Opini Jadi Buruh di Pabrik Sendiri

Jadi Buruh di Pabrik Sendiri

sisiusaha (03/8)

creative people.. Banyak cerita sukses seseorang yang awalnya sebagai buruh, dengan kemauan keras di tambah ketekunan serta rajin belajar, lama lama memiliki pabrik sendiri. Tapi ada pula seseorang yang memiliki pabrik, namun akhirnya justru menjadi buruh di pabriknya sendiri.

Kisah ini banyak terjadi dikalangan industri kecil menengah seperti di daerah sentra industri tekstil Majalaya dengan kebanyakan produksi sarung, Tasikmalaya memproduksi bordir, maupun di Solo dan Pekalongan Jawa tengah yang memproduksi tekstil berupa batik print.

Banyak faktor yang membuat kondisi pabrik menjadi dilema, antara terus berjuang dengan identitas produknya sendiri atau pasrah dan memilih menyewakan produksi pabriknya kepada pedagang besar yang awalnya adalah sebagai pelanggan hasil produknya.

Sebagai seorang pengusaha, memiliki brand dan identitas sendiri pada produknya merupakan hal penting dalam persaingan pasar, sehingga akan menjadi lebih mudah dikenal konsumen. Harapannya adalah saat konsumen merasa puas dengan hasil produknya, bisa menjadi sarana promosi kepada konsumen lainnya.

Namun hal ini tidak mudah, karena kebanyakan pengusaha yang memiliki brand sendiri dan juga diproduksi oleh pabriknya sendiri memasarkan hasil produksinya kepada pedagang besar yang memiliki jaringan distribusi serta positioning yang cukup kuat, sehingga ketergantungan produsen sangat tinggi terhadap para pedagang.

Pilihan lainnya adalah membuat jaringan pemasaran serta distribusi sendiri, tetapi untuk ini sangat dibutuhkan sumber dana yang cukup besar dan resiko yang lumayan tinggi.

Saat awal menawarkan produk kepada pedagang besar dengan memakai brand sendiri sih aman-aman saja, akan tetapi apabila ternyata produk laku dipasaran, justru menimbulkan masalah baru. Pedagang besar biasanya mengambil peluang ini untuk mencoba memproduksi menggunakan label atau brandnya sendiri. Pedagang umumnya tidak memiliki pabrik, tapi mereka mampu menyewa pabrik sekaligus produksinya.

Pola yang sering dilakukan oleh pedagang besar ini adalah menyetop dulu order produk jadi, berikutnya menawarkan kerja sama produksi atau biasa juga disebut maklun. Dengan cara ini pedagang besar meyediakan semua kebutuhan industri dari mulai bahan baku hingga ongkos produksi.

Tentunya harga yang didapat oleh pedagang besar menjadi lebih murah, semua bisa di takar, dari mulai bahan baku, ongkos tenaga kerja hingga margin keuntungan pemilik pabrik mudah diatur oleh si pedagang besar ini.

Sampai dititik ini para pemilik pabrik memiliki pilihan yang sulit, yaitu ketidakmampuan menjual hasil produksinya sendiri yang menggunakan label atau brand sendiri sehingga kapasitas produksi menurun dan dapat berujung dengan penutupan baprik, atau menerima tawaran pedagang besar untuk tetap berproduksi namun semua diatur dan dikendalikan.

Biasanya para pemilik pabrik memilih untuk tetap berproduksi walaupun kenyataannya keuntungan yang didapat sudah jauh berkurang. Tidak hanya itu, tapi ketergantungan pemilik pabrik terhadap pedagang besar pun semakin tinggi.

Hal ini akan membuat pengusaha pemilik pabrik hanya menjadi buruh atau setidaknya jabatan supervisor produksi di pabriknya sendiri, dari mulai kreatifitas menciptakan model sendiri hingga menentukan harga jual sudah tidak lagi dimiliki. Semua sesuai dengan pesanan pedagang besar yang secara tidak langsung telah menguasai pabriknya dan menjadi bos di pabriknya sendiri.

Fenomena ini banyak sekali terjadi, banyak faktor yang menyebabkannya. Kemampuan finansial hingga jaringan pemasaran adalah hal yang berpengaruh dalam industri ini. Apalagi pola pikir kapitalisme dan keserakahan para pedagang besar di terapkan, selesai deh urusannya.

Untuk itulah, para pengusaha pemilik pabrik harus lebih berhati hati dan jangan hanya memusatkan penjualan kepada satu atau dua pedagang besar. Ini hanya mudah dan menguntungkan di awal namun menjadi sulit dikemudian hari. Jangan sampai bersusah payah membangun pabrik yang akhirnya hanya akan menjadi buruh di pabrik sendiri. (M Abduh Baraba)

Rekomendasi

Baca Juga