News Mungil Culture: Tanaman Ala Kultur Jaringan Inovasi Mahasiswa UGM

Mungil Culture: Tanaman Ala Kultur Jaringan Inovasi Mahasiswa UGM

sisiusaha (17/11)

Mungil Culture, komunitas laboratorium budidaya jaringan Universitas Gajah Mada yang telah berdiri sejak 2009 ini merintis mengembangkan produk suvenir tanaman yang tak biasa. "Kami menggunakan teknik kultur jaringan untuk mengembangkan tanaman. Karena tampilan unik, tanaman ini bisa dimanfaatkan juga sebagai pajangan atau buah tangan," ujar CEO Mungil Culture Fathtien Nabihaty.

Menurut dia, konsep budidaya ala kultur jaringan memang berbeda dengan pola bercocok tanam pada umumnya. Dia dan teman-temannya memanfaatkan agar-agar sebagai media tanam dan botol kaca sebagai kemasan. Material yang ada di agar-agar ternyata bisa menggantikan tanah atau sekam. Mungil Culture menggunakan tanaman hias dan tanaman buah yang pertumbuhannya lambat. Beberapa contoh tanaman yang pernah dibudidayakan, misalnya anggrek, kaktus, dan buah naga.

Tanaman tersebut diperbanyak dengan teknik kultur jaringan, kemudian ditanam dalam botol kaca dengan media agar-agar. Supaya terlihat menarik, Faththien menambahkan pewarna sehingga botol tanaman tersebut terlihat makin menarik. Selain enak dilihat, produk suvenir Mungil Culture juga mudah dirawat. "Suvenir tanaman ini dapat bertahan 4-6 bulan tanpa memerlukan penyiraman atau pun pemupukan," ujarnya.

Fathtien dan teman-temannya awalnya mempromosikan produk Mungil Culture ke teman-teman semata. Seiring berjalannya waktu, suvenir tanaman nan unik ini ternyata mendapat sambutan positif dari masyarakat luas. Setiap bulan, tim mahasiswa ini mampu memproduksi hingga 200 botol suvenir tanaman. Produk tersebut dibanderol Rp8.000--Rp250.000 per botol. "Margin keuntungan yang kami ambil sekitar 30%."

Soal peluang, Fathtien sangat optimis produk suvenir tanaman bisa berkembang dan diterima masyarakat. Menurut dia, konsep membudidayakan tanaman di dalam botol ini pas bagi konsumen yang senang bercocok tanam, tetapi tak ingin repot merawatnya. Ke depannya, Mungil Culture ingin terus mengembangkan pasar. "Kami sudah menjajaki kerja sama dengan salah pengelola daerah wisata di Yogyakarta. Mereka tertarik menjadikan produk ini sebagai suvenir bagi turis yang berkunjung," katanya. (MAB)

Rekomendasi

Baca Juga