Opini Potensi Zakat Indonesia Rp 286 Trilyun Untuk Dana Murah Pembangunan Atau Peningkatan Ekonomi Umat

Potensi Zakat Indonesia Rp 286 Trilyun Untuk Dana Murah Pembangunan Atau Peningkatan Ekonomi Umat

sisiusaha (12/6)

creative people.. Ramadhan merupakan bulan penuh berkah dan bulan pengampunan, selain itu di bulan ramadhan juga menjadi momentum besar dalam penyaluran zakat, sedekah dan infak di banding bulan bulan lainnya.

Menurut penelitian tentang potensi zakat di Indonesia yang dilakukan oleh Baznas bekerja sama dengan IPB atas dasar PDB 2010 menunjukkan bahwa potensi zakat tersebut pada 2010 adalah Rp 217 triliun. Jika diekstrapolasikan dengan memperhitungkan pertumbuhan ekonomi nasional tahun-tahun sesudahnya, potensi tersebut pada 2015 mencapai Rp 286 triliun. Sementara, penghimpunan zakat nasional pada 2015 diperkirakan hanya sekitar Rp 4 triliun atau 1,4 persen dari potensinya. Betapa besar manfaat zakat bagi umat Islam pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya yang hilang karena masih amat rendahnya total penghimpunan zakat. Sebuah nilai yang fantastis apabila benar dapat terealisasi namun kenyataan yang terjadi justru sebuah ironi, kesenjangan sosial di Indonesia semakin tinggi akhir-akhir ini.

Bambang Sudibyo Ketua Baznas mengakatakan, kesenjangan sosial di Indonesia sudah amat tinggi akhir-akhir ini sebagaimana terindikasi dari perkembangan rasio gini. Selama rezim Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto yang dikenal otoritarian dan dekat dengan para kroni konglomeratnya, rasio gini tidak pernah melampaui angka 0,35. Selama era Reformasi, rasio ini tumbuh cepat dan pada 2010 tembus angka 0,40, suatu batas ambang yang menurut konsensus para ekonom pada tingkat itu kesenjangan sosial sudah terlalu tinggi dan tidak lagi wajar serta berbahaya. Rasio gini 0,40 bisa diartikan sebagai kondisi ketika satu persen  WNI terkaya menguasai 40 persen aset nasional. Pada tahun-tahun selanjutnya, rasio ini terus naik hingga pada 2014 mencapai 0,42 meskipun pada 2015 turun kembali menjadi 0,40. 

Sebetulnya, kesenjangan sosial, bila terkendali, adalah suatu hal yang wajar dan alami, bahkan merupakan sunatullah. Tanpa adanya kesenjangan sosial, proses ekonomi dan sosial akan menjadi sulit terjadi. Jika semua orang kaya dengan kekayaan dan status soial yang sama rata, siapakah yang bersedia bekerja menjadi bawahan? Tentu saja tidak ada. Yang penting, kesenjangan sosial itu terkendali dan masih dalam batas wajar. Jika terlalu ekstrem, yang berarti rasio gininya 0,40 atau lebih, akan muncul kecemburuan sosial yang berbahaya, Lanjut Bambang.

Menurut M Abduh Baraba, CEO sisiusaha network, paling tidak ada tiga hal utama yang perlu diperhatikan agar target potensi zakat dan penyerapan tercapai. Pertama adalah kesadaran umat muslim dalam mengeluarkan zakat sesuai dengan hukum agama Islam yang berlaku. Namanya juga kesadaran, sehingga sulit menemukan alasan yang terukur dalam besaran zakat yang seharusnya dikeluarkan, mungkin disini perlu peran ekstra para dai dan ulama agar umat muslim secara keseluruhan menjadi sadar dan melakukan kewajibannya mengeluarkan zakat yang memang bukan menjadi hak dirinya.

Kedua adalah persoalan pengumpulan dan distribusi zakat, dimana masih sangat banyak umat muslim menyalurkan secara langsung kepada mustahiq (penerima zakat). Tidak ada yang salah dalam menyalurkan zakat secara individual, namun sulit mendapatkan kepastian data lapangan serta koordinasi program yang sedang di jalankan oleh Badan Amil Zakat dalam target target tertentu guna mensukseskan dan peningkatan kesejahteraan umat. Masih banyaknya penyaluran zakat secara langsung dikarenakan kurangnya kepercayaan kepada Badan Amil Zakat dan merasa apa yang menjadi target dan sasaran berbeda dengan kondisi lapangan yang ada disekitar muzakki (orang yang wajib mengeluarkan zakat).

Dalam Surah at-Taubah [9] ayat 60 Allah berfirman sebagai berikut "Innamassadaqatu lilfuqara’i walmasakini wal'amilina'alaiha walmu’allafati qulubuhum wa firriqab walgarimina wafisabi lillahi wabni sabili, faridatam minallah wallahu 'alimun hakimun" yang artinya (Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana).

Dengan demikian ketika dipandang oleh seorang muzakki terdapat suatu kondisi yang memang lebih tepat dalam penyaluran zakatnya dan mungkin kondisi lokal tersebut tidak terdeteksi oleh Baznaz, maka hal ini menjadi lebih wajib hukumnya. Solusinya agar keinginan lembaga amil zakat menjadi satu-satunya sarana penyaluran zakat maka perlu sebuah koordinasi secara luas dan menyeluruh serta meningkatkan performa dalam meraih kepercayaan sehingga jelas pencapaian, pemerataan serta tepat sasaran.

Ketiga adalah sikap dari para mustahiq, agar tidak lebih mengutamakan pembelanjaan dari hasil zakat yang diterima untuk porsi yang lebih besar dalam bidang komsumtif. Hal ini terjadi karena biasanya para mustahiq mendapat zakat saat menjelang lebaran, sehingga secara psikologis dan manusiawi keinginan dalam berlebaran menggunakan sesuatu yang baru tidak dapat dielakkan. Persoalannya karena kurangnya sebuah masukan, penyuluhan dan bimbingan agar lebih mengutamakan kepada hal yang produktif sehingga zakat yang diterima dapat dijadikan modal usaha dan menjadi sumber pendapatan ekonomi dimasa mendatang secara lebih mandiri.

Besarnya potensi zakat yang mencapai Rp 286 triliun ini sudah seharusnya dapat memberdayakan ekonomi umat dan mengurangi kemiskinan. Zakat itu harusnya sebagai social capital and community economic development dan capital community entrepreneurship," kata Abduh. Jangan pula menjadi komsumsi industri keuangan sebagai dana murah, seperti kata Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Muliaman D Hadad dalam sidang tahunan Islamic Development Bank di JCC, Senayan, Jakarta Selatan 16/5/2016 lalu, yang bersepakat dengan Menteri Keuangan, Bambang Brodjonegoro yang menyatakan bahwa zakat dan wakaf dapat digunakan oleh Indonesia sebagai sumber pembiayaan pembangunan di Indonesia yang sifatnya jangka panjang, tambahnya. (RED)

Rekomendasi

Baca Juga