Opini Jurus Sang Bupati UU 'Menjual' Tasikmalaya Melalui Beras Organik

Jurus Sang Bupati UU 'Menjual' Tasikmalaya Melalui Beras Organik

sisiusaha (02/9)

creative people.. Banyak cara para kepala daerah berjuang untuk memakmurkan serta meningkatkan perekonomian warganya. Kejelian seorang kepala daerah menangkap potensi yang ada di daerahnya, mengembangkan, mengolah dan seterusnya 'menjual' ke pasar luas merupakan sebuah prestasi yang patut diapresiasi.

Begitulah sang Bupati Kabupaten Tasikmalaya H Uu Ruzhanul Ulum ketika melihat potensi pertanian beras organik di daerahnya yang telah sejak tahun 2003 dirintis produksi beras organik. Awalnya produk beras organik belum begitu populer dikenal, namun dengan ketekunan Gapoktan (Gabungan kelompok Tani) Simpatik yang berada di wilayah kabupaten Tasikmalaya akhirnya berhasil mengekspor beras organik ke mancanegara sejak tahun 2009.

Ketua Gapoktan Simpatik Uu Saeful Bahri mengatakan, sejak menggarap lahan sawah organik tahun 2003 dan melakukan ekspor pada 2009, sebanyak 22 kelompok tani berada dalam naungannya. Dan kini lahan sawah organik kelompoknya mencapai lebih 300 hektar. Pada 2015 sebanyak 11 kontainer beras organik di ekspor ke tujuh negara tersebut, yang berlanjut pada 2016 ini, sebanyak tiga kontainer telah dikirimkan ke luar negeri.

Beras organik merupakan beras premium yang harga jualnya sampai dengan 4 kali lipat dari harga beras non organik. Kecenderungan masyarakat moderen saat ini lebih memilih produk organik untuk konsumsi. Kesadaran akan nilai kesehatan yang tinggi membuat permintaan akan produk organik semakin tinggi.

Menurut Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat menghadiri acara pelepasan 'Sewindu Ekspor Beras Organik Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Simpatik' di Desa Mekarwangi, Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (1/9/2016) ingin membuka 15.000 hektar lahan sawah organik di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Dalam acara tersebut, sebanyak 40 ton beras organik yang dihasilkan Gapoktan Simpatik akan diekspor ke Belgia. Pemerintah pun, lanjut Amran, akan mendukung dan mendorong ekspor beras organik. Selain Belgia, beras organik Indonesia sudah menembus pasar di beberapa negara, seperti Italia, Amerika, Singapura, Malaysia, dan Uni Emirat Arab (UEA). Kecenderungan negara luar menyukai produk organik memang sejalan dengan meningkatnya pasar produk tersebut.

Menurut data yang dikeluarkan Dinas Pertanian Tasikmalaya, setiap tahun pangsa pasar organik global selalu meningkat 20 persen. Pada 2013 saja nilai pasar organik global mencapai 72 miliar dollar AS. Berdasarkan data hasil Research Institue of Organic Argiculture dan International Federation of Organik Agriculture Movements (IFOAM) tahun 2015, Amerika menjadi pasar produk organik terbesar dengan nilai mencapai 27,04 milliar dollar AS. Di posisi kedua ada Jerman dengan nilai 8,45 miliar dollar AS, Prancis 4,8 miliar dollar AS, dan China 2,67 miliar dollar AS.

Melihat besarnya potensi ini Bupati Tasikmalaya Uu Ruzhanul Ulum, telah melakukan langkah strategis dalam rangka pengembangan produksi beras organik di wilayahnya. Dari persiapan lahan baru, bimbingan serta penyuluhan bagi petani untuk mengawal proses penanaman serta membuat pola promosi yang efektif.

Bupati Tasikmalaya Uu Ruzhanul Ulum menyebutkan, mulai saat ini tengah dicari lahan sawah serta kelompok tani yang siap untuk mencetak lahan sawah organik dengan target 5.000 hektar. "Lahan sawahnya yang sudah ada, hanya sistem tanamnya yang dilakukan secara organik. Gapoktan Simpatik silakan nanti bisa menjadi konsultan dan lainnya sehingga program ini benar-benar bisa berjalan lancar," ujarnya. (RED)

Rekomendasi

Baca Juga