News Dibalik Kemenangan Donald Trump dalam Pilpres AS 2016

Dibalik Kemenangan Donald Trump dalam Pilpres AS 2016

Sisiusaha (14/11)            

Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2016 masih terus menarik dibicarakan meski telah terjadi dua tahun lalu. Kedua calon, yaitu Hillary Clinton dari Partai Demokrat dan Donald Trump dari Partai Republik memiliki banyak kontoversi. Sama-sama kita ketahui pula, Donald Trump akhirnya memenangkan Pemilu tersebut dengan selisih tipis.            

Tentunya mereka tidak bekerja sendiri. Banyak tim ahli di belakang mereka dengan kemampuan akademis yang berbeda-beda. Salah satunya adalah Cambridge Analytica; sebuah agensi yang fokus pada pengolahan big data dan berperan besar dalam kemenangan Donald Trump.            

Melalui situsnya, Cambridge Analytica yang biasa disingkat CA menjelaskan, perusahaan ini didirikan di Inggris melalui SCL Group yang dimiliki oleh milyarder bernama Robert Mercer. Mereka mempunyai dua divisi yakni divisi komersil dan divisi politik.            

CA bekerja dengan cara menggunakan data untuk merubah perilaku audiensnya. Mereka mengombinasikan analisis data, ilmu perilaku manusia, dan strategi pemasaran digital untuk mencapai tujuannya. CEO Cambridge Analytica Alexander Nix melalui CBS News, menyatakan, perusahaannya memiliki lima juta data untuk membaca perilaku seseorang, untuk kemudian merumuskan sebuah pesan guna merubah perilaku seseorang itu sesuai dengan tujuan kampanye.            

Namun sayang, kiprah CA pun turut menuai kontroversi saat mantan pegawainya membocorkan rahasia perusahaan. CA belakangan diketahui mencuri lima puluh juta data dari Facebook tanpa otorisasi pihak terkait. CA pun diduga menerima bayaran sejumlah 5.9 Juta US Dollar dari tim Donald Trump untuk melancarkan aksi ini.            

Christopher Wylie, mantan pegawai CA yang membocorkan rahasia tersebut mengaku, data yang diperoleh ini kemudian diolah untuk memprediksi afiliasi politik seseorang yang tercermin lewat kepribadiannya di media sosial, khususnya Facebook.            

Setelah kejadian tersebut, CA mengumumkan penutupan perusahaannya. Tetapi, seperti dilansir NBC News, setidaknya masih ada empat mantan pegawai CA yang kini telah dipekerjakan tim kampanye Donald Trump untuk memenangkan Pemilihan Presiden Amerika Serikat tahun 2020.            

CA, selain terkenal akibat kiprahnya di atas, juga diketahui menyukseskan kampanye Inggris Raya untuk keluar dari Uni Eropa atau yang biasa disebut Brexit. Secara terang-terangan, mereka mengajak audiensnya untuk bergabung. Salah satunya dengan menyampaikan pesan, jika Inggris Raya bisa lepas dari Uni Eropa, maka mereka bisa mendapatkan kedaulatannya kembali. Sampai dengan artikel ini dibuat, setidaknya ada 88 ribu anggota. (WeBe)

 

Foto: CNBC.com

Rekomendasi

Baca Juga