Opini Media Bukan Tuhan

Media Bukan Tuhan

sisiusaha (21/3)

Fenomena menjamurnya media tidak lagi mengherankan, karena ada banyak keuntungan dalam media baik secara bisnis maupun secara politis. Itulah mengapa banyak yang berlomba membuat kantor berita, dari mulai kelas kaki lima hingga bintang lima.

Tentunya masing masing pendiri kantor berita memiliki idealisme yang berbeda, namun tujuannya adalah sama, ingin menguasai dunia melalui pena, keyboard atau juga camera. Karena melalui media mampu memberitakan, menceritakan, membuat opini, mempromosikan bahkan ada juga yang mampu menipu.

Seperti halnya membangun sebuah citra, media merupakan alat paling ampuh yang tidak memerlukan waktu lama bisa membalik dari karakter haram jadah menjadi sosok karakter sajadah.

Kata media terkenal itu lebih hebat dibanding berilmu, dibanding professional, dibanding saleh, dibanding apapun saja dan terkenal berarti istimewa. Dianggap penting oleh semua orang, dipercaya mampu melakukan apa saja, melampaui wilayah kompetensi.

Betapa inginnya menjadi orang terkenal, betapa nikmatnya gambar wajah dipampangkan di halaman koran atau majalah. Asal terkenal, masyarakat menjadi cinta dan karena cinta, mereka tak berpikir panjang. Sehingga apa yang dikatakannya seolah menjadi sebuah sabda, menjadi sakral dan bahkan bisa mengalahkan akal sehat.

Apakah hidup ini harus taat kepada media massa? Apakah juga negara harus taat, para pejabat, Ulama, artis, semuanya, berposisi patuh dan taat kepada media massa. Ada hal yang dilupakan, bahwa dalam kehidupan ini ada Tuhan. Tuhan yang telah mengatur segalanya dan Tuhan pula yang nantinya akan membinasakan media.

Kebablasan emang, tapi itulah fenomena yang sedang kita hadapi, bahwa media merupakan sebuah sosok yang sakti, yang mampu merubah segalanya. Sebaiknya kita mulai berpikir lebih bijak lagi dengan media. Dan menjaga keselamatan diri kita sendiri baik di dunia maupun nanti kelak di akherat. (MAB)

Rekomendasi

Baca Juga