News Perempuan Berpolitik

Perempuan Berpolitik

Sisiusaha (12/11)            

Perempuan harus mulai berani terlibat aktif dalam kancah politik Indonesia. “Perempuan masa kini sudah mampu mengimbangi dominasi laki-laki di dunia politik. Jadi, perempuan jangan cuma sebagai pemenuhan kuota Caleg, tetapi harus bisa berperan dalam pembentukan kebijakan.” Ucap Anne Yuniarti.            

Melalui Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI), Anne Yuniarti rajin memberikan penyuluhan kepada kader-kader partai perempuan. Sebagai contoh, baru-baru ini KPPI mengadakan seminar lintas partai dan berfokus pada pendidikan kampanye serta teknik penghitungan suara.            

“Pada dasarnya, kami tidak ingin sejajar atau bahkan membawahi laki-laki. Kami hanya ingin, hak politik kami dapat digunakan sebaik mungkin. Selain mampu, ada faktor-faktor psikis yang perempuan miliki dan bisa dimaksimalkan untuk kepentingan rakyat banyak.            

Melalui gerakan tersebut, Anne mengaku, semakin banyak perempuan yang kini terjun ke dunia politik. Beberapa diantaranya bekerja sebagai karyawan swasta, guru, dan praktisi hukum. Menurut Anne, sebelum diberikan penyuluhan, banyak dari mereka beranggapan bahwa politik itu kotor, kejam, dan serba negatif.            

“Tapi syukur, setelah diberi pemahaman, sekarang mereka menganggap politik itu asyik dan seru. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, baik itu ibu rumah tangga atau pekerja, mereka lanjut berkumpul dengan afiliasi politiknya.” Jelas Anne.            

Meski demikian, hal tersebut bukannya tanpa rintangan. Anne menjelaskan, ada beberapa perempuan yang ingin berpolitik tapi tidak diizinkan suaminya. Sekalinya ada yang diizinkan, ternyata mereka tidak bisa meninggalkan anaknya di rumah.            

Peraturan keterlibatan perempuan berpolitik dituangkan dalam Pasal 55 ayat (2) UU No. 10 Tahun 2008. Aturan ini bertujuan untuk menghindari dominasi salah satu jenis kelamin dalam lembaga politik. (WeBe)

Rekomendasi

Baca Juga