Opini Bandara Soekarno-Hatta Tidak Sebagus Itu

Bandara Soekarno-Hatta Tidak Sebagus Itu

Sisiusaha (8/12)

Tak perlu membahas JT-610. Tak perlu pula marah dengan perbandingan yang ada di judul. Tentu jika dibandingkan dengan bandara utama di negara Asia Tenggara seperti Laos, Kamboja, Timor Leste, atau Myanmar, Bandara Soekarno-Hatta (CGK) jauh lebih baik. Camkan baik-baik, apa yang akan penulis tulis kedepan adalah masalah penerbangan internasional, bukan domestik.

Tapi apakah layak bandara kecintaan warga Indonesia ini dipadankan dengan bandara-bandara di atas. Di sini, perbandingan yang lebih masuk akal adalah dengan Changi (SIN) di Singapore, Suvarnabhumi (BKK) di Bangkok, KLIA (KUL) di Kuala Lumpur, dan bahkan Tan Son Nhat (SGN) di Ho Chi Minh.

Mari kita lihat satu per satu. Memang, CGK pernah menduduki peringkat ke-delapan sebagai bandara tersibuk di dunia. Tapi itu karena kita adalah negara dengan kondisi geografis yang luas dan berbentuk kepulauan, sehingga banyak penerbangan domestik hilir-mudik dari dan ke CGK.

Namun, secara sirkulasi penerbangan internasional, kita berada jauh di bawah bandara-bandara hebat tetangga. Penerbangan, merupakan sebuah indikasi mobilitas dan dinamika suatu kota. Jadi, apakah Bandara Soekarno-Hatta sehebat itu?

Airbus A380, sebagai pesawat komersil terbesar di dunia, mengharuskan bandara tempat mereka mendarat dan terbang memiliki spesifikasi khusus seperti landasan pacu dan terminal dua tingkat. Dan Emirates, sebagai operator terbesar A380 belum bisa menerbangkan pesawat jumbo itu ke CGK. Padahal, pihak Emirates sangat menunggu kesempatan itu.

Penulis jadi ingat, dulu (ketika masih jadi wartawan di korporasi media terbesar di Asia Tenggara), pernah meliput Terminal 3 Ultimate CGK yang digadang-gadang akan mengalahkan Changi. Pertanyaannya sederhana, bagaimana bisa sebuah terminal di dalam bandar udara internasional, dapat mengalahkan bandara internasional itu sendiri?

Ketika itu (penulis merupakan salah satu orang pertama yang berkesempatan menginjakkan kaki di Terminal 3 Ultimate), penulis bertanya kepada Budi Karya Sumadi, yang dulu masih menjabat sebagai Direktur Utama Angkasa Pura II.

Penulis bertanya, “apa mungkin terminal ini bisa mengalahkan Changi?”. Ia pun menjawab, kurang lebih seperti ini, “ya kita kan harus punya pencitraan. Kita harus buat masyarakat Indonesia bangga dengan terminal baru ini.”

Tidak ada salahnya memang untuk bercitra. Tetapi, juga tidak ada salahnya bukan membuka ruang untuk terus berinovasi, dan tidak berhenti berinovasi hanya karena omongan manis dan menyenangkan?

Berikutnya, penulis singgung masalah Emirates A380. Budi bilang, saat ini (ketika itu), memang sedang ada penjajakan kalau Emirates A380 akan terbang ke CGK. Tapi, hingga sekarang hal tersebut belum terealisasi. Padahal, Emirates A380 sudah terbang ke KLIA, bahkan menerbangkan A380nya 2 atau 3 kali ke Changi dan Suvarnabhumi setiap hari. Sementara itu, Emirates masih menerbangkan Boeing 777-300ER ke CGK (bukan berarti pesawat ini jelek).

Pesawat tersebut adalah pesawat sama yang diterbangkan Emirates ke Ho Chi Minh di Vietnam, Addis Ababa di Ethiopia, Kalkuta di India, dan bahkan Kathmandu di Nepal. Tak apa, mungkin memang kelas CGK masih di situ. Meski demikian, jangan khawatir, Qatar Airways sudah menerbangkan Boeing 787-8/9 Dreamliner ke CGK. Juga ke Ho Chi Minh, Kuala Lumpur, dan Denpasar.

Berbicara masalah bandara utama di suatu negara, tak adil rasanya jika tak berbicara maskapai utama suatu negara. Sebagai contoh, Terminal 3 Ultimate CGK, secara otomatis dikuasai Garuda Indonesia.

Garuda Indonesia adalah maskapai yang paling sedikit rute internasionalnya jika dibandingkan dengan Singapore Airlines, Thai Airways, Malaysia Airlines, atau bahkan Vietnam Airlines.

Penulis tunjukkan dua maskapai saja sebagai contoh. Singapore Airlines terbang dari Changi ke beberapa tujuan seperti Moscow, Milan, Copenhagen, Dubai, Auckland, Paris, Munich, bahkan yang terbaru New York dan Seattle. Berikutnya Vietnam Airlines. Maskapai ini terbang ke Paris, Frankfurt, Taipei, Fukuoka, dan bahkan Jakarta (Garuda Indonesia tidak punya rute ke Ho Chi Minh).

Sekarang mari kita bandingkan dengan Garuda Indonesia yang terbang ke destinasi-destinasi yang sederhana dan sudah dimiliki oleh ke-empat maskapai di atas seperti Hongkong, Beijing, Shanghai, Tokyo, Jeddah (karena banyak Jemaah haji, umroh, dan TKI dari Indonesia), Seoul, dan yang terjauh, yang bisa sedikit dibanggakan adalah Amsterdam dan London.

Lanjut ke maskapai asing yang terbang ke bandara di Asia Tenggara. Kalau tadi contohnya dari Singapore dan Vietnam, kini contohnya adalah KLIA di Kuala Lumpur dan Suvarnabhumi di Bangkok.

Kuala Lumpur, beberapa maskapai asing terbang ke sini seperti British Airways dari London,  Air Astana dari Almaty, Air Mauritius dari Mauritius, Iraqi Airways dari Baghdad, Mahan Air dari Teheran, KLM dari Amsterdam, bahkan maskapai yang kurang terkenal seperti Condor dari Frankfurt.

Berikutnya lanjut ke Suvarnabhumi atau BKK. Ini merupakan bandara yang paling top dari segi dinamika penerbangan internasional di Asia Tenggara. Beberapa maskapai yang asing yang terbang ke sini adalah Aeroflot dari Moscow,  Air France dari Paris, Air Italy dari Milan, Arkia dari Tel Aviv, Kenya Airways dari Nairobi, Finnair dari Helsinki, Gulf Air dari Bahrain, Qantas dari Sydney, dan bahkan maskapai tidak populer seperti Air Austral dari Saint-Denis de la Reunion, Druk Air dari Bagdogra, dan MIAT Mongolian Airlines dari Ulaanbaatar.

Sekarang mari kita lihat maskapai asing yang terbang ke CGK. Lagi-lagi maskapai yang dipastikan juga terbang ke Singapore, Kuala Lumpur, Bangkok, dan Ho Chi Minh. Misalnya Korean Air dari Seoul, Etihad dari Abu Dhabi, Japan Airlines dari Tokyo, Saudia dari Jeddah (karena banyak Jemaah haji, umroh, dan TKI dari Indonesia), Eva Air dari Taipei, dan ya, paling KLM dari Amsterdam (itupun harus transit dulu di Kuala Lumpur).

Ada faktor-faktor lain yang bisa disebutkan (tidak sekarang). Perlu ditekankan, tulisan ini dibuat bukan untuk menjatuhkan. Tapi untuk mengingatkan, marilah kita sama-sama melek dan realistis dengan kondisi yang ada. Penulis pun pelanggan setia maskapai nasional Indonesia. Secara pelayanan memang luar biasa. Hanya saja, masih banyak ruang berinovasi bagi kita untuk kemudian direnovasi. Supaya kita menjadi bangsa yang tidak termakan pencitraan.

Saya rasa, Anda yang pernah ke SIN, BKK, KUL, dan SGN pasti akan mengangguk yakin. Kalau tidak, silahkan sanggah tulisan saya. (WeBe)

 

Foto: Pegipegi.com

 

Rekomendasi

Baca Juga