Opini Pecah Telur, Lambang Awal Keberhasilan

Pecah Telur, Lambang Awal Keberhasilan

sisiusaha (17/10)

creative people.. Bahagia itu apabila dagangan yang ditawarkan terjual pada waktu pertama kali membuka lapak, toko maupun tempat usaha lainnya, itulah ukuran bahagia bagi para pedagang dan wirausahawan.

Pecah telur telah menjadi simbol awal dari keberhasilan atau kesuksesan, setidaknya menjadi sebuah harapan peralihan dari kebuntuan menuju jalan serta kelancaran usaha yang lebih terbuka.

Hal yang sama juga terjadi dalam dunia sepak bola, ketika tim kebanggan belum menjaringkan bola ke gawang lawan, tentu para suporter kecewa. Kekecewaan yang berlarut-larut jika sama sekali tidak ada gol. Dan gol pertama adalah simbol harapan. Kemudian, headline media pun memajang istilah pecah telur, sehingga menjadi gema kebahagiaan karena pecahnya gol pertama.

Entah siapa yang memulai menggunakan istilah pecah telur ini, namun istilah ini sudah semakin merakyat. Bahkan media massa pun ikut menyebarkannya pada judul beritanya untuk melambangkan awal keberhasilan dari sebuah tujuan.

Berbicara tentang telur, mayoritas kita akan membayangkan hewan berparuh bertaji berjambul berkokok dan tentu saja bertelur. Padahal telur begitu universal. Hewan reptil pun bertelur. Bedanya, hanya terletak pada cangkang saja. Cangkang adalah produk dinding sel telur yang mengeras. Proses ini adalah sebagai bagian dari adaptasi dengan lingkungan luar. Bukan evolusi, tapi karunia Sang Maha Kuasa.

Pecah telur dikaitkan pada cangkang itu. Apabila telur pecah, keluarlah sang anakan. Sebuah kehidupan baru akan muncul. Kehidupan baru inilah bahwa harapan itu telah lahir. Harapan dari sang induk agar kehidupan ke depannya akan jauh lebih baik lagi. Lahirnya generasi baru adalah sebuah simbol tentang masa depan. Inilah konsep dari pecah telur yang dimaksud. Langkah kebaikan pertama.

Sebuah keberhasilan awal kebangkitan untuk melangkah ke arah yang lebih baik lagi seharusnya menjadi landasan sebuah titik kemajuan yang jangan sampai kembali mundur kebelakang "point of no return". Mempertahankan sebuah prestasi bukan hal yang mudah, apalagi meningkatkan prestasi dari yang sudah ada. Perlu kerja keras, fokus dan konsisten dengan apa yang telah dilakukan.

Ketika harapan banyak orang agar bangsa ini bisa bangkit menjadi sebuah komunitas dunia yang diakui (tidak sebatas wilayah negara saja). Diakui tidak dari satu bidang atau wacana saja, tetapi juga dari berbagai obrolan di dunia internasional tentang hal yang telah dicapai dan diraih secara positif. Tentunya harus lebih banyak belajar, mendengar dan melihat setiap perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam masyarakat.

Mengingat begitu banyak dan besar potensi yang ada, seharusnya bangsa ini mampu tampil dengan penuh percaya diri. Perlu ditanamkan pula pemikiran dan sifat kemandirian yang tinggi kepada masyarakatnya. Tidak mudah puas dengan pencapaian awal namun harus berkesinambungan. Bagi pemimpinnya jangan lagi hanya mengejar pencitraan untuk kepentingan yang sempit.

Semoga kedepan dapat terjadi pecah telur dalam berbagai bidang yang berkelanjutan. Bukan hanya sesaat dan lalu dilupakan begitu saja. (M Abduh Baraba)

Rekomendasi

Baca Juga