Opini Plus Minus Cara Bupati Tasikmalaya UU Kejar Elektabilitas Lewat Acara Inbox SCTV di Samping Masjid

Plus Minus Cara Bupati Tasikmalaya UU Kejar Elektabilitas Lewat Acara Inbox SCTV di Samping Masjid

sisiusaha (21/8)

creative people.. Acara Inbox SCTV yang digelar persis di samping halaman Masjid kompleks Pemerintahan Pemda Tasikmalaya, sabtu (19/8) lalu menuai pro-kontra ditengah masyarakat. Acara tersebut dinilai hanya cara Bupati Tasikmalaya UU untuk mengejar elektabilitas di Pilgub Jabar 2018.

Ormas dan Kepemudaan yang terdiri dari BKPRMI, GAZA, KPAB, SWAP, Mujahdin, FPI, PPM, dan AMS Kabupaten dan Kota Tasikmalaya itu, merasa resah dengan panggung Inbox SCTV yang akan berlangsung Sabtu Minggu itu, mengingat lokasinya berada di samping masjid Agung yang tak begitu jauh dari Kantor Bupati Tasikmalaya.

Puluhan massa yang terdiri dari Ormas Islam dan Kepemudaan mendatangi Polres Kabupaten Tasikmalaya. Mereka menuntut agar artis pengisi acara Inbox SCTV tidak melakukan penistaan terhadap rumah ibadah, Jumat (18/8/2017) sore.

Rombongan aksi yang di koordinatori oleh H.Aas Hasbuna Ketua Umum DPP Gaza Indonesia, diterima oleh Kasat Intel Polres Kabupaten Tasikmalaya AKP Nurani yang didampingi Kasat Pol PP Kab.Tasikmalaya H.M.Ghozali, dan pihak EO Inbox SCTV Dadi Abdi Garda.

H.Aas telah menyampaikan permintaan agar acara Inbox SCTV menampilkan artis-artis nya berpakaian sopan dan santun, mengingat acara itu posisinya disamping tempat suci Masjid Agung.

"Kita berharap panitia Inbox harus berkomitmen agar seluruh artis yang tampil termasuk hostnya berpakaian sopan tidak memperlihatkan aurat dimuka umum, apalagi ini lokasinya dekat dengan Masjid Agung Kabupaten Tasikmalaya," tambah pengurus Ormas Islam Al Mumtaz Tasikmalaya.

Sementara Kasat Intel Polres Kabupaten Tasikmalaya, AKP Nurani menjelaskan, bahwa kegiatan ini yang menyelenggarakan acara Inbox SCTV ini adalah Pemkab Tasikmalaya. Menurutnya perijinan ijin keramaian sudah ditempuh, bahkan sebetulnya ijin ini tarik ulur, bahkan mepet apalagi MoU nya pun tertuang kerjasama antara Pemkab dengan SCTV sendiri.

"Apalagi ijin acara tersebut turunnya dari Polda, pihak Polres hanya mengeluarkan rekomendasi, yang jelas artis dan penyelenggara harus memahami kearifan lokal," pungkasnya.

Banyak warga Tasikmalaya sendiri yang merasa kecewa dengan acara ini, mengingat Tasikmalaya sebagai kota yang menyandang julukan kota santri dan religius, justru membuat acara yang sama sekali tidak ada hubungan secara Islami di lokasi pelataran masjid.

Apalagi mengetahui bahwa Bupati UU sendiri yang memprakarsai acaranya, mengingat sang Bupati ingin bertarung di Pilgub Jabar 2018, salah satu cara agar populer adalah dengan membuat sesuatu yang dapat mendongkrak elektabilitasnya untuk maju di Pilgub Jabar 2018.

Pengamat Politik asal Tasik Asep M, seperti yang dilansir hallojabar.com mengatakan, acara Inbox di Tasikmalaya yang digelar di samping Masjid Agung, tentunya bakal ada yang diuntungkan. Namun tidak sedikit yang dirugikan. "secara politis cukup mampu mendongkrak. Dari dimensi lain, itu yang tengah banyak dibincangkan di medsos," ucap Asep.

Dosen UIN Bandung Dpk IAIC Cipasung ini juga menilai komentar terkait inbox itu memang sangat menyedot perhatian. "Sensasinya dalam urusan tempat. Berada di celah yang meramaikan opini. Secara politik, ini kemenangan. Pro kontranya mungkin hanya letupan yang dirasa bagai cubitan, tidak sampai tamparan atau bantingan yang menjatuhkan. Jika sampai menjatuhkan, berarti kalkulasi politik yang salah," ujarnya.

 

Menurut M Abduh Baraba, CEO sisiusaha network, sah-sah saja seorang politikus berkreasi membuat acara musik agar elektabilitas naik, namun perlu dilihat efek yang timbul kemudian. Di zaman ini masyarakat sudah tidak lagi menggunakan emosionalnya, bukan hal-hal yang bersifat keramaian dan kehebohan acara yang dinilai, akan tetapi lebih kepada substansi.

Geopolitik sudah berubah, pencitraan dan ketokohan tidak lagi menarik untuk dijual. Beberapa kasus kegagalan politikus justru menjelaskan situasinya, semakin memberikan jawaban bahwa bukan lagi kepopuleran, tapi lebih kepada keberpihakan nyata politikus terhadap keinginan masyarakat secara jelas.

Sebagai contoh, Abduh mengatakan, "lihat saja kurang populer bagaimana Ahok, akan tetapi ketika dirasa tidak mewakili sebagian besar masyarakat pemilihnya di DKI Jakarta, maka tumbang juga. Begitu pula Ridwan kamil, sungguh populer namanya, namun ketika memilih diusung oleh Nasdem, seketika pamor dan elektabilitas di ajang Pilgub Jabar menurun drastis".

"Maka berhati-hatilah bagi politikus dalam berkreasi untuk menaikkan pamor serta elektabilitas. Jangan mencari gebrakan sesaat, apalagi kontroversial hanya untuk mencari ketenaran, ingat Anda bukan artis sebagai penghibur, namun Anda adalah calon pemimpin masyarakat yang diharapkan dapat berlaku dewasa, bijak, cerdas, agamis, pengayom, dan yang terpenting menjadi pendengar yang baik bagi suara rakyatnya," tutup Abduh. (RED)

 

Rekomendasi

Baca Juga