News Inggris Mengalami Investasi Bisnis Terburuk sejak 2009

Inggris Mengalami Investasi Bisnis Terburuk sejak 2009

Sisiusaha (21/12)

Ditengah keriuhan Majelis Parlemen Inggris terkait Brexit, Inggris kembali diterpa oleh kabar tidak baik. Investasi bisnis di Inggris dilaporkan terus mengalami penurunan, dan bahkan jatuh ke rekor terburuk sejak 2008-2009. 

The Office for National Statistics (ONS), seperti dilansir BBC, mengungkapkan, investasi turun sampai ke 1,1% untuk periode Juli hingga September jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Investasi bisnis ini meliputi dari pihak privat dan juga korporasi, serta terlibat dalam beberapa sektor seperti transportasi, teknologi, dan konstruksi.

Sebelumnya, korporasi besar, termasuk Jaguar Land Rover, Nissan, Airbus, dan BMW telah mengingatkan bahwa proses Brexit akan mengancam tingkat investasi di Inggris, beserta operasional dari bisnis-bisnis tersebut.

Pada awal minggu ini, gabungan grup bisnis di Inggris mengkritik keras politisi di sana yang lebih fokus untuk bertarung politis daripada mempersiapkan ekonomi Inggris menuju Brexit, yang rencananya akan resmi pada 29 Maret 2019.

Bahkan, pada rabu lalu, Bank Inggris telah memangkas proyeksi pertumbuhan Inggris dan memperingatkan kurangnya kejelasan Brexit yang menghantam perekonomian mereka.             Selain itu, ONS juga mengeluarkan data lain terkait perekonomian Inggris. Disebutkan, defisit akun saat ini – perbedaan antara uang masuk dan keluar di Inggris  melebar ke angka 26,5 miliar Poundsterling pada kuartal ketiga tahun ini.

Angka tersebut lebih buruk dari yang diharapkan dan dibandingkan dengan defisit 20 miliar Poundsterling dalam tiga bulan sebelumnya. Terkait hal ini, Gubernur Bank Inggris, Mark Carney, mengingatkan, perbedaan akun yang besar ini akan membuat Inggris bergantung pada “the Kindness of Strangers” atau “Kebaikan dari Pihak Asing”.

Sebelumnya, Perdana Menteri Inggris, Theresa May, menerima mosi tidak percaya dari partainya sendiri di Majelis Parlemen terkait ketidakpercayaan mereka mengenai negosiasi Brexit. Mosi tidak percaya tersebut kemudian tidak menghasilkan apa-apa dan Theresa May tetap menjabat sebagai Perdana Menteri Inggris dan bisa melanjutkan negosiasi Brexit.        Sementara itu, banyak pihak juga yang menganggap kelakuan politisi Partai Konservatif di Majelis Parlemen Inggris hanya membuang-buang waktu, uang, dan tenaga. Misal, Theresa harusnya berangkat ke Dublin, Irlandia untuk melanjutkan negosiasi, tetapi dia malah harus tetap di Inggris untuk menghadapi mosi tidak percaya. (WeBe)

 

Sumber: BBC

Foto: Wales Online

Rekomendasi

Baca Juga