Opini Jakarta Spring, Gerakan Kesadaran Rakyat

Jakarta Spring, Gerakan Kesadaran Rakyat

sisiusaha (27/8)

creative people.. Pertarungan politikus untuk memperebutkan jabatan tak hanya di dunia nyata. Pertarungan sengit justru terjadi di dunia maya alias media sosial. Bahkan tak jarang media sosial dijadikan tempat untuk melakukan kampanye hitam terhadap lawan politik yang dituju. Tujuannya satu, untuk mempengaruhi para pengguna media sosial dalam memilih.

Ada sebuah makalah yang amat menarik berjudul, "The Arab Spring story in a nutshell: Fake springs, post-modern coup d’etat." Makalah yang ditulis oleh Profesor Emeritus of Economics Drake University, Ismael Hossein-Zadeh ini membantah teori bahwa Arab Spring pada 2011 adalah gerakan murni masyarakat via media sosial.

Profesor berdarah Kurdi itu menilai, Arab Spring di Tunisia dan Mesir memang awalnya adalah sebuah gerakan yang alami. Ini berdasar kekecewaan rakyat terhadap pemerintahan otoriter Ben Ali dan Husni Mubarak. Namun tumbangnya Ben Ali dan Mubarak yang merupakan sekutu dekat Amerika dan Israel, membuat dunia barat khawatir. Terlebih arah gerakan via sosial media itu mulai mengancam sekutu utama barat di Arab, yakni Bahrain dan Arab Saudi. Aksi unjuk rasa mulai menggoyang kedua negara itu.

Ismael lantas mengungkap bahwa sejak itulah Arab Spring (Kebangkitan Dunia Arab) mulai disetir. Arah jatuhnya domino tak lagi alami, melainkan diatur. Strategi propaganda Arab Spring pun mulai diarahkan ke Suriah dan Libya dengan menunggangi media, aktivis bayaran, lembaga HAM, hingga tentara siber. 

M Abduh Baraba, CEO sisiusaha network mengungkapkan bahwa dalam era digital saat ini, bentuk propaganda politik melalui media sosial merupakan strategi efektif dalam membangun opini publik. Pemanfaatan proxy war sebagai alat ukur kekuatan lawan juga dapat ditakar lewat media sosial. Tanpa harus membuat anggaran besar dan meminimalisir kontak fisik pertarungan antar pendukung calon pemimpin masing-masing jagoannya lebih mudah dikendalikan melalui media sosial.

Sebuah gerakan politik dirancang via sosial media tidak sekadar membuat bangunan sekali jadi. Lebih dari itu, sebuah rancangan gerakan politik punya muatan jarak jauh dan lebih besar ketimbang yang terlihat di media. Motif utama dalam sebuah gerakan politik kadang begitu kabur. Sehingga begitu sulit untuk membaca maksud utama di balik sebuah gerakan tersebut.

Fenomena di balik gerakan politik via sosial media yang kini sedang hangat terjadi di perpolitikan nasional. Salah satu bahasan yang paling hangat di dunia sosial media adalah soal sepak terjang Basuki Tjahaja Purnama, alias Ahok. Gerakan politik dalam mendukung Ahok begitu masif di sosial media. Gerakan ini bermula dari kemunculan Ahok pada 2012. Ahok terlihat begitu tak tertandingi. Sosoknya yang dicitrakan tegas, jujur, dan bersih melekat begitu erat, tokoh ini ibarat nyaris tanpa cela. Tapi sebagai seorang pejabat publik, tak bisa dipungkiri polesan media pula yang membuat kedua orang ini terlihat mengilap. Memang bukan cuma Ahok. Sebab hampir semua politikus kini memiliki tim sosial medianya sendiri.

Sebuah gerakan rekayasa di sosial media tersebut lazim terjadi di dunia politik dewasa ini. Sehingga lazim saja jika ada gerakan propaganda dukungan yang gencar dilancarkan di sosial media. Proses sosialisasi yang berlangsung di dunia maya itu punya karakter unik. Sebab mayoritas pengguna sosial media ternyata berada di posisi pendengar atau pengikut (followers). "Cara umum sosial media bekerja adalah mendengar terlebih dahulu, memahami konteks pembicaraaan, barulah mereka (pengguna) berbicara (bersikap) di akhir," begitu penjelasan Social Media Bible. 

Fase pertama adalah mendengar. Lantas siapa yang didengar masyarakat di sosial media? Biasanya sumber suara yang didengar adalah orang yang punya pengaruh, akademisi, artis, atau aktivis. Istilah kerennya disebut 'selebritis' sosial media. Fase kedua adalah proses pemahaman. Dalam proses ini, masyarakat yang memperoleh setiap informasi di sosial media mulai melakukan verifikasi. Biasanya dengan membandingkan informasi di sosial media dengan berita di media konvensional. Bisa pula proses pemahaman ini datang lewat pengalaman empiris. Fase terakhir barulah rakyat memutuskan bersuara.

Hal ini menjelaskan bahwa senjata militer kalah ampuh dengan senjata sosial media yang relatif murah dan punya impak yang lebih dahsyat. Sebab senjata militer hanya bisa meggoyahkan fisik. Tapi senjata sosial media bisa menggoyahkan hati atau kepercayaan diri. Seluruh tokoh politikus pun kini butuh sosok selebritis dunia maya yang punya kemampuan untuk menyetir pengaruh di sosial media.

Tak heran maka banyak tokoh hingga kekuatan politik yang membentuk cyber army (tentara siber). Tentara ini punya fungsi untuk bertarung informasi di dunia maya, termasuk sosial media. Tentara siber itu tak mesti harus berbentuk institusi khusus. Bisa saja si tentara siber itu adalah artis, musisi, atau aktivis. Yang terpenting tentara siber itu bisa menjadi ‘selebritis’ yang didengar oleh pengguna sosial media.

Saat ini sulit memisahkan mana gerakan politik yang benar-benar murni untuk kepentingan rakyat. Jakarta Spring mencoba membukakan kesadaran rakyat terhadap kebohongan media, skenario kepentingan sempit penguasa dan pengusaha serta konspirasi jahat asing. Selamatkan negeri selagi bisa, lakukan dengan cara cerdas dan bersama-sama untuk generasi berikutnya sejahtera. (RED)

sumber: Ismael Hossein-Zadeh (Emeritus of Economics Drake University),  Sammy Abdullah (Republika), M Abduh Baraba (sisiusaha network)

Rekomendasi

Baca Juga