Opini Pemimpin Tanpa Dosa

Pemimpin Tanpa Dosa

sisiusaha (14/5)

creative people.. Saat tidak bisa melihat, mendengar dan merasa merupakan suatu prestasi, bukan lagi mengerti apa yang sedang terjadi. Saat itu pula menjadi pembenaran diri, tidak ada lagi peduli.

Kehidupan berjalan dan seolah tidak terjadi anomali, saat gelora kekecewaan hampir memenuhi ruang benak dan hati rakyat pun hanya dikatakan sebuah riak kecil dinamika kewajaran demokrasi. Lalu menganggap bahwa tidak pernah terjadi masalah apa apa yang berarti, suara merdu yang "menenangkan" pun selalu dinyanyikan walau terdengar sumbang. 

Kebohongan ketiga menjadi penangkal kebohongan kedua dan pembenaran kebohongan pertama, terus menerus menjalankan tipu daya melalui citra dengan membuat hal tidak penting seolah menjadi prestasi dan hal yang sesungguhnya teramat penting dikemas menjadi persoalan sederhana yang bisa selesai kapan saja katanya. Memupuk kebencian menjadi kebiasaan alam bawah sadar dan mewabah luas dalam nalar para pengikutnya.

Ketika peristiwa-peristiwa yang berbau skandal melibatkan para politisi atau pejabat pemerintahan terjadi yang dituduh melakukan penggunaan dan distribusi jabatan politik demi keuntungan finansial pribadi, kelompok dan golongan terlibat dalam berbagai perencanaan untuk melakukan sesuatu, tindakan ilegal, pelanggaran norma-norma umum seperti korupsi atau melakukan praktik-praktik yang tidak etis, pemimpinnya 'terang benderang' tidak takut dan malu akan kesalahan dan aib.

Sebuah ironi terjadi pada negeri yang terkenal memiliki budi luhur, peradaban kemanusiaan yang tinggi, serta kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan asas keadilan manusia sama di mata hukum seolah hanya menjadi slogan dan marketing tool. Pembiaran dan menganggap semua aib, persengkongkolan, pelanggaran aturan, arogansi adalah menjadi sebuah kebiasaan.

Di Jepang seorang pemimpin akan merasa malu bahkan ada yang bunuh diri karena 'ketahuan' skandal politiknya, di Korea Selatan seorang menteri akhirnya malu dan mengundurkan diri tanpa berani mengangkat muka karena skandalnya ketahuan publik, bahkan di Amerika yang katanya negeri paling demokratis skandal politik pun bisa dilakukan oleh seorang presiden, Ricard Nixon, skandal watergate atau mengenai Gubernur Alabama Robert Bentley yang akhirnya terancam di impeach/makzulkan, bahkan di Brazil Dengan keputusan Senat Brasil pada Kamis (12/05) maka dengan serta merta Dilma Rousseff diberhentikan sementara sebagai presiden.

Sementara ada pemimpin yang politisinya hingga presiden menutupi bagaimana pembebasan 10 sandera, menutupi proses tapi lebih sibuk dan semangat menjual pencitraan atas klaim sendiri, lalu bagaimana kalau ternyata di lain waktu akhirnya terungkap bahwa ternyata ada uang tebusan yg diberikan. Selalu berusaha menutupi namun pemimpin ini lupa politik terkadang sulit dikendalikan, disatu waktu bisa tenang dan diam dilain waktu bisa bergolak riak lantas beranikah menyebut hal tersebut adalah sebuah skandal karena menutupi 'sesuatu' dihadapan rakyatnya sendiri?

Dan sekarang apa yang sedang menjadi pemberitaan tentang podomoro dan ahok apakah itu bukan sebuah persengkongkolan terkait sebuah proyek, melanggar aturan, amdal ditiadakan, bukankah itu sebuah skandal, atau hasil temuan audit BPK yang menyatakan adanya penyimpangan di kasus pembelian lahan RS Sumber Waras, lalu 'pertemuan' seorang pimpinan KPK Saut Situmorang dengan Ahok belum lama ini apakah itu bukan sebuah skandal? 

Lalu mengapa semua skandal tersebut seolah biasa biasa saja, apakah seorang pemimpin masih mengerti bahwa ini adalah negara hukum, apakah pemimpin tanpa mau tahu ketika persengkongkolan di anggap biasa dan bukan dibangun atas niat jahat kepada rakyat. Rakyat yang dipimpin dan dikuasai oleh buzzer yang sibuk dengan membangun opini sesaat sudah terbiasa membiarkan ketika seorang pemimpin pembohong dan tukang khianat dijadikan pahlawan sesat.

Ketika di negeri luar sebuah skandal dianggap melanggar batasan norma politisi, sementara di negeri ini justru sebuah skandal dijadikan kebanggan jualan diri, ketika penjahat dijadikan korban dan ketika korban dikatakan penjahat, lalu mau dibawa kemana negeri ini, para pejuang kemerdekaan memerdekaan negeri untuk apa dan untuk siapa?

Sulit ketika pemimpin yang "katanya" tanpa dosa menjadi idola dan panutan setia untuk menyadari semua yang terjadi dan segera kembali berjalan diatas amanat rakyatnya kecuali Tuhan yang telah menetapkan takdirnya. (MAB)

Rekomendasi

Baca Juga