chile, Elsavador, Columbia, Peru, Paraguay, Argentina, Venezuela, Brazil).

Sudah saatnya tidak lagi menunda untuk berubah dan membangun desa atau wilayah menuju kondisi yang lebih baik, peran serta dan dukungan Pemimpin Daerah, Camat dan Kades/Lurah adalah sangat penting. Selain itu banyak lembaga yang bersedia membantu melalui teknologi, bimbingan teknis, jaringan pemasaran bahkan juga permodalan. (M Abduh Baraba)


Artikel Terkait:
Desa, UKMK dan serbuan produk asing
IDB Digandeng Kementerian Desa untuk Entaskan Kemiskinan di Pedesaan
Kepala 'Manager' Desa (Good Village Governance)

Rekomendasi

Baca Juga