Opini Bahaya Hutang

Bahaya Hutang

sisiusaha (11/8)

creative people.. Islam mengajarkan agar tidak mudah melakukan tindakan hutang, akan tetapi Islam membolehkan meminjam dan berhutang bagi mereka yang memerlukannya. Namun demikian, ia tidak boleh dijadikan sebagai cara dan wasilah untuk bermewah mewah dan bermegah-megah , atau dibuat dengan berleluasa tanpa keperluan dan  asas yang benar.

Ada beberapa urusan yang apabila tidak dipenuhi akan membahayakan seseorang dalam hidupnya, seperti ketika sakit, kelaparan atau untuk keperluan modal produktif dan perniagaan, maka dapat dibenarkan apabila tidak ada cara lain kecuali berhutang untuk itu. Namun ketika berhutang hanya untuk memenuhi dan mendapatkan barang keperluan dan perkara yang bersifat konsumtif, ini menjadi persoalan yang membahayakan.

Berhutang pada sebagian orang telah menjadi  budaya untuk  menunjukkan kemewahan dan bermegah-megah dengan harta dan barang yang mereka miliki, menampakkan kemewahan untuk  mendapatkan semua yang baru, meskipun yang lama masih bagus atau  barangkali hanya baru dipakai sekali atau dua kali saja.

Kemudahan berhutang juga menjadi faktor pemicu, penawaran berbagai kebutuhan konsumerisme dengan cara hutang bukan lagi hal sulit didapat. Banyak hal yang bukan menjadi kebutuhan penting sekalipun mudah dimiliki. Pakai dulu bayar kemudian, liburan dulu bayar kemudian dan lain sebagainya. Anehnya banyak kalangan yang ketika memiliki hutang, justru menjadikan sebuah kebanggaan, karena mereka merasa dipercaya oleh pihak yang memberikan hutang. Fenomena ini terjadi ditengah-tengah kehidupan masyarakat.

Semakin banyak transaksi berdasarkan  hutang akan berakibat makin berkembang amalan riba, penghianatan, penyogokan, penyimpangan muamalah, penipuan, pemerasan dan juga korupsi. Dalam satu hadis diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW kerap mengajarkan kepada  umatnya  supaya berdoa dilepaskan dari hutang: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari pada dosa dan hutang." Lalu Rasulullah ditanya: "Mengapa engkau sering meminta perlindungan dari pada hutang, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Jika seseorang berhutang, apabila berbicara dia dusta, apabila berjanji dia mengingkari." (Riwayat Al-Bukhari, 1/214).

Tidak sedikit orang yang suka berhutang atau meminjam dengan niat untuk tidak memulangkan kembali. Mereka ini lupa pada sabda Nabi SAW "Barang siapa meminjam harta orang lain dengan niat ingin mengembalikannya, Allah akan mengembalikan pinjaman itu, namun siapa yang meminjamnya dengan niat ingin merugikannya, Allah akan merugikannya." (Riwayat Al-Bukhari, 2/83).

Budaya suka meminjam berpotensi menyebabkan seseorang menjadi Muflis (bangkrut) diakhirat nanti. Sekiranya mereka tidak dapat melunaskan hutang mereka didunia, mereka akan dituntut membayarnya di akhirat. Dari Abu Hurairah RA, bahwa Nabi SAW, bersabda: "Tahukah kamu siapakah  orang Muflis?” Sahabat-sahabat Baginda menjawab:  "Orang Muflis di antara kami, ya Rasulullah ialah orang yang tidak ada uang  dan tidak ada  harta benda." Nabi SAW bersabda: "Sebenarnya orang Muflis dari kalangan umatku ialah orang yang datang pada hari qiamat membawa pahala sholat , puasa dan zakat,  sedangkan mereka datang dengan kesalahan memaki, orang ini  banyak menuduh,  memakan harta orang lain, menumpahkan darah, memukul orang, maka kelak akan diambil dari amal kebajikannya untuk  diberi kepada orang ini dan orang itu, kemudian kiranya telah  habis amal kebajikannya sebelum habis dibayar kesalahan-kesalahan yang ditanggungnya, maka akan diambil pula dari kesalahan-kesalahan orang yang dianiayanya dan akan  ditimpakan ke atasnya, kemudian ia dilemparkan  ke dalam Neraka.

Untuk mengatasi sikap suka berhutang, harus mengetahui faktor-faktor yang menjurus kepadanya dan segera  diatasi dan diperangi dengan gigih dan sabar. Seorang harus merumuskan cara melawan musuh dan hasutan syaitan atau mengikut hawa nafsu, cinta akan dunia, tamak, riya’, takabbur, hasad, suka pamer dan tidak bersyukur dengan yang ada. Hal ini adalah faktor penyumbang kepada tabiat suka berhutang yang akan membawa kepada kesengsaraan di dunia dan akhirat. (MAB)

Rekomendasi

Baca Juga