Opini Adakah Kepentingan Ahok Dalam Pengangkatan Budi Gunawan Menjadi Kepala BIN...?

Adakah Kepentingan Ahok Dalam Pengangkatan Budi Gunawan Menjadi Kepala BIN...?

sisiusaha (06/9)

creative people.. Tidak seperti biasanya seorang Menteri langsung yang mengantarkan surat dari Presiden untuk pencalonan kepala lembaga di eksekutif maupun yudikatif, seperti Kapolri, Jaksa Agung, Duta Besar, dan sebagainya. Biasanya, surat penting dari presiden itu hanya disampaikan oleh seorang deputi atau bagian surat menyurat di Sekneg.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno tiba-tiba menampakkan diri di Gedung DPR sekitar Pukul 10.00 WIB Jumat (2/9). Pratikno hendak menemui pimpinan DPR untuk menyampaikan hal penting untuk segera dibahas di legislatif. Pratikno membawa amanah dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) berupa surat resmi Istana. Surat tersebut berisi tentang calon Kepala Badan Intelijen Negara (BIN). Jokowi menunjuk Wakapolri Komjen Pol Budi Gunawan menggantikan Sutiyoso menjadi kepala BIN.

Budi Gunawan memang bukan orang jauh bagi Jokowi, terlebih PDIP partai utama pengusung presiden di Pilpres 2014. Budi Gunawan merupakan mantan ajudan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri saat menjadi Presiden kelima RI. Bahkan Budi Gunawan disebut salah satu orang yang mendukung pasangan Jokowi-JK di Pilpres.

Pengamat pertahanan dan intelijen, Connie Rahakundini mempertanyakan keputusan Jokowi menunjuk Budi sebagai KaBIN. Menurut dia, seorang KaBIN harus memiliki kapasitas jangan sampai bernuansa politis. "Apakah betul harus dipegang oleh yang berlatar belakang polisi? Penunjukan BIN tidak boleh hanya menempatkan orang tertentu di waktu tertentu, jangan sampai dipolitisir," kata Connie dalam diskusi bertajuk 'Ini dia Kepala BIN baru' di Jakarta, Sabtu (3/9).

Dia mengingatkan jika peran KaBIN di sebuah negara sangat sakral. Sebab, segala informasi ditampung oleh BIN. Untuk itu, Connie menegaskan posisi KaBIN harus diisi oleh orang yang tepat. "Jangan sampai institusi sepenting dan sestrategis ini jadi menampung kemauan politisi. Kalau di tempat lain enggak masalah. Kita kan tahu di belakang Budi Gunawan siapa?" katanya.

Desmond J Mahesa, Ketua DPP Partai Gerindra, mengatakan untuk berhati-hati dalam meloloskan Wakapolri Komjen Pol Budi Gunawan sebagai calon Kepala Badan Intelijen Negara (BIN). Sebab, bisa saja nantinya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dapat mengungkit soal dugaan kepemilikan rekening gendut yang membuat Budi Gunawan kala itu batal menjadi Kapolri.

Tak hanya itu, politikus Gerindra ini juga mengendus agenda lain dari penunjukan Budi Gunawan sebagai calon Kepala BIN. Menurut Desmond, yang perlu diwaspadai adalah dugaan bahwa Budi Gunawan mampu menggerakkan kepolisian dalam Pilpres 2014 untuk memenangkan Joko Widodo. Dia khawatir hal ini akan terulang di Pilpres 2019. Pada saat pemilihan Jokowi kemarin menggunakan aparatur kepolisian untuk pilih Jokowi. Apa yang terjadi di 2019 kalau jadi seperti itu?" tegas Desmond dengan penuh tanda tanya.

Beredar rumor ada deal politik atau barter di balik pencalonan Budi Gunawan. Pakar Hukum Tata Negara, Yusril Izha Mahendra mengatakan, ada deal politik yang dilakukan Presiden Joko Widodo dengan Ketua Umum DPP PDI-Perjuangan Megawati Soekarnoputri terkait pencalonan Komjen Polisi Budi Gunawan sebagai calon kepala BIN.

"Para politisi dan analis meyakini bahwa kalau Pak Jokowi mengajukan Budi Gunawan sebagai kepala BIN, maka PDIP akan mendukung Basuki T Purnama (Ahok) pada pilkada mendatang. Itulah yang sudah diprediksi dalam bargain politik ini," kata Yusril di Jakarta, Minggu (4/9). Ia berpendapat, meski di internal PDI Perjuangan menentang hal tersebut, namun arah semakin terlihat karena di internal partai berlambang kepala banteng itu terus memberi sinyal mendukung calon petahana. "Kita menganggap kecenderungan terbesar tetap akan mendukung Pak Ahok," ucap Yusril.

Guru besar psikologi politik UI, Hamdi Muluk, melihat Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri memang punya kedekatan dengan Komjen Budi Gunawan. Disaat Komjen Budi Gunawan ditunjuk Jokowi jadi calon Kepala BIN, di saat yang bersamaan Megawati memasuki injury time untuk memutuskan nama cagub DKI. Seperti diketahui elite PDIP mengakui salah satu opsi terkuat PDIP saat ini adalah mendukung cagub DKI incumbent Basuki Tjahaja Purnama yang konon juga mendapatkan dukungan kuat dari Presiden Jokowi. Wagub DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat bahkan berulangkali menyebut peluang duet Ahok-Djarot masih terbuka.

Lalu apakah dengan adanya kesepakatan soal Komjen Budi Gunawan yang akhirnya mendapat tempat di Kepala BIN, apakah PDIP juga akan ikut Jokowi mendukung pencalonan Ahok ke Pilgub DKI? "Apakah ada kaitannya dengan pencalonan Pak Ahok dengan kesepakatan ini saya nggak tahu. Yang kita tahu pencalonan PDIP itu siapa yang akan diusung itu di tangan Ibu Mega. Seperti bajaj mau belok kanan atau kiri hanya Bu Mega dan Tuhan yang tahu," pungkas Hamdi sembari tertawa. (RED)

Rekomendasi

Baca Juga


jadwal-sholat