News Kampung Unik Nan Kreatif di Bandung

Kampung Unik Nan Kreatif di Bandung

sisiusaha (19/11)

Terletak di Jalan Dago Pojok No 45/161 B, RT 03/03 Kota Bandung, kampung itu tidak tampak menonjol jika dilihat dari tata letaknya. Jalan untuk masuk ke kawasan itu sempit. Mobil yang berpapasan harus saling mengalah supaya tidak saling bersenggolan. Di kawasan itu juga berdiri banyak indekos elite bagi mahasiswa. Perumahan juga sedang dibangun di kawasan itu.

Seorang anak muda lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Planologi. Ibrahim Urkin namanya, tapi orang biasa memanggilnya Memes. “Kang Rahmat sedang tidak ada, tetapi dia sudah menitip pesan ke saya untuk menyambut tamu,” katanya. Kang Rahmat adalah koordinator Kampung Kreatif Dago Pojok. Memes dan beberapa anak muda lainnya sedang punya gawe. Sejak beberapa bulan lalu, kampung tersebut dibuka untuk wisata. Wisatawan yang disasar umumnya anak-anak muda karena kampung tersebut menawarkan kreativitas dan simbol-simbol kebebasan berekspresi.

Di sana ada seni wayang, seni membatik, seni rupa dan seni-seni tarian a la Jawa Barat yang bisa dilihat para wisatawan. “Tamu dapat melihat-lihat atraksi, kreasi seni, dan menikmati makanan di tengah sawah. Harganya Rp 25.000 per orang karena makanan itu diambil dan dimasak ibu-ibu di kampung itu,” katanya. Seperti ada perasaan déjà vu saat memasuki kampung ini. Lorong panjang gang dengan rumah-rumah berdempetan. Kampung yang terletak di Dago Pojok ini, mirip kampung di pinggir Kali Code, Yogyakarta. Tidak kumuh seperti di Jakarta, tetapi berwarna dan sepertinya penuh antuasisme kreativitas. 

Tepat di pinggir jalan, sebuah etalase toko disulap menjadi panggung karya seni instalasi. Tampak empat patung terbuat dari koran, merenung melingkari meja kecil, seolah mengajak masuk ke dalam makna perenungan absurd, mengenai seni abstraksi lukisan di sekelilingnya. Di belakang bangunan itu, gang-gang sempit tercentang perenang, terkadang bertemu di satu titik. Selain lukisan-lukisan dan caci maki dalam tulisan, kampung kreatif ini juga menawarkan seni fotografi di dalamnya. Bergambar seorang tua yang tampak merenung, atau tawa anak dalam keruwetan kompleksitas kehidupan.

Melangkah lebih jauh lagi, aura seni makin menggelora. Di rumah seorang musikus ditemukan alat-alat yang jauh dari seni musik modern saat ini. Ada Keprak yang mengeluarkan bunyi seperti air mengalir, membuat perasaan seperti berdesir. Ada Karimbing, berbentuk seperti gitar tapi mengeluarkan bunyi gemuruh yang sanggup membuat kuduk berdiri.Makin jauh ke dalam, sederet lukisan mural memenuhi pinggir-pinggir kebun darurat. Mural-mural itu makin berwarna terang saat mendekati titik terbuka. Namun, Kampung Kreatif Dago Pojok tidak hanya menawarkan seni. Di sana juga muncul kreativitas di bidang ekonomi. 

Baru akhir-akhir ini program perjalanan mengelilingi kampung berhasil dilakukan. Program dinilai sebagai cara untuk mendongkrak pemasukan ekonomi bagi masyarakat sekitar. “Masyarakat juga senang karena biasanya ada yang belanja alat musik, kaus, makanan, atau kerajinan yang mereka buat,” ujar Memes. Cara tersebut bisa digunakan untuk menggaet masyarakat supaya berperan aktif di kampung itu. “Kini warga Dago Atas menanggapi hal tersebut dengan nada positif,” katanya. 

Dengan kampung kreatif, masyarakat yang tinggal di dalamnya bisa berkreasi dengan bebas dan dikemudian hari bisa menghidupkan ekonomi mandiri dari kampung sendiri, menanggapi keinginan untuk berkiprah lebih dalam bagi masyarakat. (MAB)



Rekomendasi

Baca Juga