Opini Menuju Kota Kreatif Tasikmalaya

Menuju Kota Kreatif Tasikmalaya

sisiusaha (18/5)

creative people.. Menjadi warga pada sebuah kota yang memiliki brand kreatif bisa memberikan kebanggan tersendiri, disamping itu juga tentunya dapat sebagai sarana promosi produk atau jasa hasil kreatifitas serta meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakatnya.

Bermunculannya kota kreatif di Indonesia belakangan ini merupakan sebuah perkembangan positif bagi dasar perekonomian kreatif, lalu apa sebenarnya yang disebut kota kreatif itu? Kota yang kreatif adalah kota yang mampu menanamkan budaya dan memberikan inspirasi ‘kreatif’ di masyarakat, dan usaha tersebut dapat menunjang upaya’ ekonomi kreatif’. ‘Kreatif’ itu adalah sebuah proses, tidak bisa muncul begitu saja secara instan, dan proses kreatif itu sendiri bisa dari cara melihat, cara berfikir, dan cara bertindak. Sedangkan untuk membentuk brand kota yang kreatif, bisa dimulai dengan cara mengidentifikasi dan mengenali ciri khas kota tersebut, jangan meniru dari kota lain, karena apa yang sukses di sebuah kota, belum tentu cocok dan pas untuk diterapkan di kota lainnya, dan yang penting adalah jangan mudah latah.

Penyelenggaraan Indonesia Creative Cities Conference (ICCC) 2016 pada 30 Maret hingga 2 April di Malang yang lalu adalah hajatan kedua yang diselenggarakan oleh Jejaring Kabupaten-Kota Kreatif Indonesia (Indonesia Creative Cities Network/ICCN). Sebelumnya, Kota Solo Jawa Tengah, menjadi tuan rumah pertama dari pestanya para insan kreatif ini. Tepatnya, pada 23-24 Oktober 2015.

Tidak kurang even tersebut dihadiri oleh 52 Kabupaten/Kota se-Indonesia yang melibatkan perwakilan dari Pemerintah Daerah, Komunitas, Praktisi, Akademisi dan perwakilan Lembaga Swadaya Masyarakat. Adapun dari pemerintah pusat diwakili Kementerian Koordinator Perekonomian, Kementerian Pariwisata, dan Badan Ekonomi Kreatif.

Sebagai langkah awal, saat itu konferensi menekankan pada perumusan konsep dasar, arah, program dan pembentukan kelembagaan yang dijadikan patokan bersama untuk menjalankan program nyata hingga 2019. Salah satu kebijakan penting yang dirumuskan adalah strategi “memakan bubur dari pinggir”.

Yaitu sebuah konsep untuk mendorong terjadinya lompatan kesejahteraan masyarakat yang inklusif dan keberlanjutan dalam konteks pembangunan kabupaten-kota, melalui beragam gerakan kreatif di masing-masing daerah. Selain itu, kebijakan penting lainnya adalah perumusan prinsip Kota Kreatif Indonesia adalah pentingnya membangun kota welas asih yang mengedepankan prinsip Hak Asasi Manusia (HAM), juga mengutamakan kepentingan seluruh anggota masyarakat, termasuk kelompok rentan dan warga.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) lalu menunjuk lima kota, yakni Solo, Denpasar, Pekalongan, Yogyakarta, dan Bandung untuk mengirimkan aplikasi. Kota Solo dan Bandung bergerak paling dulu memperkuat jejaring Kota Kreatif yang diharapkan mampu menggerakkan kota-kota lain untuk terlibat juga dalam jejaring Kota Kreatif di Indonesia. Poros Bandung-Solo ini lalu diresmikan dalam sebuah MoU dan deklarasi Prinsip Kota Kreatif di Bandung, 27 April 2015.

Secara geografis poros Bandung-Solo adalah melalui Jawa Barat Selatan, Priangan Selatan adalah rute yang menjadi konektor, Kota Tasikmalaya seharusnya mampu mengambil posisi untuk menyusup menjadi daerah yang layak dipertimbangkan sebagai bagian poros tersebut.

Dalam cetak biru "Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025" ada 15 elemen yang tegolong industri kreatif yaitu 1. Periklanan (advertising), 2. Arsitektur, 3. Pasar Barang Seni, 4. Kerajinan (craft), 5. Desain, 6. Fesyen (fashion), 7. Video, Film dan Fotografi, 8. Permainan Interaktif (game), 9. Musik, 10. Seni Pertunjukan (showbiz), 11. Penerbitan dan Percetakan, 12. Layanan Komputer dan Piranti Lunak (software), 13. Televisi & Radio (broadcasting), 14. Riset dan Pengembangan (R&D), 15. Kuliner.

Setidaknya ada beberapa elemen industri kreatif yang populer di Tasikmalaya, yaitu kelom geulis (Tamansari), payung geulis (Indihiang & Cihideung), sandal (Mangkubumi), bordir (Kawalu), jaket (Cibeureum) dan mendong (Purbaratu). Pemasaran produk kerajinan ini tidak hanya pada skala nasional namun juga sudah ekspor ke beberapa negara.

Geliat industri kreatif lainnya seiring waktu mulai bermunculan, seperti kuliner, fesyen, desain, percetakan, video dan fotografi, layanan komputer periklanan serta broadcasting, namun dikarenakan kurangnya support dan koordinasi yang strategis gaungnya tidak begitu lantang terdengar. Sementara itu beberapa kelompok komunitas kreatif di Tasikmalaya juga mulai terlihat aktif melakukan aktifitas kegiatannya.

Pertanyaannya, mengapa indikator kota Tasikmalaya masih jauh dari disebut sebagai Kota Kreatif, padahal masih banyak potensi yang ada di daerah Tasikmalaya yang mampu dikembangkan, seperti juga dibidang pariwisata alam dan tujuan wisata budaya.

Mungkin perlu membuka diri, jangan merasa cepat puas dan benar, melakukan curah pendapat ( brainstorming), belajar dari kota lain yang telah memiliki predikat kota kreatif seperti Bandung, Solo, Pekalongan, Malang serta Jogja. Berusaha lebih serius dan strategis serta konsolidasi dari berbagai kalangan untuk dapat mewujudkan Tasikmalaya sebagai kota kreatif yang berada di wilayah Priangan Timur dan mampu mewujudkan sebagai konektor poros Bandung-Solo. Hal ini tentunya harus diawali dengan niat yang sungguh-sungguh dari masyarakat sendiri, pejabat pemerintahan serta juga anggota dewan baik pusat yang berasal dari dapil Tasikmalaya maupun anggota dewan daerah yang ingin menjadikan Tasikmalaya dikenal sebagai kota kreatif yang mampu memberikat output secara alami dalam peningkatkan pendapatan daerah Tasikmalaya khususnya dari sektor ekonomi kreatif. (MAB)

Dalam cetak biru “Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025” yang diberikan menteri perdagangan kepada presiden memuat 14 elemen yang tergolong industri kreatif. Catatan itu memuat kelompok industri di antaranya: (1). Arsitektur, (2). Desain, (3). Kerajinan, (4). Layanan komputer dan peranti lunak, (5). Mode, (6). Musik, (7). Pasar seni dan barang antik, (8). Penerbitan dan percetakan, (9). Periklanan, (10). Permainan interaktif, (11). Riset pengembangan, (12). Seni pertunjukkan, (13). Televisi dan radio, (14). Video, film, dan fotografi.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/tetenrustendi/ekonomi-kreatif-di-tasikmalaya_54ff28bea333110f4550fbe2
Dalam cetak biru “Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025” yang diberikan menteri perdagangan kepada presiden memuat 14 elemen yang tergolong industri kreatif. Catatan itu memuat kelompok industri di antaranya: (1). Arsitektur, (2). Desain, (3). Kerajinan, (4). Layanan komputer dan peranti lunak, (5). Mode, (6). Musik, (7). Pasar seni dan barang antik, (8). Penerbitan dan percetakan, (9). Periklanan, (10). Permainan interaktif, (11). Riset pengembangan, (12). Seni pertunjukkan, (13). Televisi dan radio, (14). Video, film, dan fotografi.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/tetenrustendi/ekonomi-kreatif-di-tasikmalaya_54ff28bea333110f4550fbe2
Dalam cetak biru “Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025” yang diberikan menteri perdagangan kepada presiden memuat 14 elemen yang tergolong industri kreatif. Catatan itu memuat kelompok industri di antaranya: (1). Arsitektur, (2). Desain, (3). Kerajinan, (4). Layanan komputer dan peranti lunak, (5). Mode, (6). Musik, (7). Pasar seni dan barang antik, (8). Penerbitan dan percetakan, (9). Periklanan, (10). Permainan interaktif, (11). Riset pengembangan, (12). Seni pertunjukkan, (13). Televisi dan radio, (14). Video, film, dan fotografi.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/tetenrustendi/ekonomi-kreatif-di-tasikmalaya_54ff28bea333110f4550fbe2
Dalam cetak biru “Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025” yang diberikan menteri perdagangan kepada presiden memuat 14 elemen yang tergolong industri kreatif. Catatan itu memuat kelompok industri di antaranya: (1). Arsitektur, (2). Desain, (3). Kerajinan, (4). Layanan komputer dan peranti lunak, (5). Mode, (6). Musik, (7). Pasar seni dan barang antik, (8). Penerbitan dan percetakan, (9). Periklanan, (10). Permainan interaktif, (11). Riset pengembangan, (12). Seni pertunjukkan, (13). Televisi dan radio, (14). Video, film, dan fotografi.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/tetenrustendi/ekonomi-kreatif-di-tasikmalaya_54ff28bea333110f4550fbe2
Rekomendasi

Baca Juga


jadwal-sholat