Opini Revolusi ide dan kreatifitas..

Revolusi ide dan kreatifitas..

sisiusaha (9/10)

Ide-ide baru, bukan uang atau mesin, adalah sumber dari keberhasilan hari ini, dan sumber terbesar dari kepuasan pribadi. Ekonomi kreatif adalah revitalisasi manufaktur, jasa, ritel dan industri hiburan. Hal ini berubah di mana orang ingin hidup, bekerja dan belajar di mana mereka berpikir, menciptakan dan menghasilkan.
Ekonomi kreatif didasarkan pada cara berpikir baru dan melakukan. Input utama adalah bakat individu kita atau keterampilan. Sesuatu yang lebih penting adalah bahwa kreativitas kita mengubahnya dengan cara baru. Dalam beberapa sektor nilai output tergantung pada keunikan mereka, bagaimana dengan mudah dapat disalin dan dijual kepada banyak orang, pusat-pusat seni budaya, desain dan inovasi.
Ekonomi kreatif menyatukan ide-ide tentang industri kreatif, industri budaya, kota kreatif, cluster dan kelas kreatif. Itulah yang di sebutkan oleh John Howkins dalam bukunya yang berjudul "The Creative Economy: How People Make Money from Ideas".

Ide kreatif yang inovatif sekarang ini telah menjadi bahan bakar utama dalam dunia bisnis yang mengedepankan konsep kekinian.  Bahkan konon lahir posisi baru dalam struktur organisasi korporasi, yaitu CIO - Chief Inovation Officier. Sebuah posisi elit dalam organisasi yang memberikan kontribusi berupa ide ide kreatif kepada korporasi dan hal ini sangat diperlukan guna meningkatkan eksistensi dalam dinamika persaingan usaha. Originalitas ide merupakan nilai yang tak terduga yang mampu membuat perubahan besar pada perusahaan serta kepuasan pelanggan.

Begitu pentingnya arti menjadi kreatif di dunia yang semakin digital ini dan ternyata ada gap antara kebutuhan pekerja kreatif, industri kreatif dengan sebuah pakem konvensional pada kebijakan dalam korporasi. Salah satunya adalah belum siapnya mentalitas pekerja kreatif dalam sebuah posisi "kaku" dalam organisasi korporasi yang ada dan kurang mengertinya para petinggi perusahaan dalam memandang sikap para Pekerja kreatif yang dikenal sebagai orang-orang yang " nyeleneh" susah diatur, jam kerja tak teratur, bahkan terkadang sedikit menjengkelkan, sikap "nyeleneh dan nyeni" inilah yang sering bentrok dengan sikap "professional" yang di tuntut di dunia bisnis.  Namun output yang di hasilkan oleh pekerja kreatif yang "nyeleneh dan nyeni" ini mampu menaikkan penghasilan yang sangat signifikan bagi perusahaan.

Belajar dari Google yang telah mampu menyeimbangkan keinginan dari pekerja kreatif dan tuntunan bisnis, maka harus ada kompromi profesional sampai terjadinya sinergi positif, tempat, suasana, dan cara kerja yang inovatif pun di butuhkan. Di satu sisi butuh revolusi ide dan kreatifitas, disisi lain perlu dicermati sebuah revolusi industri dengan konsep kekinian. (MAB)

Rekomendasi

Baca Juga