News Bagaimana Media Sosial Merubah Pola Bisnis

Bagaimana Media Sosial Merubah Pola Bisnis

Sisiusaha (21/11)            

Kehadiran media sosial bukan hanya merubah pola komunikasi manusia jaman sekarang. Media sosial juga turut merubah pola bisnis. Entitas baru ini mampu mendobrak nilai-nilai sosial-ekonomi yang telah dibentuk selama puluhan bahkan ratusan tahun.            

Facebook (sejak 2004), Instagram (sejak 2010), Twitter (sejak 2006), Pinterest (sejak 2010), Youtube (sejak 2005), dan LinkedIn (sejak 2002) merupakan beberapa platform media sosial yang populer digunakan masyarakat di dunia. Setidaknya tiga dari enam platform tersebut tersedia di ponsel pintar seseorang.            

Melalui artikel resminya, David Eccles School of Business, memaparkan, jika dahulu informasi terkait suatu produk atau jasa bersifat satu arah, dengan hadirnya media sosial, kini informasi tersebut bergerak dua arah. Seseorang mampu memberi atau menerima informasi barang dan jasa secara silih berganti. Hebatnya, interaksi tersebut bisa disaksikan banyak orang.            

Individu kelahiran 1978-1994 (usia 24 hingga 40 tahun) adalah generasi pertama yang menggunakan internet. Kelompok usia ini dapat memperoleh informasi hanya melalui sentuhan jarinya dan punya kebebasan penuh untuk mengontrol informasi yang mau mereka konsumsi. Oleh sebab itu, mereka cenderung meninggalkan bentuk pemasaran lewat televisi dan telepon.            

Pebisnis diharapkan mampu mengantisipasi dan beradaptasi dengan cepat terhadap fenomena di atas. Pasalnya, kelompok usia ini diprediksi akan tumbuh lebih banyak ketimbang kelompok usia sebelumnya, yang biasa disebut generasi baby boomer – yakni mereka yang lahir setelah Perang Dunia kedua.            

Sementara itu, Rollingout mengemas perubahan tersebut dengan tiga faktor. Pertama adalah citra personal. Semenjak menjamurnya media sosial, banyak perusahaan-perusahaan bekerjasama dengan individu untuk mendapatkan citra baik. Perusahaan rela membayar mahal agar seorang individu yang populer di media sosial dapat merubah citranya seperti yang diinginkan sebuah perusahaan. Hal ini biasa dikenal dengan istilah endorsement, kolaborasi, dan sponsorship.            

Kedua adalah keterbukaan informasi. Sebelum adanya sosial media, konsumen diharuskan meninggalkan nomor telepon jika ada keluhan atau pertanyaan. Kini, sebuah dialog mengenai produk barang atau jasa dapat dilakukan konsumen dan perusahaan di ruang publik. Cukup dengan kepemilikan akun media sosial, seseorang bisa berkomunikasi dua arah dengan perusahaan dan mendapat balasan hanya dalam hitungan menit. Hebatnya, lagi-lagi, percakapan tersebut bisa turut disaksikan orang lain. Hasilnya pun dapat disebarluaskan dalam hitungan detik dan dapat menjangkau lebih banyak orang di luar pihak terkait.

Terakhir adalah kampanye yang lebih baik. Jika dulu perusahaan berebut memasang iklan untuk menjual produknya, kini sudah bergeser. Banyak perusahaan populer tidak lagi berfokus pada “menjual” dalam aktivitasnya di media sosial. Mereka banyak menonjolkan faktor “menggugah”. Artinya, perusahaan-perusahaan ini tidak lagi mengganggu ranah publik dengan materi promosi iklan yang bising dan sensasional.

Mereka bermain lebih halus. Ketimbang langsung menjual produknya, mereka lebih dulu ingin membuat konsumennya merasa nyaman ketika melihat produk yang dijajakan. Sebagai contoh, dengan membuat konten tentang kultur kerja, kebiasaan pegawai, dan kepribadian suatu perusahaan.

We Are Social dan Hootsuite mempublikasikan laporan tahunan terkait penggunaan media sosial. Tahun ini setidaknya ada 3 milyar orang sebagai pengguna media sosial, dengan kenaikan 13 persen dari tahun sebelumnya. 2,17  milyar diantaranya memiliki akun Facebook.

Indonesia sendiri, berdasarkan laporan tersebut, menduduki peringkat keempat sebagai pengguna akun Facebook terbanyak di dunia dengan 130 juta pengguna. Menjadikan Indonesia sebagai pengguna Facebook terbanyak di Asia Tenggara. Jumlah tersebut diprediksi akan meningkat drastis, seiring dengan naiknya distribusi penjualan ponsel cerdas dan mudahnya akses ke internet. (WeBe)

Rekomendasi

Baca Juga