Opini Melawan Perubahan

Melawan Perubahan

sisiusaha (23/3)

Gaduh demonstrasi transportasi di Jakarta 22 Maret 2016 oleh para sopir taksi argo yang merasa ladang penghasilannya terkikis dengan kehadiran taksi online sempat membuat kota Jakarta mencekam.

Pemerintah belum mampu berbuat banyak menyelesaikan persoalan ini, paling tidak kementrian kominfo, perhubungan dan Pemda DKI yang memiliki domain di permasalahan ini seharusnya sudah sejak riak persoalan muncul melakukan sesuatu agar persoalan tidak menjadi besar.

Sebenarnya persoalan ini merupakan hal yang biasa dalam dunia bisnis, ketika sebuah inovasi baru ditemukan akan menjadikan hal yang lama dengan kebiasaannya menjadi usang, menjadi kuno dan sebagainya. Konsumen tentu juga akan memilih sesuatu yang baru, yang praktis, yang efisien, yang menarik dan tentunya juga yang memberikan kenyamanan lebih.

Persoalan taksi dengan aplikasi versus taksi argo adalah sebuah cerminan hal tersebut. Ketika inovasi taksi menggunakan aplikasi dengan segala benefit di dalamnya mampu mengambil hati konsumen serta merebut pangsa pasar bisnis taksi yang ada, terjadi perselisihan tajam diantaranya. Jangan dulu terburu buru saling menyalahkan tapi alangkah bijak dan cerdasnya apabila hal tersebut jadi bahan evaluasi.

Banyak contoh yang telah terjadi sebelumnya mengenai inovasi baru dalam dunia bisnis. Kalau dulu pada era tahun 80 an kita mengenal merek macintosh apple menjadi primadona di bidang komputer, ketika merek microsoft muncul dengan inovasi yang lebih menarik, tidak perlu waktu lama menenggelamkan macintosh apple di pasar komputer, konsumen dengan cepat beralih ke microsoft, namun hal itu tidak mengubur brand macintosh apple tapi mereka dengan cerdas mengevaluasi yang pada akhirnya merebranding mac apple dengan platform, feature serta design yang premium, hasilnya adalah positioning mac apple menjadi lebih tinggi di pasar komputer dari pada microsoft. Konsumen lebih merasakan kepuasan dan merasa memiliki gengsi yang tinggi dengan menggunakan mac apple.

Berikutnya adalah bisnis penerbangan, pada saat Garuda Indonesia tersaingi dengan munculnya perusahaan penerbangan low cost carier yang begitu menjamur seperti Lion Air, Sriwijaya Air, Adam Air (yang telah mati) Air Asia dan beberapa perusahaan lainnya, tidak terus membuat Garuda Indonesia kehilangan pasar, akan tetapi ketika Garuda dengan branding serta service yang terus ditingkatkan mampu mempertahankan positioningnya. Bagi konsumen bayar lebih mahal tidak menjadi masalah namun mendapat kepastian jadwal yang lebih tinggi, kenyamanan serta juga sebuah gengsi.

Perubahan dalam dunia usaha yang dinamis ini merupakan hal yang tidak bisa dihindari, namun harus diikuti dengan evaluasi, kreatifitas serta komitmen yang tinggi untuk tetap bertahan bahkan juga harus berkembang sesuai dengan perubahan yang terus menerus terjadi. Hakikinya kita tidak akan mampu melawan perubahan, tidak ada yang abadi dalam dunia bisnis kecuali perubahan itu sendiri. (MAB)

Rekomendasi

Baca Juga