Opini Ada hubungan apa ya, kemasan sama produk?

Ada hubungan apa ya, kemasan sama produk?

sisiusaha (7/10)

Masalah kemas mengemas sebuah produk, sepertinya sudah ada sejak dahulu kala. Entah sejak kapan, mungkin ketika manusia berfikir bagaimana membawa air dari sungai ke goa tempat tinggalnya dahulu. Atau ketika manusia berfikir bagaimana membawa bekal makanan ketika mereka pergi berburu. Ya intinya kemas mengemas ada ketika manusia mulai berfikir, dan mencari cara untuk membawa dan menyimpan sesuatu.

Waktu terus berjalan, dan daya berfikir manusia terus berkembang. Kemasan yang tadinya hanya sebagai wadah, akhirnya berkembang dimana kemasan dapat membawa ciri dan khas sebuah produk. Ambilah contoh ketupat dan leupeut (leupeut adalah makanan tradisional Sunda terbuat dari beras ketan), keduanya sama-sama dikemas dengan daun kelapa yang masih muda namun dari segi bentuk sangat berbeda. Perbedaan bentuk atau bisa dikatakan ciri, membuat orang mudah membedakan mana ketupat dan mana leupeut.

Bahkan ketupat dan leupeut menjadi sakral ketika manusia menghadirkan nilai filosofi pada kemasannya. Ketupat dianyam silang menyilang dan menjadi wadah yang kuat, bahkan untuk membukanya dengan mudah kita terkadang butuh pisau. Bisa saja secara filosofi memberikan pengertian bahwa momen Idul Fitri merupakan saat dimana umat Islam dapat membina tali silaturahim sehingga kerukunan dan kesatuan umat Islam dapat teranyam atau terjalin dengan kuat.
Lain hal dengan leupeut, yang disediakan pada acara-acara tertentu seperti tujuh bulanan, nincak taneuh, sunatan, nikahan, dan ritual adat lainnya. Leupeut dikemas dengan sehelai daun kelapa yang masih muda. Cara mengemasnya daun kelapa tersebut dililit-lilit memutar menyerupai tabung lalu diisi dengan beras ketan yang sudah dicuci bersih. Cara memakannya adalah dengan mengambil ujung daun paling atas dan diputar ke kanan. Secara filosofi Bisa sebagai symbol jalan kebenaran, atau jalan yang diridhoi oleh Tuhan. Kalau dipikir-pikir hal ini juga sama seperti tawaf (mengelilingi Ka’bah).

Baru sebatas Ketupat dan leupeut, masih banyak produk tradisional seperti bacang, tantang angin, takir, lemper, dan lainnya. Dan yang terpenting dari semua itu, kemasan makanan tradisional hampir semuanya ramah lingkungan selain tentu saja ramah di perut.

Pada hari ini entah tepatnya sejak tahun berapa, dunia makanan dan minuman semakin berkembang. Dari makanan paling sehat sampai makanan paling tidak sehat, dari minuman paling mahal sampai minuman paling murah. Makanan atau minuman yang tidak sehat dapat diperjual belikan bebas di minimarket dan supermarket. Kenapa? Karena secara kemasan produk itu layak diletakan di etalase toko, kedua karena merek produk tersebut sudah dikenal banyak orang. Ketiga dengan adanya kemasan yang menarik dan merek yang terkenal, produk tersebut dapat dijual dengan harga mahal sehingga keuntungan tinggi. Masa bodoh dengan kesehatan para konsumen, kalau mereka sakit tinggal ke rumah sakit, klinik, dikasih obat. Atau merek tersebut menjual obat untuk penyakit yang dapat ditimbulkan oleh produknya yang lain.

Sehat mana ya antara Chiki atau Taro dengan Rengginang, kenapa orang khususnya anak muda lebih memilih membawa Taro atau Chitato daripada Rengginang untuk pergi liburan, lalu kenapa Rengginang jarang hadir di etalase supermarket atau minimarket? Dan seandainya, kalau rengginang rasa rumput laut, rasa cumi bakar, atau rasa barbeque sepertinya enak tuh ha..ha..ha..ha

Kemasanlah yang membuat Chiki atau Taro terlihat lebih higienis atau sehat, kemasan pulalah yang membuat Chitato dirasa lebih ekonomis untuk dibawa liburan, dan karena kemasan jugalah Rengginang jarang dijumpai di Supermarket dan minimarket.

Kemasan tidak hanya sebatas sarana wadah produk, tapi di dalamnya terdapat unsur-unsur yang kasat mata seperti warna, bentuk, gambar. Serta unsur tidak kasat mata seperti nilai filosofis, kesan yang dapat merangsang fikiran dan imajinasi orang yang melihatnya. Sehingga pada satu momen, orang akan membeli produk walaupun tidak pernah mencicipi isinya tapi hanya karena kemasannya.

Namun kemasan semenarik apapun akan membuat orang kecewa jika rasa dan kualitas di dalamnya tidak sesuai, kalau kata para dosen, kemasan tidak berbanding lurus dengan isi. Beda halnya dengan kemasan yang jelek tapi rasa dan kualitas di dalamnya sangat enak dan bagus, orang akan tetap membelinya.

Ibarat kata entah siapa “Kesan pertama dari kemasannya, selanjutnya rasa di dalamnya, selanjutnya terserah anda”. Jadi hubungan antara kemasan dengan produk, ibarat hubungan pakaian dengan manusia. Manusia tanpa pakaian, dia tidak bisa pergi jauh kemana-mana seperti produk tanpa kemasan yang hanya bisa dijual terbatas pada suatu tempat. Jika manusia ingin pergi ke Istana Presiden, tentulah dia harus berpakaian yang terbaik. Maka jika produk ingin menembus pasar yang lebih tinggi, kemasannya juga harus menyesuaikan.  (ADI)

Rekomendasi

Baca Juga