Opini Waspada Depresi Kuliah di Luar Negeri

Waspada Depresi Kuliah di Luar Negeri

sisiusaha (13/8)

creative people.. Memiliki kesempatan belajar atau sekolah ke luar negeri adalah sesuatu impian bagi sebagian besar pelajar, selain mendapat ilmu yang bermanfaat, juga mendapat gelar prestisius. Memang dibutuhkan biaya yang cukup besar, atau mendapat beasiswa. Namun mental juga harus disiapkan, tidak sedikit yang mengalami depresi ketika kuliah di luar negeri, jadi sebaiknya waspada dan lebih hati-hati sebelum memutuskan.

Kalau baca cerita dan lihat foto-foto pelajar Indonesia di luar negeri tampaknya belajar di luar negeri itu sangat asyik. Bisa jalan- jalan ke tempat-tempat cantik dan belajar di universitas ternama. Di balik cerita dan foto wah itu sebetulnya ada cerita yang sangat jarang diungkap. Tentang perjuangan berat baik itu di sisi akademis dan kehiduan pribadi sehari-hari.

Seperti diceritakan Endri, seorang lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran yang berkarir di bidang kesehatan masyarakat yang juga telah menyelesaikan S2 di Lund Unviersity, Swedia pada program Master in Public Health. Bagi Endri masa 2 tahun di Swedia tidak ada yang membuat depresi. Faktor penyebab depresi semuanya dari luar akademis dan kehidupan di Swedia. Ini berdasar pengalaman banyak pelajar Indonesia di luar negeri yang berbagi cerita kepadanya.

1. Cultural clash
Pada awalnya segala sesuatu di tempat baru di luar negeri berasa indah. Jalanan yang bersih tertata. Bangunan-bangunan gedung yang menarik. Alam yang cantik. Pokoknya kesan pertama selalu baik.

Lama kelamaan saat mulai beradaptasi mulai merasakan adanya ketidakcocokan dengan situasi baru. Di Swedia misalnya, bisa merasa sangat kesepian karena orang Swedia tidak suka mengobrol dengan orang asing. Di Swedia mengetuk pintu apartemen sebelah untuk memperkenalkan diri saja dianggap sangat aneh. Teman sekelas hanya teman saat di kampus, setelah jam belajar selesai semuanya pulang ke rumah masing-masing dan tidak ada apa-apa lagi.

Di Swedia, malam itu sepi, tidak seperti di Asia. Pukul 7 sebagian besar orang berada di rumah, bukan nongkrong di mall. Sebagian ada juga di bar. Hari Minggu tidak jauh berbeda. Jadwal bis malah semakin jarang. Jika menggunakan beasiswa, seperti kata Endri dulu, mungkin harus berhemat dengan masak tiap hari. Kalaupun mau makan diluar, susah menemukan rumah makan (yang terjangkau) di malam hari. Makin membuat kesepian.

Meskipun setiap negara (atau bahkan kota) berbeda, tetapi selalu ada budaya yang tidak cocok bagi orang Indonesia. Ketidakcocokan ini bisa membuat homesick. Atau bahkan menimbulkan depresi. Ada begitu banyak hal yang biasa dilakukan di Indonesia kini tidak bisa lagi. Ada begitu banyak kemudahan di Indonesia kini menjadi sulit di luar negeri.

2. sistem pendidikan
Masuk di universitas ternama bukan berarti menjadi pintar dan hebat seketika. Masuk di universitas ternama artinya satu: kerja keras. Karena universitas ternama punya tuntutan yang tinggi terhadap para siswa nya. Ditambah lagi sistem pendidikan yang sangat berbeda dengan di Indonesia. Kuliah di luar negeri tidak banyak kuliah. Lebih banyak diskusi dan tugas mandiri. Betul-betul harus mandiri.

Dosen tidak akan memberi tahu buku apa yang harus dibaca. Mahasiswa punya kebebasan. Tapi justru dari kebebasan ini yang sering membuat pelajar Indonesia menjadi stress karena saat di Indonesia kuliah adalah mendengarkan dosen berbicara di depan dan mencatat. Di luar negeri berbeda. Mahasiswa yang bersuara, berdiskusi, berdebat. Menghadiri kuliah sama sekali tidak cukup. Ada ratusan jam di perpustakaan dan flat yang dihabiskan demi bisa lulus suatu mata kuliah. Tugas sebagian besar adalah essay. "Menulis essay ini jarang dilatih di Indonesia sehingga banyak yang kelabakan karena ini termasuk saya," ungkap Endri.

Perbedaan sistem pendidikan ini pada akhirnya yang sering membuat pelajar jadi tertekan. Ditambah cultural clash diatas. Hasilnya kalau tidak mampu beradaptasi bisa membuat jatuh kedalam depresi.

3. Winter depression
Banyak dari pelajar Indonesia ingin melihat salju saat belajar di luar negeri. Semua ini tergambar dari banyak sekali foto-foto bersama salju yang diposting pelajar Indonesia. Bahkan dulu teman-teman Endri sampai mengadakans sesi foto bareng saat salju pertama muncul.

Tetapi musim dingin bukan hanya salju. Musim dingin juga gelap. di Swedia matahari muncul pukul 10 pagi dan sudah tenggelam sekitar pukul 3 sore. Berangkat kuliah gelap, pulang pun gelap. Di siang hari pun langit sering gelap berawan, tanpa matahari. Membosankan. Ga seperti yang pada umumnya diceritakan para lulusan luar negeri dan dibayangkan calon pelajar.

Musim dingin di negara belahan bumi utara dan selatan bisa menimbulkan gangguan jiwa. Teman Endri sendiri mengalaminya. Dia dari Uganda, negara tropis sama seperti Indonesia. Efeknya dia menjadi lemas, ga bergairah, murung. Sering bolos kuliah dan sering terlambat mengerjakan tugas. Setiap hari menunggu matahari muncul di balkon apartemen.

Terdengar konyol memang, kurang matahari. Seperti superman yang mendapat kekuatan dari sinar matahari ternyata manusia juga sama. Kondisi ini mempengaruhi semua orang, tidak hanya yang berasal dari negara tropis. Winter depression ini begitu umumnya sehingga tersedia semacam kapsul tidur untuk terapi cahaya matahari. Ada juga suplemen vitamin D yang sering dikonsumsi. Atau lampu yang bisa mensimulasikan cahaya matahari. "Teman saya begitu, dia beli banyak lampu untuk apartemen nya. Apartemen dia jauh lebih terang dari saya," terang Endri.

4. Kehilangan
Kehilangan sesuatu atau seseorang (putus cinta, anggota keluarga meninggal, meninggalkan keluarga di Indonesia) saat sedang belajar di luar negeri bisa sangat berpengaruh. Lebih dari jika sedang di Indonesia. Karena jauh dari orang-orang terdekat dan ada beban akademis yang juga harus dipikirkan. Pada siapa harus bercerita? Pulang tidak semudah itu. Perjalanan belasan hingga puluhan jam dengan tiket yang tidak murah. Walaupun ada video call, tetap saja tidak cukup.

Meskipun sebagai pelajar di luar negeri bisa lebih rentan terhadap depresi, tetapi untungnya universitas-universitas di luar negeri (terutama di negara maju) punya sistem untuk membantu pelajar.

Apa yang harus dilakukan ketika mengalami masalah saat belajar di luar negeri?

 

1. Teman internasional
Teman internasional, terutama yang berasal dari negara maju sudah lebih terbiasa dengan kesehatan jiwa. "Saya sendiri mendapat respon yang segera. Teman Uganda saya menggedor pintu tengah malam waktu saya hendak bunuh diri, atas perintah teman dari Swedia. Teman Swedia saya ga berhenti disitu, dia menghubungi polisi setempat. Saat pada akhirnya semua teman sekelas tahu, semuanya memberi dukungan positif, termasuk teman yang sebetulnya tidak dekat sekalipun," kata Endri. Jadi kalaupun ga deket ama teman internasional, coba bicara saja. Mereka peduli, dan tahu apa yang harus dilakukan.

Ga ada yang salah untuk bercerita ke teman-teman sesama Indonesia. Terutama kepada yang bisa kamu percaya. Sayangnya, kesehatan jiwa belum menjadi pembicaraan yang umum. Bisa jadi mereka bingung bagaimana harus merespon, karena sebelumnya belum tahu apapun soal kesehatan jiwa dan mungkin ini pertama kalinya mereka harus berhadapan dengan kesehatan jiwa.

"Pokoknya coba bicara, curhat. Berikan kesempatan kepada teman untuk mengerti dan membantu," ungkapnya. Mungkin beberapa (banyak) akan memberi respon yang tidak baik, yang membuat kamu makin terpuruk. Seperti "ini hanya ada di pikiran kamu", "cari perhatian", "kurang ibadah", dan lain-lain.

Tapi Endri cukup yakin akan ada seseorang yang pada akhirnya memberikan dukungan. Coba bicara juga dengan orang yang tidak terlalu dekat. Terkadang ada untungnya bicara dengan teman yang ga terlalu dekat. Mereka ga terlalu kenal, jadi ga akan membandingkan cerita dengan persepsi mereka sendiri. "Bagi mereka, kamu adalah kertas kosong. Begitupula mereka bagi kamu. Lagipula, semua orang pada awalnya tidak berteman bukan?," jelasnya.

"Kenapa saya menempatkan ini pada nomor 1? Karena kamu akan sangat butuh teman untuk menemani langkah kamu saat kamu berusaha lepas dari cengkeraman penyakit jiwa. Proses penyembuhan seringkali memakan waktu yang lama. Seorang teman bisa mengurangi beban kamu sehingga meskipun masih sangat berat tapi kamu akan sanggup menjalaninya." terang Endri.

2. Academic counselor
Di Swedia. Negara yang sangat mengagungkan kesimbangan kehidupan kerja dan pribadi/keluarga. Orang tua misalnya boleh ambil cuti saat anaknya sakit, tanpa ada surat dokter sekalipun.

Academic counselor Endri sangat peduli keadaan mahasiswa. Teman sekelasnya mendapatkan personal mentor (nya) untuk urusan akademik karena dia mencari pertolongan dari academic counselor untuk gangguan cemas yang dia alami.

Karena Endri sendiri lah mentor untuk temannya, maka dia tahu betul apa yang bisa diperoleh dari academic counselor. Temannya bertemu academic counselor secara rutin. "Saya pun dulu secara rutin berdiskusi dengan academic counselor tentang progress teman saya. Saya merasakan betul dedikasi academic counselor demi keberhasilan teman saya. Bukan hanya di dunia akademik, tetapi juga dalam kehidupan pribadi," ungkapnya.

3. Dosen
Teman Endri dulu sering mendapatkan kompensasi. Seperti deadline yang dimundurkan, kesempatan mengulang diluar jadwal (berkali-kali), dan bimbingan khusus. Seperti teman internasional, dosen di Swedia dulu sangat peduli mahasiswanya. Endri yakin mereka sudah sering mendapatkan mahasiswa berkebutuhan khusus. Kebetulan pula, Endri berada di kelas kecil. Satu angkatan hanya 35 orang, sehingga dosen hapal setiap orang. Beredar cerita dari sesama mahasiswa indonesia di Swedia kalau di jurusannya sampai disediakan penerjemah bahasa isyarat di mata kuliah yang padahal menggunakan banyak matematika demi mengakomodasi mahasiswa tuna rungu.

"Supervisor tesis saya tahu kalau saya depresi dan pernah mencoba bunuh diri. Hingga sekarang dia masih menghubungi saya, terutama kalau saya tidak ada kabar setelah beberapa lama. Walaupun dia sudah bukan supervisor saya lagi, tetapi Fredrik (nama supervisor saya) masih menolong saya untuk menerbitkan hasil penelitian saya, karena saya sempat menghilang saat saya depresi. Betul-betul menjalan peran sebagai pendamping," jelasnya.

Negara lain mungkin tidak seistimewa Swedia. Tidak ada salahnya dicoba. Tidak akan menyelesaikan masalah 100% memang. Tidak pula menghilangkan masalah kesehatan jiwa, tapi setidaknya beban dapat berkurang.

4. Klinik
Jika kampus menyediakan klinik, pergilah ke klinik. Coba cari tahu apakah klinik ini menyediakan konseling kesehatan jiwa. Kampus- kampus di negara maju sudah biasa menerima siswa yang membutuhkan konseling. "Jangan terkejut ketika tahu banyak mahasiswa yang menggunakan layanan konseling kampus. Masalah kesehatan jiwa memang sangat besar. Apalagi di kelompok umur remaja dan dewasa muda," lanjut Endri.

Sisi negatifnya dari kinik ini adalah karena banyak pengunjungnya, maka akan kesulitan untuk membuat janji. Harus antre. Padahal saat mengalami gangguan jiwa, perlu bantuan segera.

5. Profesional diluar kampus
Cara paling cepat adalah menemui profesional diluar kampus. Apalagi kalau klinik di kampus harus antri. Kendalanya bisa jadi harus bayar, tergantung skema asuransi yang dimiliki. Kalau Endri dulu di Swedia punya asuransi kesehatan yang sama dengan warga Swedia karena dia kuliah lebih dari 10 bulan. Ada batas atas pengeluaran untuk kesehatan. Kalau tidak salah sekitar 2 juta rupiah per tahunnya. Setelah 2 juta, seluruh biaya adalah gratis.

Asuransi kesehatan untuk pelajar di tiap negara bervariasi antar negara, dan mungkin juga antar universitas dan masa studi. Jadi coba dipelajari apa saja yang tercakup dalam asuransinya.

Penting untuk diingat, tidak cukup sekali atau dua kali saja untuk menemui profesional ini. Bisa juga mencari saran dari academic counselor universitas. Penting juga untuk ada teman yang mau menemani, jangan sampai sendirian.

6. Suicide hotline
Endri pernah melakukannya di Swedia. "Saya langsung dibawa ke unit gawat darurat psikiatri di rumah sakit. Negara maju umumnya (jika tidak semua) punya suicide hotline, baik itu yang disediakan negara ataupun LSM. "Kamu akan tetap anonim. Semua laporan pikiran bunuh diri akan ditindaklanjuti dengan serius," tutupnya. (RED)

 

sumber: Blog catatan Endri, http://liquidkermit.net/

Rekomendasi

Baca Juga