News SOLO KOTA KREATIF, Pemkot dan Pegiat Solo Creative City Network Beda Prioritas

SOLO KOTA KREATIF, Pemkot dan Pegiat Solo Creative City Network Beda Prioritas

sisiusaha (17/11)

Wacana Pemerintah Kota (Pemkot) Solo membidik sektor ekonomi kreatif sebagai tulang punggung pendapatan daerah saat ini memasuki tahap penyusunan implementasi pengembangan Blue Print Ekonomi Kreatif 2015-2025. Dalam cetak biru yang disusun Badan Perencanaan dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Solo, terdapat tiga prioritas utama ekonomi kreatif Kota Solo. Prioritas pertama meliputi bidang seni pertunjukan, desain, kerajinan, kuliner, serta fesyen. Prioritas kedua mencakup pasar seni dan barang antik, riset dan pengembangan, audio visual dan fotografi, musik, dan periklanan.

Sedangkan prioritas terakhir meliputi radio dan televisi, layanan komputer dan piranti lunak, arsitektur, permainan interaktif, serta penerbitan dan percetakan. Skala prioritas ini berseberangan dengan usulan yang disampaikan para pegiat Solo Creative City Network (SCCN). Mereka berpendapat bidang industri kreatif digital menjadi prioritas pengembangan utama mengingat potensi ekonomi industri tersebut cukup besar.

Kepala Bidang Ekonomi Bappeda Solo, Sukriyah, mengemukakan pokok pengembangan ekonomi kreatif di Solo bakal memanfaatkan enam aspek di antaranya sumber daya manusia, potensi kreatif lokal, teknologi, industri, kelembagaan, serta pembiayaan. Dia menyebut saat ini Pemkot Solo telah mengantungi pemetaan wilayah potensi kreatif. “Kami sedang menyusun implementasi blue print Kota Kreatif berbentuk road map. Bentuknya program dan kegiatan pengembangan ekonomi kreatif. Akhir bulan ini dijadwalkan selesai,” katanya. Sukriyah menjelaskan dasar penyusunan skala prioritas pengembangan yang disusun Bappeda dibuat berdasarkan kajian bersama lintas bidang.

“Pemetaan dan penyusunan skala prioritas dihasilkan dari beberapa kali FGD [focus group discussion]. Pemetaan ini paling penting karena dijadikan dasar pengembangan. Dari wilayah yang ada, diharapkan nanti bisa tumbuh di 51 kelurahan di Solo,” jelasnya. Menurut Sukriyah, potensi kreatif Solo selama ini cukup melimpah. “Solo ini bisa dikatakan gudang. Banyak blogger, kemudian  penyanyi, dan penari yang berhasil mendunia. Nantinya kami pilah, mana yang harus didorong dan mana yang tidak. Yang sudah mapan kami inginkan bisa mentransfer pengetahuannya. Harapannya bisa mengurangi ketimpangan kesejahteraan masyarakat,” terangnya.

Disinggung soal perbedaan arah pengembangan ekonomi kreatif dari SCCN, Sukriyah tidak mempermasalahkannya. “Forum pengembangan ekonomi dan SCCN saat ini posisinya sebagai mitra. Kreativitas itu tidak ada batasnya sebenarnya. Saat ini memang eranya digital. Semuanya berhubungan dengan TI. Kelokalan Solo juga bisa disinkronkan,” katanya.

Secara terpisah, Board Commission SCCN, Paulus Mintarga, mengungkapkan argumennya soal prioritas pengembangan ekonomi kreatif di sektor industri digital. “Seperti yang kita tahu, orang terkaya di dunia saat ini berasal dari pelaku gelombang ekonomi keempat. Sebut saja Microsoft, Facebook, Google. Ini buktinya teknologi informasi nanti bisa menjadi pendorong pengembangan sektor lain,” jelasnya. Paulus berkeyakinan saat ini potensi kreatif di bidang kreatif digital Solo cukup melimpah untuk dikembangkan. “Saya yakin potensinya ada. Cuma saat ini memang belum ada wadahnya. Dengan perkembangan ke depan, Solo akan dibantu pemerintah pusat untuk mendirikan wadah bernama Indonesia Digital Epicentrum atau disingkat IDE,” bebernya.

Menurut Paulus, Kota Solo sementara ini dipandang sebagai percontohan pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia. “Solo dipandang paling siap mengembangkan kreativitasnya dibanding kota lain. Parameternya bukan sumber dayanya saja. Tapi lihat juga dukungan pemerintah dan akademisinya. Solo boleh dibilang menonjol dalam hal sinergi ini,” ungkapnya.

Board Commission SCCN lainnya, Irfan Sutikno, menambahkan arah pengembangan industri kreatif digital di Solo juga harus berbeda dengan daerah lain. “Saya sepakat untuk memotovasi bidang yang punya potensi kuat di masa depan. Tapi harus ada spiritnya. Urban culture yang punya basis lokalitas yang kuat,” katanya. (MAB)

Rekomendasi

Baca Juga