Opini Rasa tawar pasar tradisional

Rasa tawar pasar tradisional

sisiusaha (19/10)

Suatu waktu di salah satu pasar tradisional, suatu ketika saat musim liburan tiba. Lorong dan sudut pasar kini tidak hanya diramaikan penjual, namun pembeli yang datang dari berbagai tempat.

"Gelangnya berapaan mang?" terdengar lirih suara pembeli di sudut pasar tradisional.

"Sepuluh ribu teh" penjual menjawab

"Kaya gini sepuluh ribu dua ya mang, kalau boleh saya ambil empat" pembeli berusaha menawar

Suara tawar menawar itu mengabur diantara riuh pengunjung pasar dan suara angkot yang lalu lalang melewati pasar. Suara yang tak asing kita dengar ketika berada di pasar tradisional, suara yang terkadang keluar sendiri lewat mulut kita ketika ingin barang dengan harga lebih rendah. Suara menawar yang pastinya terdengar tawar bagi penjual, menerbangkan jauh mimpi manis meraup keuntungan. Apa daya, yang penting dagangan laku.

Terbatasnya lapak pengusaha kecil menengah di pasar tradisional, seakan ingin memberi gambaran mengenai terbatasnya modal UKM dan terbatasnya akses memperoleh modal dari bank. Tak jarang para pengusaha kecil akhirnya menjadi sasaran empuk para rentenir, sehingga bukannya memikirkan bagaimana mengembangkan usaha malah justru pusing mikirin utang. Bagaimana dengan pemerintah? pemerintah ya begitu deh....

Seperti namanya, usaha kecil menengah. Pastilah lahir dari usaha yang kecil, bisnis rumahan yang sifatnya masih tradisional. Tradisional dalam artian belum menggunakan mesin produksi yang canggih, hasil produksi juga masih terbatas dari segi jumlah. Pasar tradisional kemudian yang menjadi sasaran tempat penjualan, atau menggunakan rumah sendiri sebagai toko. Disamping terlahir dari usaha yang kecil dan terbatas, UKM terlahir dari keterampilan orang-orang yang masih memiliki keterbatasan dari segi pengetahuan merek, pengetahuan manajemen keuangan, pengetahuan bagaimana memperluas pasar.

Alhasil banyak UKM yang gulung tikar sebelum merasakan usahanya membesar, ada yang bertahan namun tertahan pada posisi yang sama. Disisi lain, telinga mereka mungkin jenuh oleh suara pembeli yang menawar tanpa tahu kondisi usahanya. Lalu apakah kita masih tega menawar serendahnya tanpa peduli apakah nanti penjual tersebut masih berjualan dengan kecilnya keuntungan.

Kembali terdengar suara percakapan di sudut pasar, yang sempat hilang.

"Ya udah ngga apa-apa teh, dua puluh ribu dapet empat...buat penglaris" jawab penjual dengan nada menyerah.

Setelah mendapatkan empat gelang yang diinginkan, si teteh beranjak meninggalkan pasar. Menyebrang jalan, dan masuk ke warung kopi ternama. Memesan segelas kopi seharga 18.789 rupiah tanpa ditawar malah memberi tips kepada pelayannya. Lalu duduk di sofa empuk, tak lama tiga orang temannya masuk. Si teteh memberikan tiga gelang tersebut kepada temannya sebagai hadiah. Mereka terlihat bahagia, sesekali serius membicarakan rupiah yang melemah dan kemiskinan  yang meningkat. Mereka mengobrol dengan gelang melingkar di pergelangan tangan masing-masing hasil menawar serendahnya di pasar tradisional.

Sore perlahan datang, sinar mentari meredup menjadikan teduh kawasan pasar tradisional. Semoga UKM tidak turut meredup dengan terbitnya kesadaran konsumen terhadap kondisi UKM di negeri kita tercinta ini. (ADI)

Rekomendasi

Baca Juga


jadwal-sholat