Opini Jadikan Jack 'Alibaba' Ma Sebagai Penasihat E-Commerce RI, Jokowi Diminta Hati-Hati

Jadikan Jack 'Alibaba' Ma Sebagai Penasihat E-Commerce RI, Jokowi Diminta Hati-Hati

sisiusaha (20/9)

creative people.. Perlahan tapi pasti e-commerce Tanah Air merangkak berkembang dan siap bersaing dengan e-commerce global. Pemerintah berkeinginan untuk terus mengembangkan dengan mensupport secara aktif. Namun keinginan pemerintah untuk menunujuk Jack Ma, Bos Alibaba Group, perusahaan e-commerce besar asal China sebagai penasihat e-commerce Indonesia harus lebih hati-hati.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara meminta publik tak mempermasalahkan ditunjuknya Jack Ma, sebagai penasihat e-commerce Indonesia. Menurut dia, kesediaan Jack Ma untuk membantu Indonesia itu harusnya disambut baik. "Apalagi yang penasihat begini kan enggak digaji," kata Rudiantara di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Menurut Rudi, nantinya Jack Ma akan bertugas untuk memberikan saran dan masukan kepada Steering Commitee e-commerce Indonesia. Steering Commitee itu akan segera terbentuk melalui peraturan presiden dan dipimpin oleh Menteri Kooordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution. Dalam memberikan saran dan masukan, Jack Ma bisa menyampaikannya melalui surat elektronik (e-mail) atau konferensi video. "Kami kan mungkin bisa rapat setahun sekali fisiknya," kata Rudiantara.

Ia menambahkan, tujuan pemerintah meminta Jack Ma menjadi penasihat adalah untuk meningkatkan perdagangan e-commerce Indonesia hingga ke dunia internasional. "Saya sekarang sedang mencari sekelas Jack Ma juga yang lain. Agar orang di internasional melihatnya, 'Wah Indonesia ini serius dan mereka membuka akses pasarnya terutama untuk UKM'," kata dia.

Namun pendapat sebaliknya dari Pakar Digital Marketing, Anthony Leong meminta Presiden Jokowi untuk lebih hati-hati apabila jadikan Jack Ma sebagai penasihat e-commerce. Menurut Anthony, hal itu dikhawatirkan mengancam kelangsungan ekosistem industri start up lokal. Ia menegaskan industri startup Indonesia jangan sampai dikuasai oleh Jack Ma.

"Jika mau jadi penasihat boleh saja, akan tetapi harus sebatas mengarahkan, bukan menguasai. Jangan sampai jaringan startup China membunuh startup lokal kita," ujar Anthony yang juga seorang Fungsionaris Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) itu. Anthony sepakat bila yang dikedepankan ialah pengkolaborasian atau bersinergi satu sama lain, tetapi dengan catatan jangan sampai pengusaha startup di tanah air juga jadi pecundang. 

"Sinergi harus dikolaborasikan. Ekspansi diiringi sinergi itu lebih fair. Startup Indonesia tetap harus dipegang oleh kita sendiri. Meski ada nama besar bukan berarti mereka dengan suka hati menguasai perekonomian Indonesia," kata Anthony yang juga Komisaris PT Indo Menara Digital. Sebab, ada isu yang kian mencuat ke atas bila cenderung bisanya hanya jadi penasihat itu kesannya ada niatan "merampok" uang Indonesia.

Jika hal ini terjadi, imbasnya juga akan membuat defisit neraca perdagangan Indonesia. "Start up lokal juga sama, harus ada daya juang. Bila tidak ya Industri kita hanya akan digempur platform startup dari luar. Indonesia banyak startup yang berkompeten. Jangan sampai kinerja selama ini sia-sia kalau ada dominasi dari luar," lanjut Anthony. 

Sementara M Abduh Baraba CEO sisiusaha network menanggapi, "Dalam dunia bisnis tidak dikenal istilah membantu meningkatkan bisnis pesaing, dunia bisnis memiliki falsafah 'bisnis adalah bisnis,' membantu adalah sekedar bentuk kepedulian sosial untuk maslahat kemasyarakatan". Abduh mencontohkan "Philiph Morris International (perusahaan rokok besar dunia) tidak mengajarkan kepada perusahaan rokok HM Sampoerna untuk berkembang, tapi mereka membeli saham rokok HM Sampoerna terlebih dulu baru dikembangkan". Apalagi di jaman sekarang "no free for lunch" untuk urusan bisnis, tutup Abduh. (RED)

Rekomendasi

Baca Juga