Opini Menilik Sebutan Buya Bagi Syafii Maarif

Menilik Sebutan Buya Bagi Syafii Maarif

sisiusaha (09/11)

creative people.. Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif (81 tahun) lahir di Sumpurkudus, Sijunjung, Sumatera Barat, adalah seorang ilmuwan dan pendidik Indonesia. Ia pernah menjabat Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah periode 2000 hingga 2005, Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP) atau Asosiasi kerukunan umat beragama dunia Sekretariat internasional bermarkas di New York City dan juga sebagai pendiri Maarif Institute.

Syafii Maarif menyelesaikan pendidikan S1 IKIP (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta) dan tamat pada tahun 1968, selanjutnya menekuni ilmu sejarah dengan mengikuti Program Master di Departemen Sejarah Universitas Ohio, AS. Sementara gelar doktornya diperoleh dari Program Studi Bahasa dan Peradaban Timur Dekat, Universitas Chicago, AS,

Jadi apabila dilihat dari disiplin ilmu dan pendidikan, secara akademis Syafii bukan ahli hadits maupun ahli tafsir, hanya saja pengalamannya dalam organisasi keagamaan Islam, Syafii banyak belajar tentang Islam. Pekerjaan Syafii Maarif sebagai ketua Asosiasi kerukunan umat beragama dunia menjadikan hari-harinya lebih banyak bergaul dengan berbagai tokoh lintas agama.

Melihat sikap Syafii Maarif sebegitunya membela Ahok, menjadi tidak heran. Apabila buka file-file lama di google, akan berserakan data-data bagaimana Syafii Maarif puja puji Ahok dan menghantam FPI dan juga MUI. Syafii telah lama benci dan dongkol kepada Habib Rizieq Syihab. Ia, bahkan merupakan tokoh pertama yang menyebut Habib Rizieq dengan preman berjubah.

Kenapa demikian? Karena Syafii tidak pernah mencoba cross check kepada Habib Rizieq. Syafii lebih nyaman makan-makan dengan Ahok dibanding mencoba mendatangi Habib Rizieq dan MUI untuk mengklarifikasi apa sebenarnya yang diingini.

Yang lebih "mengerikan" lagi adalah ide Syafii tentang pluralism Agama. Dalam kolom Resonansi di Republika, Syafii pernah menulis (intinya) bahwa jalan keselamatan tidak hanya Islam, tapi juga agama-agama lain. Maka jangan heran, karena aqidah Syafii seperti itu, maka kini ia bela mati-matian Ahok.

Lelaki yang pernah kuliah di Amerika ini lebih gawat lagi ketika membuat Maarif Institute. Dengan ideologi dasar pluralisme agama, maka Maarif Institute mengeluarkan buku Fiqih Kebinekaan, yang nampaknya dipersembahkan untuk Ahok atau pemimpin-pemimpin non Islam di negeri ini. Jangan heran bila "lembaga Amerika" kabarnya membantu dana besar untuk lembaga ini.

Lihatlah bagaimana "kerusakan ideologi Maarif Institute" ketika membuat survei dan kemudian menempatkan Bali sebagai kota yang paling Islami di Indonesia. Maarif Institute tidak melihat bahwa Bali pusat pergaulan bebas dengan berbagai jenis sarana kemaksiatan bagi wisatawan untuk bermabuk-mabukan, bagaimana bisa dikatakan paling Islami?

Melihat serangkaian fakta diatas tentang Syafii Maarif yang menyandang sebutan Buya, mungkin perlu sedikit dikoreksi. Definisi dari "Buya" menurut kamus ekabahasa resmi Bahasa Indonesia adalah gelar ulama atau kyai. Sementara kyai sendiri adalah seorang yang menjadi tokoh, panutan dan guru yang memberikan ajaran agama Islam dengan benar.

Kyai juga membela kepentingan ajaran Islam dengan hukum-hukumnya serta memperjuangkan aqidah keislaman bagi kalangan umatnya. Keberadaan Kyai dan atau "buya" merupakan suatu hal yang penting dalam kehidupan umat muslim. Dalam hal-hal prinsip pernyataan Kyai atau Buya tidak bersebarangan dan tidak kontroversial dengan mayoritas Kyai atau Ulama lainnya.

Bahkan yang sedang hangat dalam kasus penistaan agama Islam oleh Ahok, apakah masih pantas memiliki sebutan "Buya" bagi Syafii Maarif yang secara jelas membela Ahok dan bersebarangan pendapatnya dengan umumnya Kyai, Ulama, Habib, Ustadz bahkan MUI dalam membela agama Islam? Wallahu A'lam Bishawab. (M Abduh Baraba)

Rekomendasi

Baca Juga