Opini Usaha Kreatif Gudeg 'Kalong' Ceker Bu Kasno Solo

Usaha Kreatif Gudeg 'Kalong' Ceker Bu Kasno Solo

sisiusaha (07/8)

creative people.. Gudeg itu bukan hanya ada di Jogja. Di kota Solo 60 km sebelah timur Jogja juga memiliki gudeg. Sedikit agak beda antara gudeg Jogja dengan Solo. Walaupun sebutan kota gudeg itu melekat pada Jogja, namun ada gudeg yang sangat populer di kota Solo. Gudeg ceker Bu Kasno namannya, bertempat di daerah Margoyudan Solo.

Uniknya warung gudeg ceker ini buka mulai tengah malam alias kalong, tapi pengunjung selalu saja ramai. Entah masyarakat solo banyak yang begadang atau sengaja bangun tengah malam. Konsep ini bisa dikatakan unik dan kreatif, selain juga berani mengawali usaha yang jam bukanya tidak lazim. Namun justru karena keunikannya inilah yang memiliki disparitas dengan usaha sejenis lainnya, sehingga memunculkan rasa penasaran masyarakat untuk mencoba.

Kenyataannya gudeg ini begitu populer di daerah Solo dan sekitarnya, bahkan banyak wisatawan luar daerah yang sedang berlibur di Solo rela bangun tengah malam untuk menikmati kuliner yang satu ini. Coba tanyakan kepada traveler yang berasal dari Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota besar lainnya tentang gudeg yang satu ini, umumnya mereka mengenal bahkan menjadi kuliner wajib yang harus dikunjungi ketika sedang berada di Solo.

Setiap hari, warung ini buka dari jam 01.30 sampai 07.00 WIB. Namun menjelang subuh, biasanya gudeg ceker sudah habis dibeli pelanggan. Meskipun hanya buka pada dini hari, gudeg ini menjadi incaran bagi para pemburu kuliner yang dilanda kelaparan selepas tengah malam. Bila akhir pekan tiba, antrean pengunjung memenuhi warung tenda berukuran sekitar 20 meter persegi itu. Tampak deretan mobil dan motor diparkir di depan warung yang dapat ditempuh dari arah Stasiun Balapan, lurus ke arah timur sekitar satu kilometer.

Di dalam warung, Bu Kasno duduk dan siap melayani pesanan para pembeli. Di hadapannya ada baskom-baskom berisi gudeg, sambel goreng, ceker ayam, dan aneka lauk pauk seperti ayam, telur pindang, dan tahu tempe. Pengunjung bisa memesan gudeg, lauk, dan cakar ayam sesukanya. Tidak jarang ada pembeli yang memesan cakar ayam hingga 10 buah. Di warung ini tidak ada meja kursi. Pengunjung menyantap gudeg ceker sembari duduk berdempetan.

Seporsi gudeg dengan lauk ayam suwir dan tentu saja tiga ceker ayam diracik oleh Bu Kasno dengan sigap, kurang dari dua menit. Porsinya bisa dibilang sedikit. Tapi cocok untuk disantap pada anomali jam makan ini, khususnya bagi para ‘kalong’ yang menghindari konsumsi karbohidrat terlalu banyak. Ditemani suara deru mesin bus-bus luar kota yang sesekali melintas, karena lokasi ini merupakan perlintasan bus antar kota jurusan timur yang akan keluar masuk terminal Solo.

Berbeda dengan gudeg Yogya yang rasanya dominan manis, gudeg racikan Bu Kasno cenderung lebih asin dan gurih. Sajian gudeg ceker terasa semakin nikmat dengan kuah serta bumbu areh berwarna putih pucat yang disiram di atasnya. Sambel gorengnya juga istimewa. Kerupuk rambak kulit sapi benar-benar terasa. Jika masih merasa kurang pedas, pengunjung bisa bebas mengambil sambal matang yang tersedia di dalam wadah kendi.

Setelah mencicipi gudeg dan sambal goreng, tiba waktunya menjajal ceker atau kaki ayam yang kondang itu, sesaat pertama mencecap, ceker ayam terasa sangat lembut. Sampai-sampai hanya dengan disesap, seluruh daging dari ceker ayam telah lumer di mulut. Rasa gurih dari santan terasa hingga ke dalam bagian tulang. Di tangan Bu Kasno, ceker ayam yang kaya akan protein dan kolagen berhasil disulap menjadi hidangan yang istimewa. (RED)

Rekomendasi

Baca Juga