Opini Belajar Dari Singaparna

Belajar Dari Singaparna

sisiusaha (1/3)

Kalau artikel yang lalu tentang kemandirian sebuah daerah kota Singaparna, kota tanpa Cina, kali ini belajar dari sebuah kebijakan pemerintah daerah Singaparna. Perlahan tapi pasti, Singaparna lebih mampu menunjukkan bagaimana sebuah pemerintah lebih memikirkan perekonomian masyarakatnya, yang tidak selalu mengedepankan kepentingan investasi konglomerasi papan atas dalam kehidupan sosial ekonomi sebuah daerah.

Seperti kita ketahui bersama maraknya pusat perdagangan dari skala retail hingga skala yang besar itu mempersempit aktifitas perdagangan di lini kecil, yaitu warung warung tradisional.

Masyarakat yang menggantungkan mata pencarian melalui warung warung kecil jumlahnya sangat banyak, mereka berusaha berdagang dengan cara tradisional dan untuk melayani kebutuhan masyarakat yang berada disekitarnya, namun dengan banyaknya mini market seperti alfamart, indomart, yomart atau sejenisnya yang secara tidak langsung telah mengambil porsi pasar warung tradisional, sehingga omset pedagang warung menjadi sangat menurun.

Hal ini apabila dibiarkan atau bahkan pemerintah tidak mengambil langkah kebijakan yang pro rakyat kebanyakan tentunya pangsa pasar warung tradisional dapat dipastikan semakin sempit dan perlahan lahan akan musnah.

Singaparna telah melakukan hal yang menarik, yaitu adanya kebijakan pembatasan pembukaan minimarket serta pemberlakuan jam operasional buka supermarket yang telah memiliki ijin. Kebijakan ini semata mata untuk memberikan kesempatan masyarakat kecil didaerahnya untuk dapat tetap menjalankan kegiatan usaha warung tradisionalnya.

Ini penting dijadikan pembelajaran bagi daerah lain untuk lebih memperhatikan serta meningkatkan kehidupan sosial ekonomi masyarakatnya. (MAB)

Rekomendasi

Baca Juga


jadwal-sholat