Opini Membangun Kota Kreatif Perlu Strategi, Sinergi dan Profesionalitas Bukan Ego

Membangun Kota Kreatif Perlu Strategi, Sinergi dan Profesionalitas Bukan Ego

sisiusaha (22/5)

creative people.. Tidak mudah membangun sebuah kota kreatif, namun tidak juga teramat sulit. filosofi sapu lidi merupakan dasar dari perjalanan menuju sebuah kota kreatif, sesuatu apabila dilakukan secara bersama sama membangun sinergi akan menghasilkan hasil yang lebih besar dari pada secara individual.

Pengembangan Kota Kreatif merupakan salah satu strategi untuk mencapai arahan Presiden untuk menjadikan ekonomi kreatif sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Kota Kreatif berperan untuk mendukung ekosistem kondusif dalam pengembangan ekonomi kreatif. Untuk itu, pengembangan Kota Kreatif haruslah dilakukan secara bersama-sama dan sinergi oleh lintas pemangku kepentingan yang melibatkan Pemerintah baik pusat maupun daerah, komunitas kreatif sebagai representasi masyarakat, akademisi dan para pelaku usaha.

Bukan saatnya lagi masyarakat suatu daerah yang terpecah dalam berbagai kelompok dan komunitas skala lokal hanya mengedepankan egoistis, saling mengklaim konsep yang paling bagus, saling menyalahkan dan menunggu siapa diantara telur atau ayam yang duluan. Dunia semakin berkembang cepat dan dinamis, potensi lokal bisa menjadi aset suatu daerah apabila dikembangkan secara strategis serta profesional sehingga memiliki nilai tambah. Namun sebaliknya semua potensi yang ada hanya menjadi aktifitas rutin semata tanpa gaung yang meluas dan terburuknya penduduk lokal pada saatnya hanya menjadi penonton.

Kunci utama pengembangan Kota Kreatif adalah keterlibatan lintas pelaku, yaitu pemerintah, komunitas, akademisi dan pelaku usaha (quadruple-helix) dalam berbagi tugas dan peran, sehingga menghasilkan upaya yang kolaboratif dan sinergis dalam penumbuhkembangan dan pemanfaatan kreativitas dan inovasi.

Konsep Kota Kreatif yang bersama-sama akan dikembangkan tidak  hanya mengambil konsep kota kreatif lainnya yang sudah ada secara mentah-mentah, namun harus disesuaikan dengan tujuan dan misi pembangunan, kebutuhan, serta kondisi daerah sendiri. Pengembangan Kota Kreatif diharapkan tidak hanya menjadi sebuah program dan branding sesaat, tetapi dapat menjadi jembatan menuju pengembangan dan pembangunan kota yang berkelanjutan. Kota Kreatif yang berbasis pada potensi lokal sebagai keunggulan dan identitas daerah perlu didorong untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing, serta mampu menjadi pusat pertumbuhan bagi daerah (hinterland) sekitarnya. Selain itu, sebuah Kota Kreatif juga harus dapat membangun ekosistem yang kondusif bagi pengembangan inovasi di daerah.

Tiga pilar utama yang mendasari pembangunan sebuah kota kreatif adalah 1.Fokus kepada pengembangan ide dan kreativitas, 2.Eksistensi komunitas kreatif (bottom-up), 3.Rantai nilai kreasi-produksi-distribusi-konsumsi-konservasi.

Menurut UNESCO ada 18 indikator kota kreatif yang harus dipenuhi antara lain:

  1. Peran dan dasar-dasar bidang kreatif dalam sejarah kota.
  2. Pentingnya ekonomi dan dinamika sektor budaya dan, jika mungkin, dari bidang kreatif yang menjadi perhatian: data pada kontribusinya terhadap pembangunan ekonomi dan lapangan kerja di kota, jumlah perusahaan budaya, dan lain-lain.
  3. Pameran, konferensi, konvensi, dan peristiwa nasional dan atau internasional lainnya yang diselenggarakan oleh kota selama lima tahun terakhir, ditujukan untuk para professional di bidang kreatif yang menjadi perhatian (pencipta, produsen, pemasar, promotor, dan lain-lain.)
  4. Festival, konvensi, dan acara skala besar lainnya yang diselenggarakan oleh kota dalam lima tahun terakhir di bidang kreatif yang menjadi perhatian dan ditujukan pada penonton lokal, nasional, dan atau internasional.
  5. Mekanisme, kursus, dan program untuk mempromosikan pendidikan kreativitas dan seni bagi kaum muda di bidang kreatif yang menjadi perhatian, baik dalam sistem pendidikan formal maupun informal.
  6. Belajar seumur hidup, pendidikan tinggi, sekolah kejuruan, sekolah musik dan drama, residensi dan pembentukan pendidikan tinggi lainnya yang mengkhususkan diri di bidang kreatif yang menjadi perhatian.
  7. Pusat penelitian dan program di bidang kreatif yang menjadi perhatian.
  8. Ruang dan pusat kreasi yang diakui, produksi, dan penyebaran kegiatan barang dan jasa di bidang kreatif yang menjadi perhatian, di tingkat profesional (misalnya inkubator perusahaan budaya, kamar dagang).
  9. Fasilitas utama dan ruang-ruang budaya  yang didedikasikan untuk berlatih, promosi, dan sosialisasi di bidang kreatif yang menjadi perhatian dan ditujukan untuk masyarakat umum dan atau pemirsa tertentu (pemuda, kelompok rentan, dan lain-lain.).
  10. Menunjukkan maksimal tiga program atau proyek yang dikembangkan oleh kota dalam lima tahun terakhir untuk mempromosikan partisipasi yang lebih luas dalam kehidupan budaya, khususnya di bidang kreatif yang menjadi perhatian, terutama yang ditujukan kelompok sosial yang rentan atau tidak beruntung.
  11. Menunjukkan maksimal tiga program atau proyek yang dikembangkan dalam lima tahun terakhir di bidang kreatif yang bersangkutan yang telah membantu dan atau memperkuat hubungan kerja sama antara kota, sektor swasta, pencipta, masyarakat sipil, dan atau akademisi.
  12. Peran profesional utama dan organisasi masyarakat sipil non-pemerintah yang aktif dalam kota di bidang kreatif yang menjadi perhatian.
  13. Kebijakan dan langkah-langkah utama yang dilakukan kota dalam lima tahun terakhir untuk meningkatkan status pencipta dan mendukung karya kreatif khususnya di bidang kreatif yang menjadi perhatian.
  14. Kebijakan dan langkah-langkah utama yang dilakukan oleh kota dalam lima tahun terakhir untuk mendukung pendirian dan pengembangan industri budaya lokal yang dinamis di bidang kreatif yang menjadi perhatian.
  15. Inisiatif kerjasama internasional utama di bidang kreatif yang menjadi perhatian, dikembangkan dengan kota dari berbagai Negara dalam lima tahun terakhir.
  16. Mekanisme dukungan, program, dan proyek yang dilakukan oleh kota dalam lima tahun terakhir dengan mendirikan sinergi antara bidang kreatif yang menjadi perhatian dengan sedikitnya satu bidang kreatif lainnya yang difasilitasi oleh jaringan (cross-cutting atau proyek lintas sektoral).
  17. Inisiatif kerjasama internasional dan atau kemitraan yang dikembangkan dalam lima tahun terakhir yang melibatkan sedikitnya dua dari tujuh bidang kreatif yang difasilitasi oleh jaringan (cross-cutting atau proyek lintas sektoral).
  18. Fasilitas utama dan ketersediaan infrastruktur dan acara, seperti pameran, konferensi, dan konvensi, yang diselenggarakan oleh kota dalam lima tahun terakhir dengan tujuan mempromosikan bidang kreatif yang dicakup oleh jaringan daripada bidang kreatif utama yang menjadi perhatian oleh aplikasi.

Semua kota yang memenuhi indikator tersebut akan bergabung menjadi bagian dari anggota UNESCO Creative Cities Network (UCCN). Menurut Mission Statement Bologna Creative Cities Meeting, Creative Cities Network ini bertujuan untuk memperkuat kreasi, produksi, distribusi dan menikmati barang-barang dan layanan budaya pada level lokal.

Selain itu, mempromosikan kreativitas dan ekpresi kreatif khususnya di tengah kelompok rentan, termasuk perempuan dan generasi muda, meningkatkan akses dan partisipasi dalam dan untuk kehidupan budaya sama baiknya dengan menikmati barang-barang budaya itu sendiri serta mengintegrasikan budaya dan industri kreatif ke dalam rencana pembanguan lokal. (MAB)

 

Rekomendasi

Baca Juga